Pengamen Aneh

TEMAN, beberapa pekan lalu di siang hari bolong ketika saya naik angkutan umum, saya mengalami kejadian menarik. Mobil angkot jenis Kijang yang saya naikki ini melaju dari terminal Kalideres, Jakarta Barat menuju Terminal Poris, Tangerang. Di depan ada seorang penumpang duduk di sebelah sopir, sementara saya duduk di belakang dengan empat penumpang lain.

Lalu sebelum angkot Kijang ini tiba di terminal tujuan, tiba-tiba pengemudi berhenti dan berganti sopir. Selanjutnya ada satu pengamen naik dan mulai menyanyi. Kalau umumnya pengamen menyanyi dengan gitar dan bersuara bagus, pengamen yang saya lihat ini berbeda. Laki-laki, masih muda, kulit hitam dengan banyak tatto di lengan dan dadanya. Mengenakan kaos singlet (warna hitam pula) tanpa lengan dengan macam-macam aksesoris di leher, telinga dan tangan. Ia tidak membawa gitar lalu duduk persis di depan saya.

Semula saya mencoba bersikap cuek walau hati saya dag dig dug. Apalagi kemudian ia mengamen hanya dengan tangan kosong, bertepuk-tepuk menyanyi lagu yang tidak jelas dengan suara parau. Hadeeh!! Feeling saya langsung tidak enak.

Dan setelah menyanyi ia bilang seperti ini: “Bapak Ibu, saya tidak mengharapkan kesombongan dan keangkuhan Anda semua, tapi saya harapkan kemurahan Anda untuk membagi dari kelimpahan rezeki Anda. Saya hanya manusia miskin yang tidak ingin jadi penjahat, jadi saya harapkan kerelaan anda memberi saya sedikit rejeki. Kemiskinan saya tidaklah ada bandingnya dengan kekayaan Anda semua, jadi saya harapkan Anda bukan orang yang kikir karena Allah membenci manusia yang kikir…dst..dst…”

Masih banyak yang dia katakan tetapi intinya minta uang dari penumpang. Penumpang lain ada yang memberi ada yang diam saja. Saya yang sudah menyiapkan uang kertas dua ribu, segera mengasongkan uang tersebut kepadanya. Berharap ia segera turun supaya tenanglah hati saya.

Sayangnya, pengamen tersebut tidak turun tetapi malah ikut menumpang. Sementara saya yang duduk persis di depannya merasa amat tidak nyaman, apalagi sebentar-sebentar HP saya berbunyi- dan saya tidak berani mengambil HP dari tas. Saya juga ingat di tas saya membawa uang agak banyak dari bank.

Hati makin kethar-kethir….dan entah kenapa perasaan saya mengatakan pengamen aneh ini melihat terus kepada saya.

Wah, sepertinya saya harus segera ambil keputusan, turun atau tetap di angkot?

Pikiran saya segera mengkalkulasi risiko yang mungkin bisa terjadi; kalau ia membawa pisau dan menodong, apakah penumpang lain di angkot ini mau menolong? Tetapi kalau saya memutuskan turun, mungkin saya bisa selamat, at least saya tidak lagi merasa terancam oleh kehadirannya.

Maka akhirnya saya putuskan segera turun dan berencana berganti angkot lain. Saya langsung memberi ongkos kepada sopir dan minta diturunkan di tempat yang agak ramai. Setelah turun legalah perasaan saya meski kepala disengat panas matahari selama menunggu angkot berikutnya. Huuft…..!!

Saya tidak bisa bayangkan seandainya saya terus berada di angkot, tidak berani mengambil keputusan untuk segera turun angkot, mungkin saya mengalami hal-hal yang tidak saya inginkan. Apalagi di zaman krisis seperti sekarang, gara-gara hal kecil orang dapat saja saling melukai bahkan membunuh demi uang.

Sering kali terjadi keberanian mengambil keputusan kecil dapat memberi dampak signifikan pada rentetan peristiwa berikutnya. Begitu juga sebaliknya, ketidakberanian mengambil tindakan dalam situasi mendesak dapat menimbulkan kerugian bagi diri sendiri bahkan kehilangan nyawa.

Tanggal 6 Juni lalu dunia memperingati D-Day, hari dimana pada Perang Dunia II, tentara Sekutu berhasil mendarat di pantai Normandia, Perancis untuk mengalahkan tentara Nazi pada tanggal 6 Juni 1944. Keberhasilan sekutu mengalahkan rezim paling kejam di dunia pimpinan Adolf Hitler itu tak lepas dari sebuah peristiwa sepele yang biasa terjadi sehari-hari.

Konon, pada saat tentara sekutu mendarat di pantai Normandia, para pembantu Hitler tidak ada yang berani membangunkan sang pemimpin yang sedang terlelap tidur. Informasi penting tentang kedatangan tentara musuh baru disampaikan setelah 12 jam kemudian dan tentunya sudah sangat terlambat untuk mengantisipasi keberadaan musuh. Akhirnya sejarah mencatat kekalahan tentara Nazi Jerman dari sekutu dan berakhirlah Perang Dunia II yang amat mengerikan itu.

Teman, di tengah arus dunia yang cepat berubah bahkan unpredictable ini, semoga refleksi ini mengingatkan untuk terus mengasah kepekaan dalam mengambil keputusan/tindakan yang benar. Tak jarang kita mengalami saat-saat “darurat/genting” yang di tempat kerja, di dalam keluarga, dalam pelayanan masyarakat atau di mana saja yang situasinya menuntut keberanian kita untuk bertindak secara tepat.

Amin.

Photo credit: Ilustrasi tentang pengamen jalanan di sudut Salamanca Market, Hobart. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.