Pelanduk di Bukit Batu

Ayat bacaan: Amsal 30:26
===================
“pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu”

Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan bisa menjadi tempat perlindungan yang sangat kokoh, yang digambarkan Daud sebagai bukit batu, kubu pertahanan, penyelamat, tempat berlindung, perisai, tanduk keselamatan dan kota benteng baik bagi dirinya maupun bagi kita semua. (Mazmur 18:3). Seperti itulah janji perlindungan Tuhan bagi kita yang percaya kepadaNya, mau mengandalkanNya dalam menghadapi segala ketidakpastian, ketidakadilan maupun kejahatan yang terus terjadi di muka bumi ini. Hari ini mari kita lihat hal ini dari sisi lain, yaitu lewat cara hidup seekor hewan kecil yang disebut pelanduk.

Pelanduk adalah sejenis hewan mamalia yang berukuran kecil. Pelanduk masih tergolong keluarga rusa, tapi ukuran pelanduk dewasa hanyalah kurang lebih sama dengan kelinci dewasa. Selain ukurannya kecil, pelanduk juga tergolong hewan lemah. Dalam habitatnya di hutan lebat, pelanduk bisa menjadi santapan empuk dari hewan-hewan lain yang lebih besar darinya. Burung elang misalnya, sering menyambar pelanduk dengan sekali terjun. Begitu pula ular dan hewan-hewan buas lainnya. Kalau begitu, bagaimana cara pelanduk mampu melindungi dirinya? Ternyata pelanduk diperlengkapi Tuhan dengan naluri untuk membuat rumahnya di bukit batu. Ya, pelanduk melindungi dirinya dari keganasan rimba dengan cara berlindung di balik bebatuan. Tanpa itu akan mustahil bagi pelanduk untuk dapat bertahan hidup. Di dalam Mazmur 104:18 ada ayat yang menyebutkan hal itu: “bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk.” 

Dalam Amsal, salah satu hikmat mengenai empat hewan kecil yang berasal dari Agur adalah pelanduk. Rangkaian ayat tentang empat hewan kecil ini sungguh menarik karena menggambarkan bagaimana kecakapan beberapa spesies yang terbilang lemah. Pelanduk merupakan hewan kedua yang disebut disana, selain semut dengan etos kerjanya yang rajin, belalang yang kompak dan cicak yang keberadaannya bisa sampai diistana tanpa ada yang mau mengusik. Pelanduk dikatakan mampu bertahan hidup dengan cara membangun rumahnya di bukit batu. “pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu” (Amsal 30:26). Kalau hanya bersembunyi di semak-semak, mereka bisa menjadi target incaran favorit para pemangsa. Tapi dengan membangun rumah di bukit batu, mereka punya benteng pertahanan kokoh sehingga bisa berlindung, selamat dari incaran hewan-hewan buas.

Tidak jauh berbeda dengan pelanduk, kita manusia pun merupakan mahluk yang lemah. Terjangan masalah, badai problema hidup, kegoncangan dan pergumulan yang kita hadapi sehari-hari cepat atau lambat akan membuat kita menjadi lemah dan tidak berdaya. Ketika hal seperti itu terjadi, celah untuk masuknya dosa pun akan terbuka. Kita bisa menjadi target empuk bagi iblis untuk menancapkan kukunya, mencabik-cabik dan kemudian membinasakan kita. Hidup di dunia yang kejam dan jahat pun akan membuat kita sadar betapa lemahnya posisi kita. Selain penyesatan yang intens dari berbagai arah, orang-orang jahat pun bisa setiap saat membuat kita menjadi korban.

Jika demikian, kita bisa belajar dari kecakapan atau kebijaksanaan seekor pelanduk. Ketika pelanduk membangun rumah di bukit batu, kita bisa juga melakukan itu. Daud sudah mengatakan bahwa Tuhan adalah gunung batu dimana kita bisa mencari keselamatan dan tidak goyah.

Ini pun sejalan dengan apa yang diajarkan Yesus. Mari kita baca ayatnya. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.” (Matius 7:24-25). Itu buat orang yang mendengar dan melakukan firman Tuhan. Bagaimana kepada orang-orang yang tidak mengindahkan pentingnya mendengar dan melakukan firmanNya? Inilah yang terjadi: “Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” (ay 26-27).

Ketika kita menyadari bahwa sekuat-kuatnya kita manusia, kita tetaplah manusia yang lemah, hendaknya kita mau membangun hidup kita di atas “batu”. Rumah yang dibangun dengan pondasi kuat tentu tidak rubuh meski digoncang angin badai sekalipun. Sekarang mari kita fokus pada kata “batu”. Dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan bukit/gunung batu itu tidak lain adalah Tuhan sendiri. “Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (Mazmur 18:31). Seperti yang kita lihat kemarin, Daud begitu menyadari bahwa gunung batu tempat perlindungan yang kuat dan teguh ada pada Tuhan sendiri, sehingga berulang kali ia mengingatkan kita akan keberadaan Tuhan sebagai Gunung Batu kita. Lalu dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa yang dimaksud dengan batu itu adalah Kristus. “dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.” (1 Korintus 10:4).

Ingatlah bahwa sekaya-kayanya, sekuat-kuatnya, sekuasa-kuasanya kita, kita tetaplah manusia yang lemah dan mudah hancur. Kekuatan dan perlindungan ada dalam Kristus. Mari kita semua mulai membangun hidup kita, keluarga kita, pekerjaan dan pelayanan kita di atas Gunung Batu, biarlah Kristus bertahta di atas segala sendi kehidupan kita, sehingga kita mampu tegar menghadapi persoalan apapun yang menimpa kita.

Belajarlah dari pelanduk yang tahu bahwa perlindungan ada pada bukit batu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.