Pelita yang Menerangi Jalan

Ayat bacaan: Mazmur 119:105
====================
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Tengah mengetik sebuah artikel, listrik di rumah tiba-tiba padam. Saya tidak berada di dekat senter atau sumber penerangan lainnya sehingga harus melangkah perlahan menuju tempat-tempat dimana senter mungkin saya letakkan. Secara tidak sengaja dalam melangkah di kegelapan kaki saya terantuk meja. Sakitnya lumayan, dan tidak jauh dari sana kaki saya kembali berbenturan dengan pinggiran sofa. Senter tidak juga ditemukan meski saya sudah meraba beberapa rak dan meja. Saya akhirnya menemukan lilin tapi kemudian harus menuju ke dapur untuk mengambil korek api. Kesulitan timbul karena gelap dan kemudian harus berjalan di dalam gelap. Mudah bagi kita untuk melangkah pada tempat yang terang, tapi bagaimana jika harus meniti langkah dalam kegelapan? Itu akan sangat sulit, terlebih apabila kita berada pada sebuah tempat yang tidak kita kenal. Mungkin ada batu di depan anda, lubang, tangga dan kendala-kendala lainnya sehingga apabila tidak hati-hati anda bisa terjatuh dan celaka.

Banyak orang yang berjalan hidup dalam gelap. Saya bukan berbicara mengenai ada lampu atau sinar matahari atau tidak, tapi berbicara mengenai ketidaktahuan kita untuk menyikapi hidup di dunia ini. Kita tidak tahu seperti apa kebenaran firman Tuhan, apa yang menjadi ketetapanNya, apa yang berkenan di mataNya dan mana yang mengecewakan atau malah Dia anggap sebagai sebuah kejahatan. Banyak orang tidak sadar bahwa dunia terus berusaha menyesatkan kita dengan berbagai pengajaran, ide-ide dan pemahaman-pemahaman yang keliru. Mereka mengira bahwa itulah yang benar. Apa yang diajarkan dunia mengenai kebahagiaan merupakan sesuatu yang mutlak untuk diikuti dan dikejar. Mereka tidak tahu bahwa ada begitu banyak bentuk-bentuk pemahaman yang sesungguhnya bertolak belakang dengan kebenaran menurut Kerajaan Allah. Jika ini yang terjadi, bukankah itu sama saja dengan berjalan dalam kegelapan? Seperti halnya kita melangkah dalam gelap, demikian pula halnya menjalani hidup tanpa pengetahuan akan firman Tuhan. Setiap saat kita bisa tersandung, jatuh dan binasa. Berada dalam dunia yang asing buat kita lengkap dengan penyesatan-penyesatannya, jika tidak hati-hati maka kita bisa mendapat banyak masalah dan kehilangan kesempatan untuk memperoleh anugerah keselamatan yang sesungguhnya sudah diberikan kepada kita lewat karya penebusan Kristus.

Lihat apa yang dikatakan Pemazmur. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). Your word is a lamp to my feet and a light to my path, demikian bunyi dalam bahasa Inggrisnya. Pemazmur tahu bahwa dunia ini sesungguhnya penuh kegelapan dan kita memerlukan cahaya yang bisa menerangi sehingga setiap langkah kita bisa terawasi dan dijaga dengan baik. Sebuah pelita atau lampu itu bertujuan untuk menerangi. Bayangkan seandainya anda berjalan dalam kegelapan tapi ada sebuah lentera atau pelita yang bisa menerangi jalan, anda tentu akan aman dalam melangkah bukan? Seperti itulah fungsi sebuah pelita terlebih dalam kondisi dan situasi dimana semuanya gelap dan penuh bahaya.

FirmanNya, itulah yang akan mampu membimbing setiap langkah kita, bertindak bagai pelita bercahaya untuk menerangi setiap langkah agar kita bisa tiba pada sebuah kemenangan seperti yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Jika demikian, bayangkan apabila kita mengabaikan untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Bayangkan jika kita tidak mengetahui apa-apa tentang janji Tuhan dan peringatan-peringatanNya, maka tidak akan ada pelita apapun yang menuntun kita dalam melalui kegelapan yang panjang.

Tuhan Yesus mengingatkan kita akan pentingnya menyiapkan hati agar firman yang ditabur bisa tumbuh dan berbuah dengan berlipat ganda pada Markus 4:1-20. Salah satu kondisi ‘tanah’ yang bisa membuat firman tidak tumbuh dan berbuah dikatakan seperti semak duri. “Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.” (Markus 4:19-20). Perhatikan bahwa firman, meski sudah ditabur, dengan kata lain sudah kita dengar dan terima, tetaplah bisa tidak bertumbuh apalagi berbuah apabila kita masih terkontaminasi dengan berbagai tipu daya kekayaan, menghamba pada uang dan keinginan-keinginan kedagingan atau duniawi lainnya. Itu ternyata bisa membuat firman yang ditaburkan tidak berbuah. Itu menandakan bahwa firman Tuhan belumlah bertindak sebagai pelita yang menerangi kaki dan menerangi jalan kita.

Paulus mengingatkan bahwa “orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.” (2 Timotius 3:13) Bukankah itu masih merupakan gambaran dunia yang kita hidupi hari ini, yang sepertinya lebih parah dibanding pada saat itu? Menyesatkan dan disesatkan. Itu lingkaran setan yang akan sangat berbahaya jika kita terjebak didalamnya. Karena itulah kita harus memastikan jangan sampai terjebak disana, dan caranya pun telah disampaikan dalam ayat berikutnya. “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (ay 14). Tetaplah berpegang pada kebenaran yang telah diterima. Pastikan bahwa firman yang ditabur bisa bertumbuh dan berbuah, dan jangan lupakan orang-orang yang sudah menyampaikannya kepada kita. Itu juga berarti bahwa kita harus tetap berada dalam lingkungan dimana orang-orangnya bukan terdiri dari orang-orang yang saling menyesatkan dan disesatkan melainkan berisikan orang-orang yang hidup dalam kebenaran dan menghidupi kebenaran. Itu akan membuat firman Tuhan berfungsi dengan baik sebagai pelita yang bisa menerangi kita melangkah di dalam kegelapan.

Kita butuh cahaya agar bisa melangkah dengan aman dalam jalan yang benar. Selain itu, Tuhan Yesus sudah mengatakan bahwa kita harus bisa berfungsi menjadi terang, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:15), dan itu tidak bisa kita lakukan jika kita masih berada dalam kegelapan. Dunia yang kita hidupi hari ini adalah sebuah dunia yang sedang lenyap dengan keinginannya (1 Yohanes 2:17). Pastikan agar kita bukan termasuk bagian dari isi dunia yang sedang lenyap dengan segala keinginannya. Kita harus hidup sebagai orang-orang yang melakukan kehendak Allah, dan orang-orang seperti inilah yang akan hidup selama-lamanya. Jika anda ingin menjadi terang, anda harus terang terlebih dahulu. Firman Tuhan bisa menjadi pelita yang menuntun jejak langkah anda agar tetap berada dalam koridor yang benar.

“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.” (Yohanes 1:5) 

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.