Penghalang Pandangan (2)

(sambungan)

Hal yang sama sering kita alami sampai hari ini. Berbagai permasalahan hidup, tekanan, beban berat atau pergumulan yang kita alami bisa membuat kita tidak mendengar atau mengenal Tuhan lagi. Kita lupa akan Tuhan, atau malah mungkin mulai meragukan eksistensiNya di tengah-tengah kita. Kita mengira seolah-olah Tuhan tidak lagi ada bersama kita, melupakan dan membiarkan kita di tengah-tengah tekanan. Ketika jalan yang kita lalui penuh liku, kita tidak lagi percaya bahwa di ujungnya Tuhan telah menyediakan segala kebaikan dan segera menyerah. Kita meragukan eksistensiNya atau kalaupun kita percaya, kita ragu bahwa Dia mungkin hanya memberi janji palsu atau tidak peduli terhadap pergumulan kita. Yang seringkali terjadi, kita justru terjebak pada berbagai alternatif yang membinasakan. Padahal bukan Tuhan yang salah, justru fokus kita terhadap beban penderitaan yang terlalu besarlah yang menutupi pandangan kita sehingga kita tidak lagi mengenal Dia. Bahkan setelah mendengar firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan apapun, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka.

Kepada Yosua Tuhan mengatakan: “Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Yosua 1:5). Ini Tuhan sampaikan kepada Yosua sehubungan dengan diberikannya tugas yang sangat berat, yang pasti akan meletakkan Yosua duduk di kursi panas. Situasi yang harus dia hadapi begitu sulit karena harus melanjutkan pekerjaan besar untuk menuntun bangsa Israel yang keras kepala dan tegar tengkuk memasuki tanah yang dijanjikan menggantikan Musa. Pergumulan jelas harus dihadapi Yosua, tekanan dan beban ada bersamanya, tapi disamping itu lihatlah bahwa janji Tuhan yang meneguhkan dan menguatkan pun ada bersamanya. Tuhan berjanji untuk selalu besertanya dan tidak akan meninggalkan dirinya menghadapi itu sendirian. Janji yang sama juga berlaku bagi kita, karena Tuhan tidak pernah senang melihat anak-anakNya menderita. Apa yang Dia berikan adalah rancangan yang terbaik. He wishes to give nothing but the best. Tapi tebalnya awan kelabu yang timbul dari ketakutan, kegelisahan, kesedihan, kebingungan atau kekecewaan kita akan membuat semua itu tidak lagi terlihat. Hal-hal itu akan menutupi pandangan mata kita dari pengenalan akan Tuhan dan kebenaran FirmanNya. Ketika awan kelabu begitu tebal, terang matahari pun tidak lagi terlihat jelas atau bahkan bisa hilang sama sekali dari pandangan kita. Ketika mata kita tertutup oleh berbagai kekuatiran, ketakutan dan ketidakpastian, maka kita pun tidak lagi melihat Terang.

Yesus tahu pergumulan kita, Dia sangat memahami beratnya hidup kita. Dia sudah mengalami itu semua secara langsung ketika Dia mengambil rupa hamba seperti kita dan mengalami penderitaan secara langsung untuk membebaskan kita dari kebinasaan, sesuai kehendak BapaNya. Tidak hanya tahu, tapi Yesus juga peduli, malah sangat-sangat peduli. Karenanya Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Itu jelas merupakan bentuk kepedulian yang besar karena Dia tahu betul bagaimana beratnya pergumulan-pergumulan yang harus kita hadapi dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap berpegang teguh kepada janji setia Allah, percaya sepenuhnya kepadaNya dan menjaga diri kita untuk tetap hidup kudus dan taat tanpa kehilangan pengharapan sedikitpun.

Kita harus memperhatikan betul agar jangan ada awan gelap terbentuk yang bisa membuat kita tidak lagi bisa melihat dan mengenalNya. Tak kenal maka tak sayang. Disamping itu, hiduplah dengan benar, karena tumpukan dosapun bisa membuat kita hubungan kita dengan Tuhan menjadi terputus. “tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:2). Agar bisa tetap melihat dan mengenal Tuhan kita harus memiliki pandangan yang bersih dari segala hambatan yang menutupi pandangan kita. Jika masih ada sesuatu yang menghalangi pandangan kita, singkirkanlah segera semua itu, agar kita bisa selalu memiliki pandangan jernih kepada Tuhan.

Ketakutan, keraguan dan kekecewaan dalam pergumulan menghalangi pandangan kita kepada Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.