Paus Benedictus XVI Mundur: Castel Gandolfo dan Maria Ecclesiae, Rumah Baru Paus Emeritus (23A)

< ![endif]-->

VATICAN-POPE-AUDIENCE-FILES

PUKUL 20.00 waktu Roma atau pukul 02.00 WIB, Paus Benedictus XVI resmi meninggalkan Tahta Suci Vatikan, menandai awal babak kehidupan baru Paus Emeritus yang memilih pensiun dini dalam 600 tahun terakhir sejarah Gereja Katolik Semesta. Untuk selanjutnya, Paus akan mengisi hari-hari berikutnya dengan banyak sembahyang, refleksi dan kontemplasi dengan satu intensi utama: mendoakan Gereja dan Umat-Nya.

Castel Gandolfo –sebuah istana kepausan untuk rumah peristirahatan selama musim panas—menjadi rumah baru bagi Paus emeritus ini. Terletak di kawasan elit di bagian selatan Roma, Castel Gandolfo ditempuh dengan penerbangan helicopter selama 15 menit.

Di Istana Kepausan Musim Panas di Castel Gandolfo inilah Paus emeritus akan tinggal menetap dan berdoa dan berdoa bagi Gereja dan umatNya. Tidak untuk selamanya di Castel Gandolfo, melainkan hanya kurang lebih dua bulan saja.

Selanjutnya, Paus emeritus akan boyongan lagi ke Vatikan dan menempati sebuah bilik di Gedung Mater Ecclesiae (Bunda Gereja), sebuah bangunan kuno yang kini tengah direnovasi. Inilah tempat khusus pada zaman dulu ketika beberapa rahib tinggal menetap di permukiman Vatikan.

Sesuai prinsip hidup membiara sebagai rahib, maka kawasan Gedung Mater Ecclesiae ini juga akan terpampang tulisan “klooster” alias tertutup untuk umum. Mengapa? Karena para  penghuninya –para rahib itu—tengah berdoa dan berdoa.

Paus emeritus Benedictus yang tetap mendapat kehormatan dipanggil resmi sebagai “Yang Mulia” akan menjalani hidup sepinya sebagai “rahib”: berdoa dan berdoa. Jauh dari keramaian dunia dan hiruk-pikuk Vatikan yang selalu ramai oleh “intaian” media massa yang harus akan berita-berita miring seputar Tahta Suci sebagaimana muncul dalam Skandal Vatileaks.

Kompleks Mater Ecclesiae ini, kata Suster Ancilla Armijo dari Colorado, tak lebih sebuah rumah mungil yang dilengkapi dengan sebuah perpustakaan dan kapel mungil di dalamnya. Dulu, kata rahib Benediktin ini, bersama 6 suster rahib koleganya dia tinggal menempati Mater Ecclesiae ini karena tugas dan pekerjaannya sebagai ‘pelayan internal’ merawat mendiang Beato Paus Yohannes Paulus II yang sudah renta dan mulai sakit-sakitan.

paus dan helikopter“Itu terjadi pada kurun masa 7 Oktober 2004 hingga 7 Oktober 2009,” ungkapnya.

Dari gedung Mater Ecclesiae ini, kata Suster rahib ini, siapa pun bisa ‘mengintip’ dari kejauhan apartemen pribadi Paus, Kapel Sistina tempat berlangsungnya konklaf dan tentu saja Basilika Santo Petrus. “Meski sudah tidak nyambung secara khusus dengan bangunan-bangunan utama Vatikan, namun tinggal di Mater Ecclesiae tetaplah merasa diri sebagai bagian dari Vatikan,” kenang Suster Ancilla Armijo ini.

Meski di bilang rumah di  lingkungan Vatikan, namun sebagai bangunan sederhana –demikian penegasan Suster Ancilla Armijo ini—Gedung Mater Ecclesiae adalah permukiman yang sangat sederhana. “Sangat panas hawanya saat Summer. Apalagi tidak ada rerimbunan pepohonan. Harus segera dipasang AC untuk Paus emeritus. Kontruksi dapur juga harus dibenahi demi keperluan kenyamanan,” pungkasnya.

