Pemilu Sudah di depan Mata Loh!

< ![endif]-->

HARI tetap berjalan seperti biasa dan tanpa sadar, ternyata Pemilu Legislatif 2014 tinggal sekitar 40an hari lagi. Berbagai iklan, kegiatan, sosialisasi, bahkan kampanye mulai ramai. Tulisan ini hanya sekadar sebuah cuatan idea sederhana dan praktis yang bermaksud mengajak pembaca untuk bersikap cerdas dalam menanggapi berbagai issue, tawaran-tawaran, iklan-iklan yg menarik perhatian massa menjelang Pemilu 2014.

 “Information is Power”

Belakangan ini, kita sering melihat/menyaksikan iklan-iklan politik menjelang pemilu, misalnya adanya tayangan partai-partai tertentu yang mendominasi stasiun tv. Bagi calon pemilih cerdas, tentu patut bertanya: mengapa di stasiun-stasiun tv tersebut, umumnya hanya partai-partai itu saja yang mendominasi tayangan?

Peta perpolitikan, dalam kaitannya dengan stasiun tv sebagai sarana jitu untuk berkampanye perlu kita ketahui bersama:

  • Surya Paloh dari Partai Nasional-demokrasi (NasDem) adalah “pemilik” MetroTV.  Karena itu, pastai NasDem begitu sering tayang di iklan-iklan stasiun tv tersebut (mendominasi).
  • Aburizal Bakri (Ical) “memiliki” TV One
  • Harry Tanusoedibyo  “memiliki” RCTI bersama Wiranto tentu amat sering ditayangkan dalam iklan politik di stasiun TV milik mereka!

Masyarakat, yang setiap harinya menyaksikan tayangan-tayangan tv tersebut, “mau ngga mau” akhirnya kerap melihat/menyaksikan, dan mungkin juga tidak sedikit yang akhirnya “terpengaruh” oleh iklan tersebut. Itulah salah satu efek dari “information is power”, yang dipakai oleh calon wakil rakyat dalam bersaing menjelang pemilu dengan memanfaatkan sarana publik, seperti misalnya TV yg merupakan sarana informasi banyak orang.

Bagaimana dengan calon-calon wakil rakyat lainnya? Karena mereka tidak “memiliki stasiun-stasiun TV” yang dikenali secara umum oleh masyarakat, maka akhirnya mereka “kalah sosialisasi, kalah iklan” dan mungkin juga akan kalah dalam menjagokan dirinya di Pemilu 2014 ini!

pemilu vote

Ayo Memilih (Courtesy of Politik Kompasiana)

Membaca kondisi peta perpolitikan semacam ini maka sangatlah penting bagi kita untuk membuka diri (pikiran, kecerdasan, hati) untuk mau belajar dengan cara mendengarkan, mencari berita, informasi seputar calon wakil rakyat yg akan kita pilih nantinya. Jangan sampai, karena yang paling sering dilihat, disaksikan itu tokoh-tokoh tertentu dalam stasiun TV tersebut, maka akhirnya kita “salah pilih” orang: mereka yang punya dedikasi kuat, kredibilitas baik dan komitmen baik justru tidak dipilih, melainkan kita hanya memilih tokoh karena ia sudah “terkenal” (kerapkali muncul dlm stasiun-stasiun tv).

Di sinilah letak perlunya pembelajaran politik bagi masyarakat luas.

Pilihlah calon nasionalis dan bukan berlata belakang partai sektarian

Pemilu 2014 diikuti 12 Partai Politik. Hal ini bagi sebagian orang tentu bukanlah hal yang sederhana untuk menentukan pilihan calon wakil rakyat. Karena itu, diperlukan pembelajaran politik yg praktis, sederhana tapi baik dan jelas. Di antara begitu banyak partai, tidak semuanya itu berasaskan nasoinal!

Ada partai-partai yang bernuansa sektarian agama tertentu, dan ini perlu mendapat “catatan/perhatian tersendiri” bagi calon pemilih.

Negara Indonesia adalah NKRI, dan dalam perkembangan sejarahnya NKRI telah begitu banyak mendapat berbagai tantangan-tantangan. Di zaman kemerdekaan ini, tantangan NKRI bukanlah datang dari luar negara, melainkan justru dari dalam negara ini sendiri.

