Penyertaan Tuhan dan Kuasa Puji-Pujian

Ayat bacaan: Hakim Hakim 7:11
=============================
“..engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu.” (“..your hands shall be strengthened to go down against the camp.”)

Membaca kisah-kisah penyertaan Tuhan yang mampu menjungkirbalikkan logika dan prediksi memang selalu memberi kekuatan. Hari ini saya diingatkan pada sebuah kisah yang bercerita tentang periode tertentu dalam sejarah bangsa Israel ketika mereka tengah ditindas oleh suku Midian dan sekutunya Amalek sekaligus. Orang-orang Midian dan Amalek dikatakan menghancurkan ternak dan tanaman mereka terus menerus sehingga mereka hidup melarat dan hanya mampu bersembunyi di balik gunung-gunung maupun gua-gua. (Hakim Hakim 6:1-6). Tuhan lalu mengutus MalaikatNya untuk menemui Gideon, menyampaikan pada Gideon bahwa Tuhan memilih dirinya untuk mengalahkan orang Midian dan Amalek.(ay 11-12). Kita perlu ketahui bahwa Gideon bukanlah seorang panglima perang yang gagah berani. Dia bahkan bukan seorang pemimpin. Gideon justru disebutkan hanyalah seorang yang paling muda dari suku yang paling kecil diantara suku-suku yang ada. (ay 15). Dengan serangkaian tanda dari Tuhan, singkat kata kita bisa mengetahui bahwa Gideon akhirnya tidak ragu lagi dan percaya penuh bahwa dirinya memang diutus Tuhan untuk mengalahkan Midian dan Amalek. (ay 17-40).

Layaknya pasukan yang akan berperang, tibalah saatnya untuk mempelajari peta kekuatan lawan. Alkitab mencatat: “Adapun orang Midian dan orang Amalek dan semua orang dari sebelah timur itu bergelimpangan di lembah itu, seperti belalang banyaknya (like locusts for multitude), dan unta mereka tidak terhitung, seperti pasir di tepi laut banyaknya.(as the sand on the seashore for multitude)” (Hakim Hakim 7:12). Itu jelas jumlah yang terlalu gila dan mustahil untuk ditaklukkan. Jumlah pasukan yang dikumpulkan Gideon berjumlah 32.000 orang, dan itu sebenarnya masih terlalu sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pasukan Midian dan Amalek. Tapi Tuhan malah berseru bahwa itu masih terlalu banyak. Tuhan tidak membutuhkan jumlah pasukan yang besar, karena Dia ingin orang Israel tahu bahwa yang menyelamatkan mereka bukanlah kuat perkasa mereka, bukan tenaga, keahlian berperang, kelengkapan atau jumlah pasukan, melainkan tangan Tuhan. Dan Tuhan menekankan ini dengan sangat jelas dalam ayat 2: “Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: “Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku.” Jumlah ini kemudian menyusut menjadi 10.000, tapi tetap jumlah ini masih dianggap Tuhan terlalu banyak. (ay 2-4). Dan melalui seleksi unik sesuai perintah Tuhan, jumlah akhir yang disetujui adalah 300.(ay 5-7) Gideon dan 300 pasukan, melawan pasukan sebegitu banyak seperti wabah belalang dan butiran pasir di pantai. Terdengar mustahil? Tapi itu faktanya, dan itulah yang terjadi. Dengan tegas Tuhan meneguhkan Gideon dengan berkata :“..engkau akan mendapat keberanian untuk turun menyerbu perkemahan itu.”  (ay 11). Dalam versi Inggrisnya dikatakan: “..your hands shall be strengthened to go down against the camp.” Tanganmu akan dikuatkan untuk menyerbu perkemahan itu.Gideon taat karena ia tahu bahwa Tuhan ada bersama dirinya dan 300 pasukan yang dipimpinnya.

Pada malam hari Gideon dibangunkan Tuhan, dan diminta untuk masuk menyerbu perkemahan Midian dan Amalek. Gideon turun menuju perbatasan perkemahan musuh, dimana ia kemudian mendengar seorang prajurit bercerita pada temannya tentang sebuah penglihatan lewat mimpi. Penglihatan itu berbunyi bahwa ada sekeping roti yang terguling masuk ke perkemahan orang Midian dan menghancurkan kemah mereka sampai habis runtuh. (ay 13). Cerita ini tak pelak memperteguh semangat Gideon. Kemudian Gideon membagi pasukannya atas 3 bagian, dengan dilengkapi sangkakala dan buyung (tempayan) kosong. Nantinya dengan dipimpin oleh Gideon, mereka akan serempak meniup sangkakala sambil memecahkan tempayan-tempayan di tangan mereka, dan berseru “Pedang demi TUHAN dan demi Gideon!” (ay 18). Bukannya menyerang frontal atau menyergap, mereka justru berseru-seru dengan lantang sambil meniup sangkakala dan memecahkan tempayan-tempayan. Ternyata strategi mereka ini membuat pasukan-pasukan Amalek dan Midian panik, kacau balau dan melarikan diri. Hanya 300 melawan begitu banyak lawan, itu pekerjaan mustahil. Tapi Alkitab mencatat dengan jelas bahwa 300 pasukan pimpinan Gideon meraih kemenangan mutlak. Bukan jumlah atau kuat hebatnya kita, tapi kemenangan melawan kemustahilan seperti apapun bisa menjadi milik kita dengan adanya Tuhan dipihak kita.

Seperti Gideon, kita pun bisa menghadapi peperangan seperti itu dalam banyak bentuk berbeda setiap saat. Peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, melainkan melawan tipu muslihat iblis, melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Efesus 6:11-12). Tipu muslihat kuasa gelap akan terus berupaya mempengaruhi dan melemahkan kita. Bukan itu saja, kita pun terus melakukan peperangan dengan dosa-dosa kedagingan yang berasal dari dalam diri kita, menyerang kita lewat kelemahan, kekhawatiran dan keraguan kita (Roma 7:15-25). Jika kita hanya membiarkan diri kita diserang cepat atau lambat kita bisa kehilangan kekuatan dan semangat. Tapi lihatlah kisah Gideon, dan bagaimana Tuhan menyatakan kekuatanNya, dan apa yang terjadi jika Tuhan langsung turun tangan. Bahkan dalam kondisi yang kelihatannya tidak mungkin sekalipun, jika Tuhan menyertai, kita akan memukul kalah apapun yang ingin menghancurkan diri kita. Kuncinya adalah ketaatan dan penyerahan sepenuhnya pada kuasa Tuhan dalam menghadapi peperangan demi peperangan untuk memperoleh kemenangan demi kemenangan. Kemudian yang tak kalah penting, lihatlah bagaimana sangkakala dan puji-pujian bagi Tuhan mampu memporak-porandakan pertahanan musuh. Ada kuasa di atas pujian dan penyembahan, karena Tuhan bertahta di atas puji-pujian (Mazmur 22:4). Ketika kita menghadapi begitu banyak peperangan, jangan takut,jangan gentar, dan jangan putus asa, karena Tuhan kita adalah Tuhan yang ajaib!

Di tengah kecilnya kemungkinan menurut ukuran kemampuan manusia, Tuhan menunjukkan kekuatanNya untuk mengatasi peperangan seberat apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.