Di sekitar Gedung Mater Ecclesia, tersedia secuil taman dimana Paus emeritus bisa melakukan ambulasi sederhana di tengah tanaman bunga mawar yang sengaja dibangun untuk mengenang mendiang Beato Paus Yohannes Paulus II. Dari taman bunga mawar inilah, saat masih bertahta di Vatikan Benedictus selalu mendapat paket buket mawar hasil kebun sendiri.

Di taman mungil itu pula, ada sejumlah pohon jeruk dan lemon yang biasanya buahnya dipetik untuk konsumsi sendiri.

Jangan pernah dibayangkan ada kemegahan di Gedung Mater Ecclesia ini. Hanya bercat putih saja, juga dinding dan langit-langit plafon tiada lukisan indah karya Michel Angelo atau di sudut ruangan ada patung La Pieta. “Yang indah secara artistic ya hanya salib di kapel mungil itu,” tulis Suster dari Ordo Benediktin ini.

Di kapel mungil inilah, Paus emeritus akan mempersembahkan misa setiap hari dan melakukan matiraga dalam doa dan doa. “Takkan ada hal yang luks di sana. Hanya standar-standar saja sesuai prinsip hidup para rahib yang kesehariannya ditandai dengan kegiatan berdoa dan berdoa,” kata Mgr Rick Hilgartner.

Pope Benedict XVI waves from his Popemobile as he rides through a packed Saint Peter's Square at the Vatican during his last general audiencePaus emeritus akan mengikuti “irama” hidup para rahib Benediktin, mulai bangun pagi-pagi buta untuk sembahyang, kemudian ekaristi, doa siang, doa malam dan completorium –doa penutup menjelang tidur,” sambungnya.

Karena sudah uzur dan mulai terganggu kesehatannya, Vatikan akan menyediakan beberapa suster asli Jerman supaya memudahkan Paus emeritus berkomunikasi dengan bahasa ibunya.

Ketika orang menjadi tua renta dan kemundian hilang memorinya, maka satu-satunya yang biasanya tersisa adalah kemampuannya berkomunikasi dengan bahasa ibunya, bahasa yang dia pelajari dan ketahui sejak usia dini.

Menurut perkiraan banyak orang, Paus emeritus ini besar kemungkinan akan menghabiskan waktunya juga untuk menulis. Orang sekaliber beliau sebagai filsuf dan teolog besar dalam sejarah Gereja, menulis buku atau artikel adalah sesuatu hal yang paling masuk akal akan dia lakukan, selain tentu saja berdoa dan berdoa.

Sepatu merah Meksiko

Selepas meninggalkan kekuasaan Tahta Suci yang dilambangkan dengan meninggalkan Vatikan menuju Castel Gandolfo, Paus emeritus juga menanggalkan segala atribut kepausan. Di antaranya cincin kepausan, mantel kepausan, dan juga sepatu merah kepausan.

Untuk yang terakhir ini, seorang pengrajin sepatu bernama Armando Martin Dueñas dari Leon, Meksiko, sudah mendapat order dari Vatikan untuk membuatkan sepatu berkulit merah khusus untuk Paus emeritus ini. Adalah Armando pula yang di tahun 2009 yang memberikan cindera mata kepada Paus saat melawat resmi ke Meksiko dengan hadiah lokal berupa topi dan dua buah sepatu.

Leon, sebuah kota di Meksiko, sudah 400 tahun dikenal sebagai pusat industri sepatu di negeri koboi ini.

Mengapa harus sepatu merah?

Ini adalah sejarah panjang Vatikan. Kisahnya bermula dari keputusan Paus Pius V –seorang rahib Benediktin—yang di tahun 1566 memutuskan mengganti busana kepausan dari warna merah ke putih. Namun beliau meninggallkan ‘belang’ yakni membiarkan sepatu, topi, dan mantel penutup bahu  tetap berwarna merah (Bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.