Paus Fransiskus: Katakan ‘Tidak’ terhadap Ideologi-ideologi dan Intelektualisme

Bacaan Ekaristi : 2Yoh. 4-9; Mzm. 119:1,2,10,11,17,18; Luk. 17:26-37.

Kita, orang-orang kristinani, harus mengatakan ‘tidak’ terhadap ideologi-ideologi dan intelektualisme. Inilah pokok homili Paus Fransiskus selama misa harian Jumat pagi, 11 November 2016, di Casa Santa Marta, Vatikan. Beliau menekankan bahwa ideologi tentang kasih dan teori-teori intelektual mengancam melucuti tubuh Gereja dan merusaknya.

Menarik ilham dari Bacaan Pertama liturgi hari itu (2 Yoh 4-9), Bapa Suci merenungkan sifat kasih kristiani dan bagaimana kata ‘kasih’ digunakan saat ini untuk menggambarkan banyak hal yang berbeda. Beliau menekankan bahwa kriteria kasih kristiani yang sesungguhnya adalah Penjelmaan Sabda. Beliau mengatakan siapa pun yang menyangkal atau tidak mengakui hal ini adalah ‘anti-Kristus’.

“Kasih yang tidak mengakui bahwa Yesus datang dalam daging bukanlah kasih yang sedang diminta Allah dari kita. Inilah kasih duniawi, kasih filosofis, kasih yang tak berwujud, kasih yang telah menunduk, kasih yang ‘lembek’; atau lemah. Tidak! Kriteria kasih kristianii adalah Penjelmaan Sabda. Siapa pun yang mengatakan bahwa kasih Kristiani adalah sesuatu yang lain merupakan antikristus! Siapakah yang tidak mengakui bahwa Sabda sudah menjadi daging? Inilah kebenaran kita: Allah mengutus Putera-Nya, yang menjadi daging, dan yang hidup seperti kita. Mengasihi seperti Yesus mengasihi (kita), mengasihi seperti diajarkan Yesus kepada kita, mengasihi dengan mengikuti teladan Yesus; mengasihi, melakukan perjalanan sepanjang jalan Yesus. Jalan Yesuslah yang memberi kehidupan”.

Paus Fransiskus melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana jalan satu-satunya mengasihi dengan jalan Yesus mengasihi kita adalah menyingkirkan keegoisan kita sendiri dan pergi keluar untuk membantu orang lain karena kasih Kristiani adalah kasih nyata, kasih dengan tindakan-tindakan kerahiman.

“Melampaui adalah sebuah misteri: keluar dari Misteri Penjelmaan Sabda, Penjelmaan Misteri Gereja. Karena Gereja adalah jemaat di sekitar kehadiran Kristus dan ia melampaui hal ini. Itulah kata yang benar-benar kuat, bukan? … .Siapa pun yang berjalan di luar. Dan dari hal inilah seluruh ideologi muncul: ideologi-ideologi tentang kasih, ideologi-ideologi tentang Gereja, ideologi-ideologi yang melucuti tubuh Kristus dari Gereja. Ideologi-ideologi ini melucuti tubuh Gereja! ‘Ya, saya seorang katolik, ya saya seorang kristen, saya mengasihi seluruh dunia dengan kasih sejagat’… Tetapi hal ini begitu sangat halus. Kasih selalu bersifat batiniah, nyata dan tidak melampaui ajaran Penjelmaan Sabda”.

Paus Fransiskus merangkum homilinya dengan menekankan bahwa siapa pun yang tidak mengasihi dengan jalan tanpa pamrih yang sama seperti yang dilakukan Kristus, mengasihi secara ideologis. Beliau juga memperingatkan terhadap mereka yang mengedepankan teori-teori tentang kasih atau menjadikannya intelektual. Beliau mengatakan mereka merusak Gereja dan menyebabkan situasi di mana kita memiliki Allah tanpa Kristus, Kristus tanpa Gereja dan Gereja tanpa umat.

“Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar berjalannya kita dalam kasih sungguh tidak pernah menjadi bagi kita kasih yang tak berwujud. Semoga kasih kita menjadi nyata dengan karya-karya kerahiman di mana kita menjamah tubuh Kristus, Kristus yang menjelma. Karena alasan inilah diakon Laurensius mengatakan, ‘Orang-orang miskin adalah harta Gereja!’. Mengapa? Karena mereka adalah tubuh Kristus yang sedang menderita! Marilah kita memohonkan rahmat untuk tidak melampaui hal ini dan tidak masuk ke dalam proses ini, yang mungkin menggoda begitu banyak orang, mengintelektualkan dan mengideologikan kasih ini, melucuti tubuh Gereja, melucuti kasih Kristiani. Dan jangan sampai tontonan yang menyedihkan dari Allah tanpa Kristus, dari Kristus tanpa Gereja dan Gereja tanpa umatnya”.

(Peter Suriadi – Bogor, 11 November 2016)

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.