Pemimpin, Hematlah dengan Kata-katamu!

“Kekuasaan tidak bisa dimiliki oleh orang-orang yang bicara sembarangan”, adalah kutipan dari buku yang berjudul, 48 Hukum Kekuasaan tulisan Robert Greene. Penulis menggambarkan kisah ini dengan tokoh yang bernama Coriolanus.

Gnaeus Marcius, yang juga dikenal sebagai Coriolanus, adalah seorang pahlawan militer besar di Roma kuno. Pada paruh pertama abad 5 s.M, ia memenangkan banyak peperangan terkenal dan menyelamatkan kota itu dari bencana berkali-kali.

Sebelum terjun ke dunia politik, nama Coriolanus memancing perasaan takjub. Prestasinya di medan perang menunjukkan bahwa ia adalah seorang pria yang sangat pemberani. Karena rakyat tidak tahu banyak hal tentangnya, berbagai jenis legenda pun disangkut-pautkan dengan namanya. Namun demikian, tepat saat ia berpidato di hadapan rakyat Roma dan mengutarakan pendapatnya, segenap kehebatan dan misterinya pun lenyap. Semakin banyak ucapan yang dilontarkan oleh Coriolanus, ia tampak semakin lemah.

Seorang pemimpin adalah pemegang kebijakan (stakeholder). Kata demi kata yang dikeluarkan dari mulutnya haruslah sudah “matang.” Orang Jawa mempunyai jargon yang sangat tepat, “Sabda pandhita ratu” yang artinya perkataan seorang raja yang sudah keluar dari mulutnya tidak bisa ditarik kembali. Pengajaran ini amat dipatuhi dalam dunia pewayangan. Para ksatria yang telah mengungkapkan kata-kata untuk melakukan sesuatu sudah dianggap sebagai ikthiar atau sumpah yang harus dipenuhi. Para ksatria sejati tidak mudah mengumbar janji.

Seorang pemimpin yang suka berpolemik dan membuat pernyataan menjadi makanan empuk bagi lawan politiknya. Apa yang dilontarkan ke masa bagaikan bola salju. Pernyataan Sang Pemimpin begitu cepat menyebar tanpa kendali. “Ajining diri gumantung kedaling lathi” yang artinya, harga diri seseorang tergantung dari kata-kata yang keluar dari mulutnya. Pro dan contra untuk menyikapi kata-kata Sang Pemimpin menuai badai yang besar, sehingga melelahkan dan menguras energi. Inilah yang diharapkan dari para lawan politiknya. Pada gilirannya, Sang Pemimpin menjadi tidak berwibawa lagi, dan jika berpidato – meskipun isinya berbobot – tetapi karena kurang bisa mengendalikan lidahnya, kata-kata yang keluar darinya tidak mempunyai arti lagi. Pidatonya tidak memunyai nilai jual.

Historia repete, sejarah berulang. Banyak kekuasaan jatuh karena kata-kata yang diucapkan. Buku tulisan Stefan Zweig yang berjudul Marie Antoineette sangat jeli memaparkan tentang terjadinya Revolusi Perancis. Tidak ingatlah bahwa Revolusi Perancis juga terjadi karena kata-kata dari Marie Antoinette ( 1755 – 1793), “Roti di istana ada, tetapi tidak cukup untuk kalian.” Tentu saja rakyat yang kelaparan akan mencari jalan supaya orang-orang dalam istana tersebut juga menderita kelaparan. Jalan satu-satunya adalah revolusi. “Hukuman” dari rakyat tersebut adalah gantung dengan goulettine. Kata-kata yang tidak terkendali berpotensi untuk membuat keruh suasana.

Para pemimpin seperti Louis XIV (1754 – 1793) adalah orang-orang yang menghemat kata. Ketika dewan kerajaan komplain dan ingin bertemu dengan sang Raja. Louis XIV mendengarkan mereka tanpa mengucapkan apa-apa dengan mimik paling penuh teka-teki di wajahnya. Akhirnya setelah para utusan dewan itu menyelesaikan presentasinya dan meminta pendapat sang Raja, sang Raja menatap mereka dan berkata, “Kupikir dulu, ya.” Kemudian ia pun pergi. Para mentri dan anggota istana tidak akan pernah mendengar sepatah kata pun tentang topik tersebut dari bibir sang Raja.

Di saat-saat negara sedang genting dilanda dengan multi problema, banyak orang pandai berpendapat dan berargumen. Dengan gampang orang bersumpah demi nama Allah bahwa dirinya bersih. Kata-kata yang telah diucapkan itu direkam dan setiap saat jika dibutuhkan ditayangkan kembali. Masyarakat akhirnya bisa menilai melalui kata-kata yang diucapkan tersebut. Hai, para pemimpin berhematlah dengan kata-katamu.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.