Pendidikan Kewarganegaraan Ujung Tombak Pendidikan Multikultural

warga negara

PENDIDIKAN kewarganegaraan bisa menjadi ujung tombak pendidikan multikultural karena membawa misi sosial bagi kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara, kata dosen Institut Agama Islam Negeri Surakarta Baidi.

“Dalam pendidikan kewarganegaraan kita diajarkan dan dididik untuk menjadi warga negara yang baik, bisa menerima dan menghormati perbedaan, serta menyikapi perbedaan yang ada dengan baik sehingga tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk berbuat konflik,” katanya di Yogyakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (12/7/2014).

Saat sidang promosi doktor Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ia mengatakan melalui pendidikan kewarganegaraan berbasis multikultural tersebut peserta didik akan diajarkan dan diberikan pemahaman bahwa kondisi kehidupan manusia itu sangat beragam, baik dari segi agama, budaya, pengalaman maupun pemikirannya.

“Berawal dari pemberian pembelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis multikultural kepada peserta didik itu diharapkan kehidupan masyarakat ke depan bisa lebih saling menghormati dan menghargai perbedaan yang ada sehingga tidak ada lagi konflik yang muncul akibat sebuah perbedaan,” katanya.

Menurut dia, pelaksanaan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan berbasis multikultural bisa bermanfaat untuk membangun harmoni sosial. Peserta didik diajarkan untuk bisa menerima perbedaan yang ada di sekitarnya, seperti dengan cara mengunjungi tempat ibadah umat beragama lain dan mengenal budaya lain di luar lingkungannya.

“Untuk pembelajaran di kelas, peserta didik diajarkan untuk memusyawarahkan hasil observasinya sehingga mereka akan memahami bahwa manusia hidup itu memang penuh dengan keragaman. Mereka akan menerima perbedaan yang ada itu sebagai sebuah keragaman yang pasti ada,” katanya.

Namun, kata Baidi yang juga Sekretaris Jurusan Pengkajian Islam Program Pascasarjana IAIN Surakarta, pendidikan kewarganegaraan yang selama ini diterapkan masih lebih menekankan pada aspek pengetahuan dan sikap, belum banyak menyentuh aspek implementasinya.

Menurut dia, pendidikan kewarganegaraan belum banyak menekankan pentingnya implementasi dari pembelajaran pendidikan itu. Padahal, implementasi atau aspek “civic skill” itu merupakan aspek yang harus dipenuhi oleh peserta didik.

“Oleh karena itu, peserta didik akan memiliki ‘skill’ atau keterampilan membawa diri dalam kehidupan masyarakatnya seperti kemampuan memimpin, mengakui perbedaan, dan kemandirian sikap,” katanya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.