Pelayanan dalam Iman Versus Sukses dan Kemapanan

Serve-Others. by Yoga

MINGGU BIASA 5, B; 8 Pebruari 2015
Ayb. 7:1-4.6-7; 1Kor. 9:16-19.22-23; Mrk. 1:29-39

Injil hari ini merupakan penutup tentang kisah sehari pada awal karya Yesus. Dia memanggil murid-murid pertama, mereka ikut (Mrk. 1:16-20), Yesus mengajar di sinagoga, orang takjub mendengar ajaranNya, apalagi Yesus mengusir roh jahat dari orang yang kerasukan (ay. 21-28). Siangnya Yesus menyembuhkan mertua Simon. Sesudah magrib, Yesus menyembuhkan banyak orang yang sakit. Pagi-pagi, semua orang masih mencari Yesus untuk disembuhkan lagi. Yesus mendapat kesempatan pada awal karyaNya untuk menjadi penyembuh yang sukses di Kapernaum, dan dapat menikmati keberhasilannya dalam kehidupan yang nyaman dan mapan. Menyembuhkan orang adalah perbuatan baik dan menandakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Tetapi kesembuhan tidak otomatis menghasilkan pertobatan. Orang perlu mendengar Yesus dan menjadi percaya kepadaNya. Karena itu Yesus memilih untuk menjadi pewarta Injil, Kabar Baik kemana-mana, bukan berhenti di satu tempat saja. Yesus tidak memilih menjadi sukses dalam karyaNya. Ia memilih pelayanan sebagai keberhasilanNya dalam mengikuti kehendak Allah, BapaNya.

Penduduk Kapernaum tentu senang dengan kehadiran Yesus. Masalah penyakit diantara mereka sudah terpecahkan. Karena itu mereka ingin menahan Yesus untuk tetap tinggal di sana. Situasi orang Kapernaum menggambarkan situasi hidup manusia; yang penuh kesulitan dan menginginkan adanya pemecahan masalah; penyembuhan dari sakit dan adanya jaminan bahwa mereka akan seterusnya dibebaskan dari masalah itu. Sukses menghasilkan kesenangan dan menjurus pada kemapanan. Orang cenderung memilih mapan pada hal-hal yang dipandangnya baik. Perubahan, sering tidak diinginkan karena tidak menjamin akan lebih baik. Orang cenderung mapan karena hasil yang diperoleh memuaskan, atau sekurang-kurangnya tidak membuat hidup menjadi lebih buruk.
Berapa orang Kapernaum yang akhirnya percaya kepada Yesus? Nampaknya tidak banyak. Karena Yesus pernah mengeluh tentang kota itu yang tidak mau bertobat, meski Yesus paling banyak membuat mukjijat di sana (Mat. 11:23). Sepanjang karya Yesus, entah berapa ribu orang yang disembuhkanNya. Injil hanya mencatat Maria Magdalena, Bartimeus dan beberapa orang lain yang mengikuti Dia dalam pelayanannya. Para rasul terkesan pada kuasa penyembuhanNya. Mereka bangga bahwa guru mereka sukses; karena itu mereka membantu orang banyak mencari Yesus. Tentu mereka berharap Yesus masih akan menyembuhkan semua orang yang datang itu. Ternyata Yesus mengajak mereka pergi, meninggalkan tempat yang menjanjikan sukses begitu besar untuk berkeliling kemana-mana. Sebaliknya, mertua Simon. Sesudah sembuh, ia bukan pamer kesembuhan kepada orang banyak atau minta istirahat, tetapi melayani Yesus dan rombonganNya.
Jadi kita melihat ada dua pola: sukses yang memberi kenyamanan dan cenderung memapankan orang yang diusahakan penduduk Kapernaum dan dialami para rasul disatu sisi. Disisi lain, ada sikap pelayanan sebagai bagian dari pertumbuhan iman. Dalam hidup sehari-hari, kecenderungan umum adalah sukses dan kemapanan. Bahkan dalam pelayanan pun ada bahaya ini. Dalam kegiatan yang jelas berhasil dan memberi kenyamanan, orang cenderung menyempitkan pelayanannya dalam bidang itu saja. Romo Kardinal, waktu masih menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta, -mengkritisi kelompok-kelompok Paduan Suara yang berlatih lebih serius untuk lagu-lagu utama yang menghasilkan tepuk tangan, daripada lagu-lagu yang mengajak umat untuk bernyanyi. Kita mudah berpuas diri dan menyatakan: ini sudah baik dan sudah cukup. Kita berpusat pada hasil, bukan pada Yesus.
Yesus menyembuhkan orang agar mereka dapat mengalami kehadiran Kerajaan Allah dan bersedia mendengarkan dan pecaya kepadaNya. Ibu Mertua Simon disembuhkan dan lalu melayani Yesus dan para muridNya. Melalui mereka kita dapat belajar: Kesembuhan, kurnia, pengabulan doa yang kita terima, tidak hanya untuk kepentingan kita sendiri, tetapi untuk melayani Tuhan dan rombonganNya, yaitu Gereja.

