Penjara 50 Tahun untuk Pastur yang Suka Cabuli Anak-anak

< ![endif]-->

KETIKA Gereja Semesta dihantam badai dengan berbagai kasus pedofilia yang melibatkan sejumlah uskup dan pastor hingga Vatikan dibuat kewalahan merespon isu negative ini, kini Amerika membuat kejutan lagi. Seorang pastur katolik bernama Shawn Ratigan kemarin diganjar hukuman penjara selama 50 tahun atas berbagai kesalahan yakni perbuatan cabul dengan korbannya anak sekolahan dan misdinar.

Romo Ratigan dinyatakan bersalah atas berbagai tindakan dia yang menurut pengadilan setempat bisa dikategorikan sebagai upaya untuk memroduksi pornografi dengan objek anak-anak.  Barang bukti yang berhasil didapatkan polisi ketika publik AS mulai memperkarakan kasusnya antara lain sejumlah arsip yang diunduh dari hard-disc sang romo.

Ratusan gambar atau foto di computer pribadi romo itu memperlihatkan hasil jepretan romo dengan objek bidikan foto yakni anak-anak, namun fokus jepretan foto itu tidak pada wajah melainkan pada pangkal paha anak-anak.

Kasus ini mengemuka sejak Mei 2011, setelah sejumlah orangtua murid dan umat katolik di sebuah paroki di Kansas City di AS mulai mengeluhkan kebiasaan sang romo yang suka menyuruh anak-anak duduk di pangkuannya dan kemudian menyuruh anak-anak itu mengambil permen sebagai hadiah di saku celana sang romo.

Romo Shawn Ratigan cabul 2

Foto dengan fokus tidak biasa

Pastur Shawn Ratigan, kini berumur 47 tahun, mengaku bersalah dan minta maaf kepada para korban dan keluarga mereka. Namun, dia protes berat atas beratnya hukuman penjara yang harus dia rasakan selama 50 tahun hidup di bui. “Penjara sudah barang tentu memuakkan. Hukuman bagi saya sebenarnya cukuplah selama 15 tahun saja, tapi mengapa saya diganjar hukuman 50 tahun? Apa-apaan ini?,” ungkapnya kesal.

Pengacara sang romo Robert Kuchar beranggapan, tak selayaknya pastur itu diganjar hukuman selama itu karena foto-fotonya tidak seheboh seperti kaum pedofilia yang suka memperlakukan anak-anak sebagai objek pemuasan birahi dan kemudian memfoto mereka saat dipaksa melakukan hubungan seks.

Argumen pengacara ini tidak begitu saja diterima oleh pengadilan. Bahkan, jaksa wilayah Katharine Fincham mengecap sang romo ini telah berlaku sangat arogan seakan-akan dengan titel kepastorannya dia akan kebal hukum dan tidak bisa diajukan ke meja hijau. Ia malah beranggapan, sudah sepantasnya romo cabul ini dihukum keras karena telah ‘menyalahgunakan’ kepercayaan masyarakat dan umat paroki setempat yang dengan suka rela memperbolehkan anak-anaknya bergaul dekat dengan sang romo.

Praktik percabulan sang romo ini menyebar ke public dan akhirnya sampai di telinga polisi, setelah seorang teknisi computer datang ke pastoran dan memperbaiki computer pribadi sang romo. Alamak…dia mengaku syok ketika dalam hard-disc computer sang romo ditemukan ratusan gambar dengan objek bidikan anak-anak perempuan dan lelaki dengan pose aneh-aneh.

Merasa ada yang ganjil, teknisi computer itu segera melaporkan hasil ‘temuannya’ kepada pejabat keuskupan di Kansas City – St. Joseph. Namun bukannya memperkarakan hal itu kepada polisi untuk penyidikan pro iustitia, Uskup Kansas City – St. Joseph Mgr. Robert Finn malah menyuruh Pastur Shawn Ratigan untuk melakukan retret pribadi dan proses mawas diri di sebuah rumah retret dimana dia tetap bisa memimpin misa bersama para suster di biara tersebut dan jauh dari anak-anak. Sebelumnya, sang uskup juga telah berinisiatif menyuruh romo cabul ini melakukan proses penyembuhan klinis dan psikologis kepada therapist ahli.

Namun, ternyata Pastur Shawn Ratigan tidak taat dan tidak mau mengindahkan perintah Uskup.

Karena kasus cabul ini terkesan ditutup-tutupi, akhirnya Jaksa Wilayah membawa kasus ini ke pengadilan dan memperkarakan sang romo dan keuskupannya atas perkara percabulan di kalangan anak-anak. Uskup juga terkena hukuman harus menjalani proses ‘probadi’ selama dua tahun, sementara dakwaan terhadap lembaga keuskupan gugur.

Menanggapi beratnya hukuman penjara selama 50 tahun untuk Pastur Shawn Ratigan, sejumlah orangtua korban beranggapan itu sangat pantas agar anak-anak mereka dijauhkan dari ‘penjahat kelamin’ ini. “Kami mendapati anak-anak kami begitu depresi, selalu cemas dan suka menarik diri dari keramaian dan sering menangis tiba-tiba. Mereka mengaku sekarang ini sulit percaya pada figur pejabat Gereja,” ungkapnya. Romo Shawn Ratigan cabul 1

Pastur Shawn Ratigan baru menerima tahbisan imamatnya tahun 2004, ketika umurnya sudah menginjak angka 38 tahun. Kasus yang membelitnya terdeteksi mulai tahun 2009, ketika sejumlah orangtua mencurigai pastur yang satu ini suka berkawan dengan anak-anak dan remaja yang biasa main ke pasturan atau ikut berpartisipasi dalam kegiatan Gereja.

Sebenarnya, Romo Vikjen Kansas City Pastur Robert Murphy sudah merespon serius ketika terkirim kepadanya sebuah surat dari seorang kepala sekolah yang sering memergoki sang pastur melakukan gerakan-gerakan fisik yang mengarah kepada praktik percabulan anak-anak. Surat itu kemudian diteruskan kepada Bapak Uskup Mgr. Finn dan menurut pengakuan Romo Vikjen kesalahan Bapa Uskup yang fatal adalah tidak pernah membaca isi surat itu sampai setahun kemudian. Ia hanya mendengar memo pribadi yang disampaikan Romo Vikjen tentang complain masyarakat terhadap perilaku cabul Romo Ratigan.

Keuskupan sendiri dengan resmi minta maaf kepada para korban dan keluarga mereka dan berjanji akan terus menjaga wibawa Gereja Katolik dari semua unsur perilaku negative yang menciderai citra lembaga gerejani ini.

Sumber: The Associated Press

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.