Pelita Hati: 06.11.2017 – Tanpa Pamrih


Bacaan Lukas 14:12-14


Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.”


MEMBERI tanpa mengharap kembali, begitulah kurang lebihnya inti dari warta sabda hari ini. Kasih sejati adalah memberi tanpa mengharap kembali. Inilah puncak tertinggi dari penghayatan kasih itu, yaitu kasih kepada orang yang tak bisa membalaskan kasih yang sama kepada kita.


Hal ini sangat bertolak belakang dengan gaya dan model penghayatan hidup orang-orang Farisi, yaitu Do ut Des, saya memberi agar Engkau memberi atau memberi dengan pamrih. Karenanya ibadah yang dijalankan oleh orang-orang Farisi adalah dengan pamrih atau melakukan sesuatu dengan harapan tertentu. Kerendahan hati adalah membiarkan hidup dan bakti kita sebagai persembahan dan pujian tanpa berharap akan balas jasa.


Semoga kita bisa menjalani hidup dengan merdeka, lepas bebas dan tanpa pamrih.


Kain lurik indah mempesona,
buah tangan dari Jogjakarta.
Hidup baik untuk sesama,
penuh kasih dan penuh cinta.


dari Papua dengan cinta,
Berkah Dalem, rm.is


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.