Penundukan Diri

Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.”

penundukan diri

Sudah berbuat yang terbaik, hasil yang dicapai pun baik, tetapi mengapa saya tetap dipecat? Itu pertanyaan seseorang yang saya kenal yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Usut punya usut, ternyata ia dianggap gagal dalam satu hal, yaitu masalah penundukan diri. Karena merasa bahwa posisinya penting dan catatan prestasinya baik, ia sering mengambil keputusan-keputusan seenaknya tanpa dibicarakan dengan atasan maupun rekan-rekan sekerjanya.Ia kerap mengabaikan hasil keputusan rapat dan mengambil langkah yang ia anggap baik. Secara prestasi ia memang mengagumkan, tapi dari sisi teamwork ia ternyata gagal. Adalah sangat baik apabila kita bekerja dengan maksimal tetapi jangan lupakan pula masalah penundukan diri. Ada banyak orang yang gagal untuk menguasai dirinya agar bisa tunduk baik terhadap peraturan maupun kepada atasan, dan hal ini cepat atau lambat bisa menghambat kemajuan kita.

Sebuah keteladanan mengenai penundukan diri bisa kita lihat dari pribadi Yesus ketika masih kecil. Pada suatu kali di usia 12 tahun Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Setelah perayaan usai, di tengah perjalanan Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka. Mereka pun segera kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Saya bisa membayangkan betapa cemasnya orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Dan perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang tidak singkat. Alkitab mencatat bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus. Dimana? Di dalam Bait Allah. “Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.” (Lukas 2:46). Kecerdasan Yesus dalam menjawab para alim ulama itu sungguh mencengangkan mereka, termasuk pula Maria dan Yusuf. Seperti orang tua pada umumnya, tentu saat itu Maria dan Yusuf diliputi perasaan campur aduk, antara lega dan marah. Mereka pun menegur Yesus karena menghilang diam-diam seperti itu. Dan lihatlah, meski dalam Alkitab tercatat bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat dan tunduk kepada orang tuanya di dunia ini. Ayat selanjutnya menggambarkan hal tersebut. “Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan keuda orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.

Hidup di bawah penundukan diri untuk menerima otoritas dari orang lain seringkali merupakan hal yang tersulit untuk kita lakukan. Kita akan berhadapan dengan ego kita, kebanggaan diri atau bagi sebagian orang dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Jika tidak kita cermati, maka bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau kehidupan kita, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini. Kita bisa melihat sebuah Firman Tuhan yang turun atas diri sang Penulis Ibrani berbunyi demikian: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Lihatlah bahwa mentaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka merupakan sesuatu yang penting di mata Tuhan. Jika tidak melakukannya maka dikatakan bahwa kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela, dengan sukacita dan bukan atas keterpaksaan. Pemimpin disini menyangkut pemimpin baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja. Dalam Titus 3:1 pun kita diingatkan akan hal yang sama. “Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik.” Ayat yang kurang lebih sama bisa kita lihat pula melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus. Petrus berkata: “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.” (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi kepada yang berlaku kejam sekalipun. “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.” (1 Petrus 2:18).

Masalah penundukan diri sungguh merupakan hal yang penting di mata Tuhan. Selain kepada atasan, penundukan diri juga menyangkut bentuk-bentuk hubungan lainnya. Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20), istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1), anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5) dan tentu saja kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan. Kita harus mampu meredam ego kita agar kita bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita. Apakah hari ini diantara teman-teman ada yang sedang bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, di kantor, sekolah atau dalam pelayanan di gereja? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Mungkin tidak mudah, tetapi percayalah kasih karunia Allah akan memberikan kekuatan bagi anda untuk dapat melakukannya dan mengalahkan ego dalam kehidupan sehari-hari.

“..Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (1 Petrus 5:5)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi khotbah kristen tentang tunduk kepada suami
  2. renungan ibrani 13:17
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: