Pemimpin yang Baik adala Pemimpin yang Mendengar

Ayat bacaan: Keluaran 18:24
=================
“Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.”

Ernest Miller Hemingway, seorang pengarang dan jurnalis asal Amerika dan pemenang Nobel Prize tahun 1954 memberi banyak kata-kata bijak. Salah satunya berbunyi: “When people talk, listen completely. Most people never listen.” Kalau orang bicara, dengarlah dengan baik. Kebanyakan orang tidak pernah mau mendengar. Seperti yang kita bahas kemarin, mendengar sangatlah penting, baik mendengar nasihat, pesan, saran, kritik sampai teguran dari orang lain maupun mendengar suara Tuhan. Jika kita tidak mau mendengar maka kitapun akan melewatkan begitu banyak hal yang bisa menjadikan kita menjadi lebih baik. Dari perjalanan sejarah, kita bisa melihat bahwa pemimpin yang hebat biasanya pemimpin yang suka mendengar masukan dari orang lain. Great leaders are usually great listeners. Jadi pemimpin tidak hanya harus pintar memotivasi dan pintar berbicara, tapi juga harus rajin-rajin mendengar.

Sikap seperti ini ditunjukkan oleh pemimpin besar bangsa Israel untuk keluar dari perbudakan Mesir menuju tanah yang dijanjikan, Musa. Tugas yang diemban Musa dari Tuhan sama sekali tidak mudah, bahkan melebihi kemampuannya. Ia harus memimpin sebegitu banyak orang Israel yang perilakunya jauh dari sabar dan patuh. Mereka dikatakan tegar tengkuk, keras kepala, sulit diatur. Tugas super berat ini harus dilaksanakan Musa bukan hanya dalam rentang waktu seperti pemimpin kita yaitu selama 5 tahun melainkan selama 40 tahun. Tidak hanya itu saja, Musa juga harus membuat undang-undang dan mengadili setiap perkara yang muncul ditengah-tengah bangsa yang dipimpinnya.

Pada suatu kali mertuanya bernama Yitro datang mengunjunginya. Musa menceritakan seluruh penyertaan Tuhan yang menyelamatkan mereka. Yitro bersukacita mendengarnya. Keesokan harinya Yitro menyaksikan bagaimana Musa mengadili berbagai perselisihan yang muncul antara orang-orang Israel. Di awal Keluaran pasal 28 hal ini disebutkan, bahwa ia melihat Musa duduk sebagai hakim dari pagi sampai petang (malam). Sebagai mertua yang baik dengan pengalaman lebih lama dari Musa, ia merasa perlu untuk memberi masukan kepada Musa. Apa yang dilakukan Musa itu baik, tapi Musa lama-lama bisa mati kelelahan kalau harus terus menengahi ratusan atau bahkan ribuan orang yang gemar bertikai dan bikin susah setiap hari. “Ketika mertua Musa melihat segala yang dilakukannya kepada bangsa itu, berkatalah ia: “Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?” (ay 14). Musa pun menjawab bahwa sebagai pemimpin yang ditunjuk Tuhan ia harus rela meluangkan waktunya untuk menyampaikan ketetapan-ketetapan Allah selain mengadili mereka satu persatu. Maka inilah jawaban Yitro: “Tidak baik seperti yang kaulakukan itu. Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja. Jadi sekarang dengarkanlah perkataanku, aku akan memberi nasihat kepadamu dan Allah akan menyertai engkau. Adapun engkau, wakililah bangsa itu di hadapan Allah dan kauhadapkanlah perkara-perkara mereka kepada Allah. Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya. Jika engkau berbuat demikian dan Allah memerintahkan hal itu kepadamu, maka engkau akan sanggup menahannya, dan seluruh bangsa ini akan pulang dengan puas senang ke tempatnya.” (ay 17-23).

Musa melakukan hal yang baik, hanya saja caranya tidak baik karena ia tidak akan sanggup kalau cuma sendirian. Lewat pengalaman Yitro sebagai imam di Midian, ia memberi masukan yang sangat berguna, yaitu agar Musa mengangkat hakim-hakim dibawahnya untuk menangani berbagai permasalahan diantara orang Israel. Pendelegasian akan lebih mempermudah tugas-tugas Musa tanpa harus berarti melepas tanggung jawab. Sebagai pemimpin Musa bisa saja mengabaikan nasihat mertuanya. Ia yang memimpin, tentu ia pula yang harus memutuskan. Musa bahkan bisa saja menolak mendengar. Musa bisa saja berkata: “Datang saja baru, ngapain sih ikut-ikutan ngatur?” Tapi Musa tidak melakukan itu. Sikap Musa dengan jelas disebutkan dalam kitab Keluaran ini: “Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya.” (ay 24). Sesuai nasihat Yitro, Musa kemudian mengangkat orang-orang cakap di antara orang Israel untuk menjadi hakim-hakim dibawahnya.

Nasihat Yitro disampaikan kepada Musa demi kebaikan Musa sendiri. Selain bisa memperingan tugasnya, itu pun akan membuka kesempatan kepada orang lain dan mendidik mereka untuk bisa menumbuh-kembangkan potensinya. Selain itu, dengan mendelegasikan kepada orang-orang lain Musa pun bisa belajar untuk percaya kepada orang lain, tidak terjebak kepada sikap merasa diri paling benar dan absolut. Begitu banyak manfaat yang Musa dapat, dan itu ia peroleh lewat mendengar nasihat mertuanya.

Sebagai pemimpin Musa menunjukkan sebuah kerendahan hati untuk menerima masukan. Ini sebuah keteladanan yang sangat baik untuk dicontoh, terutama apabila anda bertugas sebagai pemimpin baik dalam kelompok, pekerjaan maupun pelayanan. Mungkin tidak mudah mencari orang-orang berintegritas di jaman sekarang, tapi itu bukan berarti tidak ada sama sekali. Ada kalanya kita harus bisa belajar mempercayai orang lain, karena biar bagaimanapun kita tidak akan sanggup melakukan segalanya sendirian. Orang yang bijak adalah orang yang mau mendengar dan terus belajar. Apakah mendengar nasihat, masukan atau bahkan kritik dari orang-orang yang lebih berpengalaman dari kita, terlebih dalam mendengar suara Tuhan, semua itu akan membawa kita terus melangkah maju. Jadi jika anda ingin menjadi orang bijak, rajin-rajinlah mendengar dan teruslah upgrade pengetahuan dan ketrampilan anda.

Jadilah pemimpin bijak yang mau mendengar masukan dari orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. pemimpin kristen yang mau mendengarkan orang lain
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: