Pelita Hati: 01.10.2017 – Iman Otentik Bukan ‘Lipstik’

Bacaan Matius 21:28-31 

TETAPI apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Yesus sedang menyadarkan orang Farisi bahwa mereka seperti anak sulung yang bermulut manis dengan mengatakan “baik Bapa” tetapi hatinya tidak sesuai dengan komitmen dan tindakannya alias tidak berbuat apa-apa. Model ini layak disebut iman ‘lipstik’ atau artifcial.

Anak kedua menggambarkan sikap yang berani menyadari kesalahannya dan segera bertobat alias melaksanakan perintah Bapa. Semoga mampu menjadi  ‘anak baik’ yang menjawab “Ya” dan segera melaksanakan. Semoga kita mampu menjadi anak-anak Tuhan yang memiliki komitmen dan kesanggupan untuk memadukan kata-kata dan perbuatan nyata. Inilah yang disebut iman otentik.

Teh Tarik nikmat di lidah,
sedikit gula makin berasa.
Munafik itu jahat dan salah,
menuju pada perbuatan dosa.

dari Papua dengan cinta
Berkah Dalem rm.is

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Stephanus Istoto Raharjo Pr Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang kini berkarya di Keuskupan Manokwari-Sorong; Pembantu Ketua III Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPK) St. Benediktus di Sorong, Papua Barat.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.