Pelatikan Pengurus PUKAT KAJ 2016-2018: Jadilah Pengusaha Peduli Ekologi

Misa syukur sekaligus acara pelantikan dan pengukuhan jajaran kepengurusan PUKAT KAJ masa bakti periode 2016-2018 bersama Bapak Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr, Ignatius Suharyo, Romo Moderator PUKAT KAJ RD Stef. Roy Djakarya (kanan), dan Delegatus/Vikep KAJ untuk karya non parokial-kategorial RP Andang Listya Binawan SJ (kiri)

MINGGU sore tanggal 5 Juni 2016 kemarin,  puluhan orang berpakaian atasan putih memenuhi rumah kediaman Eddy Sutrisno, pengusaha pembangun properti dan alumnus Kolese Loyola Semarang, di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Mereka merupakan jajaran pengurus baru PUKAT KAJ (Kelompok Profesional dan Usahawan Katolik) hasil kocokan baru untuk masa bakti  periode 2016-2018.

Mereka bersama didaulat  turut menghadiri misa syukur dan acara pelantikan pengurus baru PUKAT KAJ. Perayaan ekaristi dengan intensi khusus ini dipimpin oleh Bapak Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo sebagai selebran utama bersama dua konselebran yakni Romo St. Roy Djakarya selaku moderator PUKAT KAJ dan Romo Andang Listya Binawan SJ selaku Vikep KAJ untuk karya-karya non parokial kategorial.

Khotbah misa kemarin disampaikan oleh Romo Andang yang mengaku secara  mendadak ditugasi oleh Bapak Uskup untuk memberikan homili.

Baca juga:  

Ekologi dan ekonomi

Romo Andang yang dikenal sebagai penggiat pelestarian lingkungan hidup hingga sampai mendapat julukan “Romo Sampah” ini  memberi apresiasi atas pilihan tanggal 5 Juni –Hari Lingkungan Hidup–  sebagai waktu pelantikan. Kebetulan yang menarik  lantas dia pakai untuk meningkatan kesadaran umat hadirin yang mayoritas adalah pengusaha untuk lebih peduli kelestarian lingkungan hidup.

Pada awalnya Romo Andang menjelaskan relasi antara kata “ekonomi” dan kata “ekolog”i. “Ekologi dan ekonomi merupakan dua bagian tak terpisahkan,” demikian jelas ahli hukum Gereja ini.

Kedua kata tersebut berasal dari etimologi kata yang sama. Ekonomi berasal dari kata bahasa Yunani yakni  oikos (rumah tangga) dan nomos (kehidupan) yang berarti kegiatan untuk menggerakkan rumah tangga alias roda kehidupan.  Sedangkan ekologi berasal dari kata oikos dan logos (pengetahuan) yaitu semua pengetahuan terkait dengan bagaimana mengeloka hidup rumah tangga.

Maka ekonomi merupakan ‘anak’ dari ekologi.

Janga hanya berpikir bisnis

Romo Andang Binawan SJ lalu mengisahkan sebuah humor tentang seorang pengusaha yang memiliki tujuh anak. Ketika mengalami  sakit serius di ambang sakratul maut, maka si pengusaha itu lalu memanggil satu per satu anaknya hingga semua rupanya bisa hadir. Bukannya senang, pengusaha tersebut malah khawatir karena siapa yang menjaga toko kalau semua orang hadir menemaninya?  Maka dia pun gak jadi sakit lebih parah lagi, melainkan malah bisa menjadi sembuh.

Cerita itu masih berlanjut,  ketika si pengusaha benar-benar sudah meninggal. Saat di tempat penantian, dia melihat kerumunan terbagi dua, satu antrian panjang dan satu antrian yang jauh lebih pendek. Ketika tiba gilirannya, kehadirannya lalu  dicek oleh Santo Petrus.

Si pengusaha ini termasuk pelaku bisnis yang punya nurani dan memegang prinsip etika bisnis dengan baik. Karenanya, Santo Petrus lalu mempersilakan dia masuk ke antrian pendek. Tetapi si pengusaha menolak, “Saya sebaiknya bisa masuk di jalur antrian yang panjang saja, supaya bisa buka kios dan berdagang.”

Maka, umat pun dibuat tertawa terpingkal-pingkal.

Romo Andang lalu menggarisbawahi inti cerita rekaan tersebut. Para pengusaha jangan sampai asyik berbisnis sampai melupakan kehidupan yang sesungguhnya. Melihat kembali pesan Yesus sebelum naik ke surga yaitu wartakanlah Injil ke semua makhluk –dan bukan kepada manusia– seperti kata Penginjil Lukas,  maka ekonomi perlu memberikan kehidupan dan kesejahteraan kepada semua makhluk di atas bumi. “Jadi,  bukan hanya manusia saja, tapi semua mahkluk,” kata Romo Andang L. Binawan SJ.

Gerakan Silih Ekologis

Romo Andang juga menyinggung mengenai program Gerakan Silih Ekologis yang kebetulan diluncurkan pada hari yang sama dan sudah ditandatangani oleh Uskup Agung KAJ. Umat diajak untuk peduli akan emisi karbon dan berpartisipasi memberikan silih. Setiap satu jam penerbangan menghabiskan sekitar 30 Kg karbon, maka sebagai kompensasi atau silih umat bisa memberikan donasi sebesar Rp10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) per jam penerbangan yang dihabiskannya.

Dana yang akan ditampung di rekening khusus Silih Ekologis KAJ tersebut selanjutnya digunakan untuk program penanaman hutan di  Ciputat dan Tangerang.

Belajar bersama

Setelah berkat pengutusan, Maria Josephine  Ina Susanti dalam sambutannya sebagai Ketua Umum baru PUKAT KAJ lalu mengajak segenap pengurus untuk belajar bersama dalam tiga hal keutamaan yaitu (1) komitmen, (2) pasrah kepada Tuhan yang Maha Rahim, dan (3) melayani dengan suka cita, penuh kasih, dilandasi kerendahan hati.

Mgr. Ignatius Suharyo pada waktu melantik para pengurus PUKAT KAJ memanjatkan harapan, “semoga semua yang terlibat menghayati cinta kasih sejati dalam hidupnya.”

avatar Bekerja di sebuah lembaga nirlaba di Jakarta.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.