Penyamun (1)

Ayat bacaan: Yeremia 7:11
===================
“Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini? Kalau Aku, Akusendiri melihat semuanya, demikianlah firman TUHAN.”

Jika anda mendalami karya sastra klasik dalam negeri, anda tentu mengenal novel roman di tahun 30an karya Sutan Takdir Alisjahbana berjudul “Anak Perawan di Sarang Penyamun.” Karya ini terbukti tidak pernah lekang di telan jaman dan tetap dianggap sebagai sebuah tonggak sejarah dalam kesusastraan kita. Seperti apa rasanya ya kalau ada gadis terperangkap di tengah saran penyamun? Itu tentu bukan tempat favorit bagi siapapun dan pasti ingin kita hindari selama bisa. Alkitab beberapa kali menyebutkan kata sarang penyamun pula, yang ironisnya mengacu kepada sikap yang dimiliki bukan oleh orang asing, tetapi justru di kalangan orang-orang percaya sendiri.

Contoh nyata bisa kita lihat dalam Matius 21:12-17 dimana tercatat kemarahan Yesus ketika mendapati Bait Allah dipakai bagaikan pasar saja. Bukan cuma penjual dan pembeli, tetapi ada pula meja-meja penukar uang atau money changer disana. Itu tentu buruk sekali. Tidaklah heran kalau Yesus pun menjungkir balikkan meja-meja dan bangku para pedagang disana, “dan berkata kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Matius 21:13).

Ada fakta menarik untuk disimak. Perhatikanlah bahwa Yesus tidak marah ketika dia difitnah, ditinggalkan, disiksa diluar perikemanusiaan hingga mati di atas kayu salib. Tidak, Yesus tidak marah bahkan masih melepaskan pengampunan buat mereka. Tetapi Dia marah ketika orang menjadikan Bait Allah sebagai tempat berdagang, tempat cari untung. Tuhan begitu mengasihi kita, dan bahkan mengorbankan AnakNya sendiri, Yesus untuk menjalani semua rangkaian proses yang mengerikan demi menyelamatkan kita. Betapa keterlaluan ketika sebagian diantara kita sama sekali tidak menghargai itu semua malah sibuk mencari keuntungan diri sendiri.

Faktanya memang seperti itu. Ada banyak orang yang memiliki tujuan dan agenda tersendiri ketika datang kepada Yesus dengan beribadah ke gereja. Ingin ditolong dari kesulitan finansial, ingin bisnisnya sukses, mencari jodoh dan lain-lain bisa menjadi dasar kedatangan mereka dan bukan karena mengasihi Yesus. Di sisi lain tidak tertutup pula kemungkinan adanya gereja-gereja yang berpusat pada untung rugi duniawi dalam menjalankan misinya. Segala sesuatu bisa diberikan Tuhan. Tuhan bisa menyediakan itu semua, bukan hanya sekedar menyediakan tetapi menyediakannya secara berkelimpahan, tetapi jangan pernah jadikan itu sebagai motivasi utama kita dalam mengikutiNya.

Yang lebih memperihatinkan lagi, ada gereja-gereja yang berpusat pada untung rugi duniawi dalam menjalankan misinya dengan menjanjikan segala sesuatu mulai dari berkat sampai kesembuhan sebagai alat ‘promosi’ mereka. Dan disana Yesus dipergunakan hanya bagaikan sebuah produk yang menjanjikan keuntungan duniawi saja. Dan terhadap gereja atau oknum-oknum yang menjalankan fungsi bait Allah seperti layaknya pasar ini, Yesus benar-benar marah, dan itu menjadi satu-satunya hal yang menyebabkan Yesus marah selama masa kehadiranNya di dunia dengan mengambil bentuk manusia seperti kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.