Pelayanananku dan Pelayananmu, Kok Beda?

melayani by adrianpei

MELAYANI itu apa sih? Gimana caranya melayani? Pelayanan apa yang cocok untukku?

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan hal yang cukup menggelitik untuk diusik. Banyak hal yang dapat menjelaskan makna dari kata “melayani” itu sendiri. Melayani bagi semua orang pasti memiliki pandangan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Namun apa pun itu, satu hal yang perlu digaris-bawahi terkait melayani adalah dimana ketika seorang ingin melakukan pelayanan, ada baiknya ia menjadi garam. Karena garam mudah larut di berbagai media, namun dengan larutnya garam ini, orang lain dapat merasakan berkatnya yaitu rasa yang terkandung di dalam garam itu sendiri.

Fiat Voluntas Tua
Seperti inilah yang diharapkan Tuhan kepada kita umatnya. Mari bercermin pada sosok Bunda Maria yang telah mengajarkan kita makna pelayanan itu sendiri. Layaknya istilah Fiat Voluntas Tua yang mengandung makna “Terjadilah padaku menurut kehendakMu” menyadarkan, bahwa kita merupakan alat yang dipakai Allah untuk menjadi berkat bagi sesama dan demi kemuliaan Tuhan Allah itu sendiri.

Berani menjadi pelayan
Dalam Injil Matius 4:18-22, dijelaskan bahwa kita merupakan murid Kristus, kita semua adalah pribadi yang terpanggil dan terpilih. Maka, untuk melayani tidak perlu modal ini-itu dan segala macam lainnya. Kita hanya diminta kerelaan hati untuk mengikut Kristus dan berani mewartakan kabar suka cita serta menjadi berkat bagi sesama. Seperti yang dituliskan dalam Injil Matius 5:13 yang berbunyi “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Pelayanan apa pun yang dilakukan, asalkan itu berkenan bagi Allah, maka itu merupakan berkat. Kalau konteks pemikiran melayani hanya untuk mencari kesenangan sesaat, lebih baik dipikirkan kembali untuk menyebutnya sebagai pelayanan. Mari meneladani semangat pelayanan Bunda Maria, sekalipun hatinya sedih melihat Putra-Nya yang tunggal disiksa, dicaci-maki, dan direndahkan.

Namun hal itu tidak membuatNya mundur bahkan Ia tetap setia menemani sampai di kayu salib. Semangat inilah yang harus ditanamkan dan dihayati pada setiap karya pelayanan yang kita lakukan. Jangan karena satu dua hal yang membuatmu demotivasi, maka langsung berhenti untuk melakukan pelayanan.

Ingatlah bahwa Tuhan selalu beserta kita sekarang dan selama-lamanya dan tidak habis berkat tercurah kepada kita, umatnya.

Semangat melayani, kawan.

Kredit foto: Ilustrasi (ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.