Pelita Hati: 21.09.2017 – Belas Kasih bukan Persembahan


Bacaan Matius 9:9-13


PADA waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat.9:11-13)


Hukum Farisi itu memagari orang untuk berelasi dengan orang-orang yang mereka anggap pendosa, mereka harus dikucilkan. Hal ini bertolakbelakang dengan Tuhan yang selalu mengedepankan belas kasih dan memberi harapan bagi orang yang terpuruk. Dengan kata lain, Yesus tidak mendidik murid-murid-Nya mengusahakan kesucian dengan menjauhkan diri dari mereka yang dinilai hina, tetapi justru merangkul dan mengangkatnya agar terjadi pertobatan. Bukan berarti kita harus mengikuti arus mereka, justru kita harus berani memberi pencerahan hati  melalui kesaksian hidup kita yang nyata. Jika kita mampu membawa satu orang saja kepada pertobatan, akan terjadi sukacita  di surga sama seperti seorang gembala yang menemukan satu ekor domba yang hilang dan tersesat. Inilah tugas murid Tuhan, inilah tugas kita.


Bagai sekeping mata uang dua sisi,
rendah hati dan saling mengasihi.
Jauhkan diri dari sikap Farisi,
dekatkan hati untuk mengasihi.


dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem rm.is


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.