Pementasan Tari “Lengger Sumyah Kolbu” Jelang 100 Tahun Seminari Mertoyudan (1)

Di tengah tabuhan meriah gamelan dari panggung berlatar belakang lukisan raksasa Yesus dan Maria di tembok, seorang lelaki dengan gerak tarian lengger Gunung Sumbing menghampiri Romo Antonius Saptono Hadi Pr.

Lelaki bernama Warsidi yang sudah ekstase dalam nomor lengger “Kebogiro” itu, dengan didampingi seorang penari perempuan, menyalami pamong Seminari Menengah Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah tersebut.

Uluran salaman penari itu disambut hangat oleh Sang Romo yang malam itu mengenakan baju batik dan duduk di bangku diapit seniman petani “Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor” Gunung Merapi, Sitras Anjilin serta pengukuh Komunitas Lima Gunung Magelang Sutanto Mendut. Komunitas itu meliputi kalangan seniman petani Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh.

Sekejap, ketika keduanya saling melepas salaman kegembiraan, penari perempuan bernama Sumarsih tersebut memberikan selendang warna putih kepada Romo Saptono. Sang Romo kemudian mengalungkan selendang itu di lehernya lalu berdiri dari bangkunya.

Para seminaris yang pada kesempatan sebelumnya serentak menjawab belum tahu apa itu tari lengger pun bertepuk tangan dan bersorak meriah tatkala pamong mereka mengalungkan selendang putih.

Mereka secara seketika seakan langsung tahu bahwa kalungan selendang itu tanda kesediaan Sang Romo menari bersama perempuan petani gunung, anggota komunitas seniman petani “Cahyo Budoyo Sumbing”, Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, salah satu dusun tertinggi sebelum puncak Gunung Sumbing.

Puluhan penonton lain pun bertepuk tangan gembira menyaksikan sajian nomor-nomor tarian lengger Gunung Sumbing yang oleh Romo Saptono malam itu dinamai pementasan tarian “Lengger Sumyah Kolbu” yang artinya kegembiraan hati.

Dalam durasi tiga jam, hingga menjelang tengah malam itu, sekitar 60 petani Gunung Sumbing yang menjadi bagian dari Komunitas Lima Gunung mementaskan “Lengger Sumyah Kolbu” di aula besar yang dinamai Bangsal Kaca Seminari Mertoyudan.

Pementasan itu rangkaian agenda menuju puncak perayaan Seabad Seminari Mertoyudan pada 2 Juni 2012 yang antara lain ditandai misa akbar dipimpin Romo Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja bersama sejumlah uskup dan pentas performa kolaborasi oleh 350 seniman petani Komunitas Lima Gunung bertajuk “Ensiklopedia Agrobudaya”, serta wayang orang semalam suntuk dengan lakon “Dewa Ruci” dengan dalang Ki Radya Harsono.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: