Pelangi yang Indah Bagai Senyum Sapa Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 104:24
=======================
“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.”

Sukakah anda melihat pelangi? Buat saya, pelangi adalah sebuah fenomena alam yang sangat indah. Untaian warna yang membentang di langit, bagaikan kalung warna-warni yang menghias ‘atap’ alam dimana kita hidup. Seperti itu pendapat saya tentang pelangi sewaktu masih kecil. Secara ilmiah jika ditilik dari ilmu fisika, pelangi terbentuk lewat peristiwa dispersi (hamburan) cahaya matahari ketika menembus butiran air hujan di udara, sehingga membuat cahaya tersebut terurai menjadi warna-warna spektrum. Karena ada faktor butiran air yang menimbulkan spektrum ketika dilewati oleh sinar, maka pelangi hanyalah dapat kita lihat apabila hari hujan, kecuali jika anda tinggal atau berada di dekat air terjun, disana pun pelangi bisa muncul.
Hujan adalah salah satu keadaan cuaca. Bicara soal cuaca, kita seringkali mudah mengeluh dan sulit merasa puas ketika berada dalam sebuah keadaan cuaca. Ketika hari panas kita protes karena merasa terpanggang dibawah terik matahari, ketika hari hujan kita protes karena jalan licin, jalan raya menjadi macet dan genangan air di jalan bisa membuat sepatu atau sendal bahkan celana bagian bawah kita basah. Tapi ketika udara mendung kita pun mengeluh karena jemuran menjadi lama kering. Jika kita di belahan dunia yang bisa turun salju, kita pun akan mengeluh karena terlalu dingin. Pendeknya, cuaca seperti apapun bagi sebagian orang hanyalah merupakan kambing hitam untuk membenarkan kebiasaan mengeluh dan gampang emosi yang ada pada dirinya. Mengapa kita tidak melakukan sebaliknya, belajar bersyukur dalam kondisi cuaca seperti apapun? Daud memilih untuk melakukan itu, dan kita bisa meneladani caranya memandang alam, cuaca dan lain-lain lewat sudut pandang yang mengarah kepada pengenalan akan Tuhan beserta kemuliaanNya yang luar biasa besar.

Daud berkata: “Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.” (Mazmur 104:24). Daud melihat betapa luasnya alam semesta, banyaknya keragaman hewan dan tumbuhan, bukit dan lembah, darat dan laut, beserta segala yang hidup di atas atau didalamnya, lalu menyadari bahwa itu semua diciptakan oleh Dia atas dasar kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita. Semua ini Tuhan ciptakan dengan begitu indah tapi kerap luput dari pandangan kita. Kebanyakan alasannya adalah karena tertutupi oleh keluh kesah atau kesibukan kita kepada hal-hal lainnya. Padahal segala keindahan yang tak terhitung banyaknya dan tak terkatakan indahnya ini  seharusnya lebih dari cukup menjadi dasar bagi kita untuk mengucap syukur kepada Sang Penciptanya.

Itu baru dari sudut keindahan bumi beserta isinya dan alam semesta yang tak terukur besarnya. Bagaimana mengenai kita, manusia? Dalam ukuran bumi apalagi alam semesta, kita hanyalah bagian yang sangat kecil yang hidup didalamnya. Tetapi tidak demikian di mata Tuhan. Meski kecil, kita secara istimewa dikatakan diciptakan Tuhan sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri. Lalu lihat apa kata Tuhan mengenai kita: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” (Yesaya 49:15-16). Bukankah ini sebuah pernyataan istimewa dari Tuhan langsung tentang bagaimana dalamnya Dia mengasihi kita?

Yesus memberi perumpamaan lain akan hal ini. “Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” (Lukas 12:6-7). Kalau kita saja sudah kecil, bayangkan kecilnya burung pipit dibanding jagad raya. Tapi burung pipit yang kecil dan lemah saja diperhatikan Tuhan. Mengapa kita, manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri harus ragu atau khawatir tidak dipedulikan Tuhan? Yang pasti, tangan Tuhan yang menciptakan alam semesta yang begitu besar, luas dan tak terukur berikut isinya adalah juga tangan yang sama yang memeluk kita yang begitu kecil ini. Daud menyadari ini semua dan berkata: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Dan ia lalu menutup Mazmur bagian ini dengan indah: “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (ay 10).

Kita bisa saja disibukkan dengan berbagai kesibukan atau pergumulan hidup. Benar, semua itu memerlukan perhatian dan harus disikapi serius, tetapi jangan sampai lupa membagi waktu untuk menghargai dan mensyukuri segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap hari lewat segala keindahan alam, hembusan angin, goyang dedaunan dan bunga-bunga yang harum dan indah. KasihNya hadir lewat hujan dan sinar matahari. Bahkan untaian pelangi bisa terlihat sebagai senyum sapa Tuhan yang ramah bagi anak-anakNya. Seisi alam menggambarkan kebesaranNya, dan semua itu adalah hal-hal yang kita lihat sehari-hari di sekitar kita. Tangan yang sama yang Dia pakai untuk menciptakan segala sesuatu Dia pakai pula untuk memeluk dan menjaga kita. Sudahkah anda mengucap syukur atas kasih setia, penyertaan dan kebaikanNya hari ini?

“Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (Mazmur 105:1)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.