Paroki Wedi, Klaten: Balai Mandala Dirobohkan, Perlu Gedung Pastoral Baru

Gambar ilustratif gedung Balai Mandala Paroki Wedi yang tengah dibangun sekarang ini.

SIAPA pun yang berasal dari tlatah Paroki St. Perawan Maria (SPM) Bunda Kristus Wedi pasti tahu apa itu Balai Mandala. Inilah kompleks bangunan tua terdiri dari dua bagian atas dan bawah yang telah berdiri sejak sebelum tahun 1970-an yang fungsi utamanya menampung kegiatan-kegiatan dari semua kelompok paguyuban di Paroki Wedi.  Bangunan lawas bernama Balai Mandala ini terdiri dari dua unit bangunan,  yakni bagian atas berupa bangunan tertutup dan bagian bawah berupa bangunan los tanpa sekat apa pun.

Seingat penulis ketika masih bersekolah di SD Kanisius Murukan I tahun 1970-an, Balai Mandala bagian atas mulai dibangun pada era kepemimpinan Romo Tan Santoseputra Pr bersama Romo Yoh. S. Tjokroatmadja Pr, keduanya kini sudah almarhum. Sementara, Balai Mandala bagian bawah yang kini dikenal dengan sebutan “Lantai Merah” sudah lebih dulu ada.

Bahkan pada era tahun 1970-an itu, Balai Mandala sisi bawah dipakai sebagai ruangan-ruangan kelas terbuka untuk menampung murid-murid SMP Pangudi Luhur Wedi, sebelum akhirnya pindah ke sebuah lahan milik keluarga alm. Romo Dwijosusanto Pr. Beberapa tahun kemudian, murid-murid SMP Pangudi Luhur Wedi meninggalkan sekolah pinjaman mereka di Dusun Kajen, Kel. Pandes, Wedi dan kemudian menempati bangunan sekolah yang baru dan permanen di Dusun Karangrejo, Wedi. Proses perpindahan sekolah SMP Pangudi Luhur Wedi ini kemudian diikuti dengan pembangunan kompleks Bruderan FIC yang berlokasi hanya sekitar 100-an meter dari SMP PL Wedi di Dusun Karangrejo.

gereja paroki wedi 1Sisi depan dan sisi samping bagian barat Gereja St. Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten. Sebagai paguyuban umat beriman kristiani di Kec. Wedi, maka umurnya sudah 80 tahun. Namun sebagai paroki mandiri, maka Paroki SPM Bunda Kristus Wedi baru berusia 60 tahun sejak berdiri mandiri terpisah dari ‘induknya’ Paroki St. Maria Assumpta Klaten mulai tahun 1956.

Pabrik pastor, bruder, dan suster

Paroki SPM Bunda Kristus Wedi resmi berdiri menyandang status sebagai paroki mandiri sejak 13 Juni 1956. Sebelumnya, paroki yang terletak di kawasan selatan Kabupaten Klaten ini merupakan salah satu stasi di Paroki St. Maria Assumpta Klaten.

Bagi  segenap umat katolik Paroki Wedi, bangunan lawas Balai Mandala di sisi barat daya gereja itu ibarat kilas balik sejarah umat katolik Paroki Wedi. Inilah paroki yang sejak puluhan tahun silam dikenal luas sebagai ‘pabrik’ pastor, bruder, dan suster.

Salah satu imam diosesan (praja) Keuskupan Agung Semarang angkatan pertama adalah alm. Romo Purwadihardjo Pr (tahbisan tahun 1942) dan romo ini berasal dari tlatah Paroki Wedi, tepatnya dari Dusun Karangasem.  Lalu, tokoh sentral di balik gerakan Hari Pangan Nasional KWI yakni Romo G. Oetomo Pr juga berasal dari Jasa, Wedi. Lainnya, tokoh gerakan kharismatik Keuskupan Agung Semarang Romo G. Alimo Notobudyo Pr dan adiknya Romo Al. Bambang Budyapranoto juga berasal dari Patran, Garuman, Wedi.

Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta Romo Stephanus Bratakartana SJ berasal dari Stasi Bayat, Wedi. Berikutnya, alm. Romo Is Warnabinarja SJ, alm. Romo Sadanahadi SJ, dan Y. Udyasusanto SJ: mereka berasal dari daerah Dengkeng, Jali, dan Titang.

Imam diosesan (praja) generasi pertama Keuskupan Agung Jakarta yakni Romo Sutapanitra Pr yang kini tinggal di Paroki St. Yakobus Kelapa Gading (Jakarta Utara) juga berasal dari Dusun Pakahan, Wedi.  Dari Kongregasi Imam-imam Lazaris (CM) ada Romo Wartadi CM yang berasal dari Dusun Tanggul, Wedi.

