Pelajari Rekam Jejak Perjuangan Para Capres (1)

pilpres

PEMILU  legislatif 9 April 2014 telah menghasilkan komposisi anggota dewan yang baru. Sejumlah nada kesangsian muncul karena wajah anggota DPR mendatang tak membawa banyak harapan. Meski rata-rata semakin berusia muda dan berpendidikan, ada kesangsian terhadap kualitas kenegarawanannya. Tingkat partisipasi pemilu DPR 2014 mencapai 75,11 persen dari sekitar 185,8 juta pemilih atau sekitar 139,5 juta orang. Angka partisipasi memilih ini lebih baik dibandingkan negara demokrasi besar lainnya (Amerika Serikat, India, Brasil).

PDI Perjuangan kembali memenangkan pemilu namun tak sebesar kemenangan pada pemilu legislatif tahun 1999. Sebanyak 10 partai politik lolos mendudukkan kadernya menjadi bagian dari 560 anggota DPR RI. Komposisi anggota dewan dari kalangan Katolik tercatat terus menurun menjadi 3,2 persen atau sekitar 18 orang. Jumlah itu lebih sedikit dari saudara umat Kristen yang mencapai 9,9 persen atau sekitar 56 orang. Mereka kebanyakan berasal dari PDIP, Golkar, Nasdem, Hanura.

Dibandingkan komposisi penduduk, komposisi anggota DPR cukup dekat menggambarkan kisaran jumlah pemeluk agama-agama di Indonesia di mana Islam 85 %, Kristen 7 persen, Katolik 3,5 persen, dan selebihnya Hindu, Budha.

Minimnya jumlah umat Katolik di DPR bisa jadi membuat kita pesimistik dengan peran dan eksistensi politik umat Katolik dalam percaturan politik mendatang. Namun benarkah jumlah suara/jumlah orang menjadi penentu utama dari kekuatan politik utama bagi bangsa ini? Sejarah politik bangsa Indonesia menunjukkan, banyak hal yang bisa mengarahkan haluan politik bangsa ini, tidak melulu soal jumlah. Lihat saja kiprah umat Kristen/Katolik di era kemerdekaan, pascakemerdekaan dan Orde Baru, yang sedemikian mewarnai arah politik dan pembangunan nasional.

Kepercayaan terhadap eksistensi umat Kristen/Katolik relatif lebih kuat pada masa itu, antara lain terlihat dari tingginya komposisi pejabat dan penyelenggara negara beragama kristiani dibandingkan proporsi dalam populasi. Pemilu April lalu kemenangan kembali direbut partai PDI Perjuangan yang notabene merupakan hasil peleburan partai-partai nasionalis dan Kristen. Dari 26,7 juta suara pemilih PDIP, bisa dipastikan sebagian diantaranya merupakan pemilih non kristiani yang bersimpati atas sikap, pandangan, dan sepak terjang partai ini. Bukan sebuah kebetulan
pula bahwa nama Joko Widodo yang saat ini menempati puncak popularitas sebagai calon presiden lahir dari rahim partai semcam PDIP. Pasti ada unsur kemurnian, keberanian, kesungguhan dan totalitas dalam mengabdi kepada masyarakat dan bangsa yang diidentifikasi oleh rakyat.

Hal demikian juga terdapat dalam munculnya nama Prabowo Subianto sebagai bakal calon presiden dari partai Gerindra. Joko Widodo dan Prabowo Subianto mempunyai keinginan besar terhadap nasib bangsanya dan dengan gaya masing-masing berusaha menjadi pemimpin nasional dalam pemilu 9 Juli mendatang. Tentang Jokowi, puluhan buku sudah ditulis tentang pribadi ini.

Kesederhanaan, kejujuran sekaligus ketegasan yang dibungkus gaya dialog welas asih adalah kata kunci yang kerap muncul dari mantan walikota Solo itu. Jokowi teguh dengan pembelaan terhadap rakyat kecil, perhatian tak putus-putus dan semangat yang berkobar dalam melayani masyarakat. Jika dibandingkan dengan arus utama politisi saat ini kini, apa yang dibawakan Jokowi sangat bersifat minoritas. Namun perjalanan waktu membuktikan, nilai-nilai luhur itu tetap menang melawan raksasa “keserakahan politik” politisi pada umumnya. Kejujuran Jokowi disukai, diimpikan dan direstui oleh rakyat.

Perjalanan Prabowo Subianto agak berbeda. Sudah sejak 2008 ketika Gerindra maju di pemilu 2009, mantan komandan Kopassus ini menyentak ranah publik ketika secara terang-terangan bicara tentang ketidakberesan dan ketimpangan dalam masyarakat bangsa Indonesia. Dia menunjuk soal kemelaratan, kemiskinan dan penderitaan rakyat bawah yang tertinggal pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Indonesia. Umumnya publik mengenal Prabowo sebagai sosok tegas khas TNI dan simbol partai gerindra burung rajawali yang mengepakkan sayap. Penerimaan pada Prabowo mencerminkan kegusaran umum terhadap kondisi ketimpangan ekonomi, citra bangsa yang minor, dan lunturnya ideologi kenegarawanan pemimpin.

Penerimaan terhadap sosok kedua pemimpin juga merupakan respon sosiologis publik atas kondisi bangsa yang terombang-ambing setelah 15 tahun perjalanan reformasi. Kedua partai penyokong utama yaitu Gerindra dan PDI Perjuangan bersikap oposisi selama 10 tahun pemerintahan SBY yang sering dinilai bersemangat pro kapitalis. Kedua tokoh, baik Jokowi maupun Prabowo Subianto, terlepas dari latar belakang, gaya dan catatan masing-masing, merupakan dua tokoh dengan komitmen pribadi yang kuat dan sebenarnya merupakan minoritas melawan arus utama  penyimpangan dalam publik.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.