Paus Dikecam karena Pernah Telantarkan Dua Jesuit Korban Penculikan Rezim Junta Militer

< ![endif]-->

Paus Fransiskus dan junta militer Argentina

DIANGGAP meninggalkan kawan sendiri dan tidak membela teman sejawat Jesuit saat rezim junta militer berkuasa di Argentina. Itulah tuduhan dan kecaman keras yang disuarakan Graciela Yorio dalam sebuah persidangan di Argentina, ketika digelar proses peradilan untuk alharmum kakak kandungnya Pastur Orlando Virgilio Yorio SJ. Jesuit Argentina ini diculik oleh rezim juncta militer Argentina tahun 1976 dan selama beberapa bulan lamamya disekap dan disiksa.

Atas “ketidakpedulian” Ordo Serikat Jesus (SJ) Provinsi Argentina dan Gereja Katolik Argentina saat itu yang dianggap “diam seribu bahasa” itulah hari Graciela lalu meradang ganas. Dalam sidang peradilan itu pula, dia tanpa sungkan mengecam Paus Fransiskus –kala itu Provinsial SJ Provinsi Argentina dengan nama Pastur Jorge Mario Bergoglio SJ—sebagai pimpinan yang melupakan anak buah.

Menurut laporan Michael Warren dari Buenos Aires sebagaimana dikutip AP, kecaman keras Graciela itu mengemuka karena dia geram atas ketidakpedulian Gereja dan Ordo Serikat Jesus dalam merespon hilangnya Pastur Orlando Virgilio Yorio bersama teman Jesuit sejawat lainnya.

Merespon kritik pedas tersebut, Paus Fransiskus sejak dulu sudah menegaskan bahwa sebagai Pater Provinsial SJ Provinsi Argentina dia tidak punya “kuasa” mahasakti untuk bisa membebaskan Pastur Orlando Virgilio Yorio SJ dan teman Jesuit sejawatnya yakni Pastur Francisco Jalics.

Tentu saja, kata dia, sebagai pimpinan SJ di Argentina dia tetap berupaya di balik layar untuk bisa membebaskan kedua rekan Jesuit tersebut. Namun, upaya ini tetap dianggap mentah dan tidak bisa dipercaya oleh Graciela Yorio.

Karena itu, hatinya meradang terhadap Paus Fransiskus “Bergoglio SJ”.

“Gereja Katolik secara praktis telah meninggalkan kakak saya –Pastur Orlando Virgilio Yorio SJ— dalam penderitaan,” kata Graciela yang duduk di persidangan pengadilan di Buenos Aires.

Graciela ditunjuk pengadilan menjadi salah satu saksi dari tak kurang 800-an saksi lain yang diminta keterangannya atas 67 terdakwa pelanggaran HAM berat semalam rezim junta militer berkuasa di Argentina.

This 30 March, 1976, file photo shows Argentine GeMenurut kabar di Argentina, tak kurang 789 aktivis sosial termasuk kedua pastur Jesuit di atas bisa jadi disekap di sebuah markas AL dan disiksa oleh tentara rezim juncta militer Argentina. Sebagian bisa kembali dibebaskan, namun banyak juga yang dinyatakan hilang tak kembali dan jasadnya dikubur dimana juga tidak terdeteksi.

Sekali waktu, kepada penulis biografinya yang bertitel The Jesuit, Paus Fransiskus sudah tegas mengatakan dirinya berbuat semaksimal mungkin dengan cara menjalin kontak dengan petinggi pemerintahan militer Argentina untuk bisa membebaskan kedua Jesuit aktivis sosial tersebut. Orang harus memaklumi situasi pelik saat itu, karena siapa pun yang berseberangan dengan garis kebijakan politik arus ultra kanan yang dikomandoi juncta militer dengan mudah akan diculik atau bahkan dibunuh oleh “pasukan siluman”.

Situasi sulit itulah yang dihadapi Gereja Katolik dan Ordo SJ Argentina saat itu.

