Pemain dan Penonton

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”

Gegap gempitanya perhelatan Piala Dunia 2010  di Afrika yang tengah berlangsung memang sungguh menarik. 32 tim terbaik dunia bertanding untuk memperebutkan piala yang paling prestisius di persepakbolaan dunia ini. Kita dimanjakan dengan suguhan pertandingan secara langsung, menyaksikan sendiri berbagai gol indah dan drama di lapangan baik melalui siaran langsung ataupun tunda. Setiap kali menonton pertandingan sepak bola maka kita akan melihat dua sisi disana. Di satu sisi ada pemain-pemain yang berjuang di lapangan, berusaha mati-matian untuk memenangkan pertandingan. Jatuh bangun, jungkir balik, bahkan tidak jarang dalam keadaan cedera sekalipun mereka masih juga memaksakan diri untuk bertanding, memberi yang terbaik dari mereka. Di sisi lain kita melihat pula ribuan supporter atau penonton yang akan bersorak mensupport tim favoritnya, termasuk kita yang menonton dari layar televisi. Layaknya penonton yang tidak terlibat langsung dalam permainan, kita akan puas hanya dengan menikmati pertandingan. Kita bersorak ketika gol terjadi, berteriak memprotes keputusan wasit, juga dengan mudah mencela ketika sebuah tim tampil buruk. Komentar-komentar pedas, menghujat pelatih atau pemain pun akan sangat mudah kita keluarkan. Kita bahkan sering menjadi komentator-komentator yang seolah lebih baik dari pelatih.

Sebuah pertanyaan besar hadir buat saya selama menonton Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ini. Dalam kehidupan kerohanian kita, siapakah kita sebenarnya? Apakah kita berada di posisi pemain atau masih sebagai penonton? Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan, atau bertindak sebagai pemain. Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terjun langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan di dunia ini. Melayani Tuhan? Itu tugas pendeta atau pengerja-pengerja saja. Urusan duniawi seringkali jauh lebih menggiurkan ketimbang menerima panggilan sebagai wakil Tuhan yang dianggap menyita waktu dan merugikan secara materi.

Apakah Tuhan hanya meminta sebagian orang saja untuk terjun langsung secara aktif dalam mewartakan Injil? Tentu saja tidak. Sebab Firman Tuhan secara tegas berkata: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Sebuah bangsa, itu bicara tentang keseluruhan, dan bukan hanya segelintir pribadi. Dan kita dikatakan imamat yang rajani, imam-imam yang melayani raja atau royal priesthood, yang tidak lain kepunyaan Allah sendiri. Dan ini bukanlah pemberian tanpa maksud, karena kita dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali di muka bumi ini. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20).

Untuk menjalankan itu semua, selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. “Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.” (Lukas 10:19). Dan Yesus juga berkata “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri sebagai penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini.

Tugas yang diberikan kepada kita tidaklah mudah. Itu adalah pekerjaan besar yang tidak akan sanggup dilakukan oleh segelintir orang saja. Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Pada kenyataannya lebih banyak orang yang hanya datang ke gereja sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Yesus sendiri sudah berkata, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Matius 9:37). Seharusnya kita tersentak mendengar kata-kata Yesus ini dan mulai mau berpikir untuk melakukan karya nyata kita secara langsung.

Marilah kita menjadi terang yang bercahaya dalam kehidupan kita. Yesus menghimbau kita “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya berada dibawah kolong atau dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika terletak di atas. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton, apalagi hanya sibuk mengomentari, memprotes, mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata. Siapkah anda bermain dalam arena Kerajaan Allah? Siapkan diri anda, jadilah pemain-pemain tangguh dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatanNya bagi kita.

Kita adalah pemain-pemain tangguh dan bukan penonton

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.