Pedang Sabda dan Roh

13 Juli - RmA 2

Senin, 13 Juli 2015
Pekan Biasa XV
Kel 1:8-14.22; Mzm 124:1-3.4-6.7-8; Mat 10:34-11:1

Pada suatu hari Yesus bersabda kepada keduabelas murid-Nya, “Jangan kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi. Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”

ADA beberapa tema yang menarik dalam Injil hari ini, namun mari kita pusatkan perhatian kita pada sabda Yesus ini. “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” Apa artinya? Pedang macam apakah itu?

Pertama, pedang itu bukan senjata tajam yang biasa dipakai orang untuk perang secara fisik pula, melainkan senjata rohani yang menusuk inti kedalaman hidup kita. Ia menumpas kebusukan pikiran-pikiran penuh dosa dan maksud-maksud jahat juga kebohongan dan kelicikan Setan serta kerajaan kegelapan.

Kedua, pedang yang dibicarakan Yesus adalah pedang Roh. Pedang itu adalah Sabda Allah. Kepada umat Efesus, St. Paulus menggambarkan bahwa Sabda Allah itu laksana pedang Roh (Ef 6:17). Kita juga membaca dalam Kitab Suci bahwa Sabda Allah itu “hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh… sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr 4:12).

Kita harus mengandalkan Allah dan sabda-Nya semata hingga kita akan hidup penuh damai-sejahtera baik secara pribadi maupun dengan sesama. Namun itu tidak mudah. Tak mudah berpegang pada Sabda-Nya. Kita akan berada dalam konflik antara keinginan mengikuti Kerajaan Allah dan kerajaan setan. Hidup kita pun akan terus dimurnikan.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah dan mengikuti Yesus Kristus, yang datang untuk mengalahkan kuasa setan dan membebaskan kita dari segala sesuatu yang merampas kita dari pengenalan, kasih dan pelayanan akan Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita dengan belas kasih, belarasa dan kebaikan yang tanpa batas. Di sana kita belajar untuk memilih kasih-Nya sebagai yang utama dalam hidup kita dengan merenungkan sabda-Nya dan menyembah Dia sebagai Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.

Tuhan Yesus Kristus, sabda-Mu laksana pedang bermata dua yang menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kami. Semoga sabda-Mu membersihkan kami dari daya dosa. Semoga kami menerima sabda-Mu dan mengandalkan Engkau kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.