Tak sedikit kelompok sektarian berambisi untuk “mengubah NKRI” ke dalam salah satu ideologi agama. Karena itu, menjelang Pemilu 2014 alangkah baiknya, partai yang berlatarbelakang sektarian sebaiknya tidak dijadikan yang utama untuk dipilih.

Maka pilihlah partai  berasaskan semangat nasionalis.

Memilih orang baru atau lama

Dalam Pemilu 2014 ini, tak sedikit tokoh-tokoh politik “berwajah lama”, di samping banyak pula orang-orang baru sebagai calon wakil rakyat. Atas fenomena ini, masyarakat dijatuhkan pada pilihan: memilih orang lama atau orang baru?

10427314-cartoon-of-man-and-woman-asking-questions

Kalian ini terbilang ‘muka lama’ atau wajah lama tapi dengan tampilan polesan baru? (Ilustrasi/Courtesy of cartoon on man-woman asking questions)

Ada pendapat yang kiranya baik untuk dipikirkan bersama berikut ini:

Bisa saja terjadi, misalnya,  Anda menghendaki supaya kondisi-situasi hidup masyarakat (bernegara) ini sama saja dalam arti tidak terlalu berharap banyak untuk perubahan situasi ke arah yang makin baik, atau justru sebaliknya takut jika yang terjadi justru ke arah makin enggak karuan. Terhadap tipe pemilih ini, saya punya saran  pilihlah tokoh-tokoh lama (berwajah lama) dalam bursa calon wakil rakyat di Pemilu 2014 ini.

Namun, jika Anda sangat menginginkan terjadinya perubahan dan tentu saja harapannya ke arah yang lebih baik namun bisa juga  kebalikannya, maka sarannya adalah pilihlah orang-orang/tokoh baru dalam pemilu 2014 ini.

“Cara berpolitik” calon wakil rakyat

Ada banyak cara bagi calon wakil rakyat untuk mendapat simpati. Selain melalui iklan-iklan di mass media, ada juga cara-cara “langsung turun ke lapangan”, misalnya dengan metode “ASU” mereka.

Apa itu metode “ASU”? Aspal – Semen dan Uang.

Cara/metode ini umumnya dilakukan calon wakil rakyat dengan fokus daerah-daerah kurang terjangkau alias marginal. Namun demikian, begitu mereka terpilih, belum tentu apa yg mereka gembar-gemborkan/janjikan itu akan dijalankan dalam periode masa jabatan mereka kelak. Sebab,  apa yang mereka lakukan tersebut hanyalah “salah satu strategi/cara/metode” menarik perhatian/simpati rakyat agar mereka dipilih.

Beranilah bertanya

Dalam kampanye-kampanye, seringkali para calon wakil rakyat berorasi, membeberkan visi-misi dan program-program manakala mereka terpilih kelak. Kesempatan tersebut justru dapat digunakan oleh rakyat untuk bertanya secara langsung mengenai transparansi dari pihak calon wakil rakyat tersebut, misalnya berkait soal: “keuangan/ harta kekayaan” dan komitmen atau ketegasan bersikap mengatasi persoalan paling sulit dipecahkan di negara ini, yaitu persoalan “korupsi dan kebejatan moral”

Bertanya by Stockpress

Tanpa henti mengajukan pertanyaan-pertanyaan gugatan kepada para caleg. (Ilustrasi/Courtesy of Stokpress)

Anda sah-sah saja bertanya kepada calon rakyat misalnya:

  • Berapakah harta kekayaan Anda sekarang?
  • Berapakah modal yang dikeluarkan oleh Anda, dan oleh Partai Anda untuk bersaing dalam pemilu ini?
  • Apakah Anda berjanji/berani berkomitment ‘hitam di atas putih’ untuk mundur, atau siap dijebloskan ke penjara tanpa harus banyak berkelit, bilamana dikemudian hari terbukti adanya korupsi dlm kepemimpinan Anda/dalam jabatan yang Anda emban?

Kiranya, masih ada banyak gagasan-gagasan seputar persiapan jelang pemilu 2014 ini. Harapannya, semoga makin banyak warga masyarakat yang makin cerdas dalam menggunakan hak pilihnya, demi bonum commune (kesejahteraan hidup bersama) di Negara Indonesia yang berasaskan NKRI ini.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.