Pemimpin Hebat Lahir dari Masyarakat Baik

pemimpin

PENGENALAN sepintas hanya berdasarkan kehebatan penampilan  seseorang bisa memicu rasa kagum. Tidak berhenti di situ. Orang lalu mau belajar dari mana asal muasal kemampuan tersebut.

Pencarian tentang sumber dari karunia ini sering ikut jalan pintas. Umumnya bertolak dari prinsip sederhana ini, ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’.

Dalam kerangka berpikir seperti ini lalu muncul anggapan bahwa bakat atau kemampuan itu adalah gen yg diwariskan turun temurun. Jalan pintas penelusuran sumber bakat melalui pengecekan siapa orang tua dan keluarga dari orang hebat tersebut.

Penelusuran seperti ini sering berakhir pada pengikaran dan penolakan terutama apabila kemampuan yang dimiliki anak atau orang tersebut tidak bersumber dari pohon asalnya.

Penolakan terhadap fakta dan kebenaran yang sungguh nyata pun terjadi. Sungguh kerangka berpikir yang tidak dievaluasi kebenarannya sering mengorbankan orang yang dinilai serta kebenaran itu sendiri.

Keterbatasan indikator yang dipakai untuk menilai bila tidak disadari sering berakhir pada penolakan terhadap fakta dan kebenaran. Kalau Yesus diitolak di kampung halamannya, bukan terutama karena dia tidak hebat melainkan karena pandangan dan cara pandang orang di kampungnya yang tidak hebat untuk tidak mengatakan kerdil.

Repotnya kalau jumlah orang yang berpandangan picik seperti ini sekampung. Sudah tentu akan mengalahkan kebenaran yang dimiliki satu orang hebat.

Adakah sesuatu (pemimpin) yang baik muncul dari Nasaret? Orang baik sulit muncul dalam masyarakat picik seperti ini. Orang baik atau pemimpin yang baik atau hebat, dalam konteks ini, akan muncul dari rakyat pemilih yang baik.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.