Yorio dengan tegas menolak semua apologi tersebut. Ia malah menuduh dengan  sebuah penegasan bahwa jauh-jauh hari sebelum terjadi kudeta berdarah di bulan Maret 1976 yang kemudian mengantar juncta militer Argentina berkuasa, kedua Jesuit aktivis sosial tersebut sudah terang-terangan dituduh ole Gereja Katolik dan Ordo Serikat Jesus sebagai “aktivis yang suka nyrempet bahaya” dan malah sudah “kebablasan”.

Bahkan  karya sosial mereka bergerak di kaum papa dengan gampangnya dituduh sebagai “gerakan kiri”. Kepada Pater Provinsial SJ waktu itu – Pastur Jorge Mario Bergoglio SJ, kini Paus Fransiskus—kedua Jesuit “kiri” ini sudah minta bantuan agar Pater Provinsial ini mengikis habis rumor tidak sehat tentang “gerakan kiri” yang membahayakan nyawa mereka.

Sayangnya, begitu tuduhan Graciela—Pater Provinsial SJ Jorge M. Bergoglio SJ dianggap tidak atau kurang trengginas bergerak mengeliminir rumor tersebut hingga akhirnya kedua Jesuit aktivis sosial itu pun kena “ciduk” tentara.

Graciela mengakui bahwa sebagai pimpinan tertinggi SJ di Argentina saat itu, pihaknya sudah mendesak agar kedua Jesuit aktivis sosial itu segera minta “perlindungan” Uskup sebagai pemangku otoritas Gereja Katolik. Namun nyatanya, begitu tuduhan Graciela, Gereja pun balik badan: membiarkan kedua Jesuit itu bergerak tanpa perlindungan dan akhirnya diciduk.

Menurut pengadilan yang kini menggelar kasus pelanggaran HAM berat, kedua Jesuit itu diciduk tentara sesaat setelah mereka memimpin misa di komunitas kaum papa di permukiman kumuh di Bajo Flores. Lokasi ini tak jauh dari tempat kelahiran Paus Fransiskus. Yang terjadi kemudian: kedua Jesuit aktivis sosial ini langsung diamankan di markas AL tak jauh dari situ dengan kedua mata ditutup, dirantai dan dicegah untuk boleh pergi ke kamar mandi atau makan.

Proses interogasi yang dilakukan para intel juncta militer –demikian peradilan itu membacakan kasusnya—memaksa kedua Jesuit itu meringkuk di tahanan militer dengan serangkaian ancaman, penyetruman, dan berbagai tindakan penyiksaan lainnya.

Merespon semua itu, kata Graciela, dia bersama ibunya datang sowan kepada Pater Provinsial Bergoglio SJ mencari tahu dan bantuan. Tapi, harapan mereka kandas.

“Sampai tiga kali kami bertemu Pater Bergoglio SJ (selaku Provinsial SJ) dan beliau tidak (mau) bicara banyak mengenai kasus penculikan itu. Saya ingat betul bagaimana beliau menghibur kami dengan kata-kata ini: “Sudahlah, saya sudah memberikan laporan tentang kasus ini (kepada otoritas Gereja Katolik”. Beliau juga menasehati kami agar “kalian juga berhati-hati karena ada saudara kandung dari orang yang diculik mengalami nasib sama: ikut ditahan”,” demikian isi kesaksian Graciela.

Lima bulan setelah hilang diculik, kedua pastur Jesuit itu pun tiba-tiba muncul dalam kondisi limbung dan matanya ditutup kain di sebuah lokasi di kawasan utara Ibukota Buenos Aires.

Menurut Paus, pembebasan itu terjadi justru karena dia diam-diam bisa memengaruhi para pemangku penting di jajaran juncta militer Argentina—hal yang kata dia tidak perlu dibesar-besarkan dan apalagi harus dipublikasikan.

Pastur Yorio SJ sudah meninggal tahun 2010. Sementara rekan Jesuit lain yakni Pastur Jalics sekarang sudah pensiun di rumah sakit jompo di Jerman. Tentang kasus ini, dia memilih diam dan tegas mengatakan, “semua sudah selesai!”

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.