Pelajari Rekam Jejak Perjuangan Para Capres (2)

pemilu

Elektabilitas Calon
Pasca terbentuknya koalisi parpol pendukung Jokowi-Hatta dan koalisi pendukung Prabowo-Hatta, berbagai isu sensitif seperti soal agama dan personalitas mulai dimainkan. Hal ini karena partai-partai Islam/basis massa Islam seperti PKS, PPP, PAN, PBB bergabung ke kubu Prabowo. Patut dicermati bahwa merapatnya parpol Islam ke Prabowo sebenarnya karena tak banyak pilihan bagi mereka.

Berbagai survei membuktikan, tak satupun calon dari partai Islam/basis massa Islam yang “laku” dijual kepada publik pemilih. Elektabilitas nama seperti Hatta Rajasa, Mahfud MD atau Hidayat Nur Wahid, tertinggal jauh dari dua nama besar, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dalam berbagai survei, okupansi dua nama tertinggi seringkali sudah melampaui separuh lebih komposisi pemilih.

Merapatnya parpol Islam ke kubu Prabowo tentu membawa konsekuensi warna politik yang menjadi pembeda antara kubu Prabowo dan Jokowi. Sebagai konsekuensi, mau tak mau kubu Prabowo membuat pembedaan (diferensiasi) melalui identifikasi yang mengakomodasi nuansa Islami, salah satunya dalam konteks kampanye. Mencuatnya isu agama misalnya, harus dilihat dalam konteks diferensiasi politik demi pasar pemilih.

Apalagi hasil survei internal masing-masing kubu memperlihatkan hasil yang dinamis. Semakin tertekan elektabilitas kandidat, biasanya makin kencang isu Sara dimainkan. Pola semacam ini pernah kita lihat dalam konteks Pilkada Gubernur DKI 2012. Saat itu Rhoma Irama menyatakan haram hukumnya bagi umat muslim memilih Jokowi karena berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang Kristen.

Sejumlah lembaga survei yang merilis hasil penjajakan mereka atas tingkat keterpilihan Jokowi maupun Prabowo menunjukkan komposisi yang berbeda-beda. Namun secara umum hasilnya masih menempatkan Jokowi-Jusuf Kalla unggul atas Prabowo-Hatta Rajasa meski dengan selisih yang biasanya tak terlalu besar, sekitar 5 hingga 15 persen.

Salah satu lembaga yang termutakhir merilis hasil survey adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dengan hasil raupan suara bagi Jokowi-JK sebanyak 35,42 persensementara Prabowo-Hatta 22,75 persen. Komposisi terbesar, 41,80 persen merupakan massa mengambang yang belum menentukan suara. Survei tatap muka nasional LSI diselenggarakan awal Mei 2014, artinya sebelum ada penetapan nama Jusuf Kalla sebagai cawapres oleh KPU. Besarnya proporsi belum memilih/menentukan pilihan sangat mungkin merupakan cerminan sekitar 24 persen suara yang tidak mencoblos di pemilu DPR ditambah sekitar 18 persen suara pemilih yang benar-benar masih menanti perkembangan (termasuk jika ada “serangan fajar”). \

Komposisi prediksi perolehan suara semacam ini cenderung berpola sama/tetap sejak Januari 2014. Jumlah suara bagi Jokowi maupun Prabowo sama-sama cenderung turun namun dengan derajat penurunan yang lebih kecil bagi Prabowo. Ini tentunya menguntungkan kubu Prabowo dan menumbuhkan rasa percaya diri untuk bisa memenangi pertarungan meski di atas kertas akan sangat berat. Lazimnyadalam pemilihan bebas, mendongkrak perolehan 10 persen dalam waktu sebulan akan sangat sulit dijalankan.

Hal ini karena disadari oleh kedua belah pihak termasuk pengamat dan pelaku politik bahwa wacana ruang publik telah “dipenuhi” oleh nama Jokowi. Sepak terjang capres yang malang melintang blusukan di rakyat bawah itu sukses meraup simpati publik. Sejumlah survei sebelum pencapresan bahkan ada yang sempat memprediksi elektabilitas Jokowi sampai menyentuh angka 65 persen, padahal saat itu ada lebih dari dua calon. Artinya, peluang calon-calon yang lain sudah jelas bakal kalah sebelum bertarung. Sehingga ada yang mengibaratkan, Jokowi “dipasangkan sendal jepit”pun akan tetap menang. Tidak heran saat itu, sejumlah pihak mati-matian menahan Gubernur DKI tersebut untuk tidak maju ke pemilihan presiden.

Berita Terkait : Pelajari Rekam Jejak Perjuangan Para Capres (1)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.