Pedang Salib Keadilan dan Damai Sejati

Keadilan by Ist

Senin, 14 Juli 2014
Yes 1:11-17; Mzm 50:8-9,16bc-17,21,23; Mat 10:34 – 11:1

“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Mat 10:34)

AWAS, jangan ayat ini dibaca secara hurufiah! Bisa-bisa kita salah mengerti lalu salah pula mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari.

Yesus datang tidak untuk membawa damai palsu, melainkan damai sejati. Damai palsu itu semua. Tidak tahan uji. Damai palsu itu ilusi sekadar rasa perasaan tanpa ditopang dengan realitas dalam kehidupan nyata. Ia mudah luntur.

Yesus membawa damai sejati. Untuk bisa mengalami damai sejati butuh disposisi hidup yang jelas dan perjuangan yang penuh risiko. Itulah yang digambarkan dengan pedang. Pedang di sini bukan senjata tajam yang dipakai untuk menebar kekerasan.

Yang dimaksud dengan pedang di sini adalah pedang keadilan yang tajam untuk semua yang berlaku jahat dan tak adil. Tidak seperti pedang keadilan yang dipergunakan di negeri ini yang sering hanya tajam untuk melibas orang kecil tetapi tumpul saat memutuskan perkara para petinggi dan penguasa (= tajam ke bawah, tumpul ke atas); pedang yang di bawa Yesus memberi keadilan bagi kita semua.

Bahkan bilah pedang keadilan-Nya tidak semata untuk membinasakan yang jahat melainkan untuk membersihkan yang jahat dengan pengampunan! Yang jahat sekalipun, bila yang bersangkutan mau bertobat, akan beroleh pengampunan dan keselamatan.

Pedang-Nya bukan senjata berbasis amarah brutal dan kebencian. Pedang-Nya adalah pedang salib yang memberi damai sejati dan keseimbangan vertikal maupun horizontal. Pedang-Nya tidak untuk dihunus demi kematian liyan, melainkan untuk dipanggul setiap hari dengan setia demi kehidupan sesama!

Adorasi Ekaristi Abadi ibarat sebilah pedang yang memurnikan jiwa dan hidup kita agar semakin layak mengalami damai sejati. Bagi yang mau menerima dengan segala konsekuensi dan risikonya akan membuat hatinya tidak tenang sebelum melakukannya. Tekun dalam Adorasi Ekaristi Abadi ibarat memanggul salin setiap saat setiap hari berjalan bersama Yesus menggapai damai sejati dan menebarkannya bagi hidup bersama.

Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah rela memanggul salib dan wafat di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kami. Semoga kami mengalami damai sejati dengan setia memanggul salib kami setiap hari bersama-Mu, kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.