Seorang pastor, suatu siang masuk ke Gereja dan melihat ada orang yang berlutut, sedang berdoa. Orang itu nampaknya kumuh, tidak bercukur beberapa hari. Bajunya juga tidak rapih. Tapi orang itu hanya berlutut sebentar, menundukkan kepala, lalu berdiri dan keluar. Tiap siang, orang ini datang berlutut sebentar, sambil membawa bekal makan siangnya. Pastor itu semakin curiga. Ia khawatir orang itu pencuri. Maka suatu siang ia bertanya kepada orang itu: “Bapa buat apa disini?” orang itu ternyata bekerja di dekat Gereja. Waktu istirahat makan siang itu ½ jam dan itulah saat dia berdoa, untuk memulihkan tenaga dan kekuatannya. “Saya cuma punya waktu sedikit. Karena itu saya berlutut dan bicara sebentar kepada Tuhan: saya datang lagi, untuk menyapaMu, Tuhan. Saya sangat bahagia karena kita saling menemukan sebagai sahabat dan Tuhan mengambil dosa-dosa saya. Saya tidak tahu bagaimana berdoa. Tetapi saya memikirkanmu Tuhan, setiap hari. Jadi, Yesus, ini Jim. Saya lapor, saya hadir.” Pastor itu merasa sangat konyol. Dia mengatakan kepada Jim, bahwa doanya bagus. Dia boleh datang dan berdoa kapan saja. Jim tersenyum. “Terimakasih, Romo.” Dia segera pergi. Pastor itu berlutut di depan altar. Dia tidak pernah berbuat begitu sebelumnya. Hatinya tersentuh, hangat oleh cinta dan dia bertemu Yesus disana. Air matanya keluar dan dalam hati dia mengulangi doanya Jim: “saya datang lagi, untuk menyapaMu, Tuhan. Saya sangat bahagia karena kita saling menemukan sebagai sahabat dan Tuhan mengambil dosa-dosa saya. Saya tidak tahu bagaimana berdoa. Tetapi saya memikirkanmu Tuhan, setiap hari. Jadi, Yesus, ini saya. Saya lapor, saya hadir.”

Lewat tengah hari, pastor itu menyadari bahwa Jim sudah beberapa hari tidak datang. Sesudah beberapa hari, pastor itu mulai khawatir. Lalu dia ke pabrik, dan mendapat kabar bahwa Jim sakit. Di rumah sakit, para perawat memang mencemaskan Jim. Tetapi ada kabar baiknya. Seminggu jim dirawat disana, membawa perubahan pada ruangan dimana dia dirawat. Senyumannya, kegembiraannya menular. Orang berubah karena sukacita yang ditularkan Jim. Tapi suster kepala tidak mengerti mengapa Jim bisa begitu bahagia. Tidak ada bunga, tidak ada kartu, tidak ada tamu yang menjenguk. Pastor waktu menjenguk, menceritakan keprihatinan suster kepala itu. Tidak ada tamu, tidak ada siapa-siapa. Jim kelihatan keheranan. Dia menjawab dengan senyum. “Suster itu salah, Romo. Dia tidak tahu. Selama saya sakit, tiap siang, Dia ada disini. Teman baik saya. Dia duduk disitu, memegang tangan saya, membungkuk dan berbisik kepada saya: “Saya datang lagi, untuk menyapamu, Jim. Saya sangat bahagia karena kita saling menemukan sebagai sahabat dan Saya mengambil dosa-dosamu. Saya selalu senang mendengar kamu berdoa. Saya memikirkanmu setiap hari. Jadi, Jim, ini Yesus. Saya lapor, saya hadir.”[1]

Untuk apa kita bekerja dan melakukan semua kegiatan kita? Kita yang berkumpul disini, rajin berdoa dan seringkali mengalami doa-doa kita dikabulkan. Tetapi apa buah pengabulan doa-doa itu? Agar kita dapat kembali ke hidup normal, ke cara hidup kita yang lama, lengkap dengan kebiasaan-kebiasaan buruk kita; untuk kita nikmati dan berpuas diri? Kita dapat memilih seperti orang Kapernaum yang cenderung mapan dan tidak tumbuh dalam kesediaan mengikuti Yesus. Melayani dan mengikuti Yesus, bisa seperti Paulus, atau Fransiskus Xaverius; pergi melayani kemana-mana. Tetapi bisa juga seperti ibu Maria, setia ada bersama Yesus. Bisa seperti mertua Simon, melayani Tuhan Yesus dan GerejaNya. Atau bisa sesederhana Jim. Hadir sejenak menyapa Tuhan dan membagikan kegembiraan karena bertemu dan bersama Tuhan kepada sesama. Semoga buah-buah pekerjaan dan kegiatan kita, membuat kita semakin mengalami Tuhan datang menyertai kita dan mendorong kita untuk semakin tumbuh dalam kesediaan mengikuti Dia dan melayani sesama. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.