Sejumlah imam Jesuit yang namanya sangat moncer di panggung sejarah Gereja Katolik Indonesia juga berasal dari Paroki Wedi. Taruhlah itu seperti sepasang pastor Jesuit kakak-beradik yakni alm. Romo A. Soenarjo SJ (Provinsial Ordo Serikat Jesus di masa peralihan dari pimpinan SJ berdarah Belanda ke pimpinan SJ pribumi) dan adik kandungnya alm. Mgr. Leo Soekoto SJ (Uskup Agung Keuskupan Jakarta). Mereka berdua berasal dari Stasi Dalem yang  kini sudah menjadi paroki mandiri sejak tahun 2013.

paroki wedi by albert gregoryGereja St. Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, tampak dari depan. Bangunan gereja Paroki ‘Wedi ditandai dengan ikon menarik yakni pilar-pilar penyangga dari kayu jati yang menjulang tinggi. (Courtesy of Albert Gregory)

Nama lainnya adalah alm. Romo Soetapanitro SJ —  “Pastor Sandal Jepit” karena kemana-mana hanya mau bersandalkan jepit saking grengseng-nya menghayati hidup sederhana. Puluhan imam lain dari berbagai ordo dan kongregasi juga berasal dari Paroki Wedi. Tak lupa juga harus menyebut nama Uskup Keuskupan Palangka Raya di Kalimantan Tengah: Mgr. A. Maryadi Sutrisnaatmaka MSF –anaknya Mbokde Gito—dari Dusun Pandes, Wedi.

Bahkan, tiga suster biarawati generasi pertama Kongregasi Suster-suster Fransiskan Sukabumi (SFS) juga berasal dari Paroki Wedi. Mereka adalah Sr. Christophora Theresia Suparti SFS –anaknya Pakde Mangu—dari Niten; Sr. Lidwina Suharti SFS dari Kaporan; dan Sr. Walfrida Anna Sukiyah SFS dan adiknya Sr. Paulina Sukirah SFS dari Pandes. Kedua suster SFS  ini masih terhitung kerabat dekat sebagai bulik (tante) Mgr. AM Sutrisnaatmaka MSF.

Dari Kongregasi Suster-suster CB ada nama alm. Sr Haksi CB, anaknya Mbokde Gito dari Tanggul, yang lama berkarya di RS Panti Rapih. Dari Ordo Ursulin ada nama alm. Sr. Odilia OSU, adik kandung Pakde Darma, juga dari Tanggul.  Pun pula ada nama Sr. Elfrida AK, pemimpin umum Suster-suster Abdi Kristus (AK) atau dulunya Abdi Dalem Sang Kristus (ADSK) yang berasal dari Srowot, Wedi. Seniornya yakni Sr. Yosepha AK –kakak kandung alm. Romo Is Warnabinarja SJ– juga berasal dari Wedi dan termasuk generasi pertama suster-suster AK.

27 kelompok paguyuban kategorial tanpa gedung memadai

Sebagai stasi, paguyuban umat beriman kristiani di Kecamatan Wedi sudah merenda umur sepanjang 80 tahun. Namun, sebagai paroki mandiri Paroki SPM Bunda Kristus Wedi ini baru berumur 60 tahun, sejak ‘memisahkan’ diri dari Paroki St. Maria Assumpta Klaten.

Salah satu ciri khas Paroki Wedi adalah keberadaan bangunan gereja ‘klasik’ yang ditandai dengan pilar-pilar kayu jati yang menjulang tinggi sebagai bangunan utama, selain pastoran, halaman luas di areal depan, belakang, dan sisi samping gereja, serta Balai Mandala yang sangat bernilai historis.

Menurut data statistik tahun 2015, umat Paroki Wedi saat ini kurang lebih berjumlah 4.998 jiwa dengan catatan memiliki setidaknya 27 kelompok paguyuban berbagai kategori. Semua kegiatan mereka terpusatkan di dua sisi Balai Mandala: bagian atas yang tertutup dan bagian bawah tanpa sekat tembok apa pun atau kadang malahan digelar di areal tanpa atap di halaman depan pastoran.

Balai Mandala Paroki WediBangunan lawas Balai Mandala di belakang Pastoran Gereja SPM Bunda Kristus Wedi yang telah dibongkar habis dan kini telah rata dengan tanah. Di atas lahan bekas bangunan lawas ini akan didirikan Balai Mandala baru dengan gedung berlantai dua. Balai Mandala sisi bawah tetap dipertahankan aslinya sebagai gedung terbuka tanpa sekat apa pun. (Mathias Hariyadi)

Kini, bangunan lawas Balai Mandala bagian atas telah dirobohkan rata dengan tanah dan tinggal bagian bawah yang dikenal dengan Lantai Merah. Memang sengaja ingin dirobohkan, karena faktor usia dan sudah tidak memadai lagi bisa menampung berbagai kegiatan dan pelayanan pastoral Paroki Wedi.

Dalam rangka merayakan HUT ke-60 tahun sebagai paroki mandiri, Paroki Wedi memutuskan merobohkan total seluruh bangunan Balai Mandala bagian atas. Setelah itu, barulah kemudian dibangun yang baru sesuai kebutuhan mendesak saat ini: guna menampung 27 kelompok paguyuban kategorial. Selama ini, kegiatan-kegiatan mereka terpaksa digelar di halaman terbuka di depan di pastoran atau sisi barat samping gereja.

paroki wedi balai mandala 3Beberapa ikon penting penanda khas Gereja SPM Bunda Kristus Paroki Wedi yakni gedung lawas Balai Mandala (kiri atas) yang kini sudah rata dengan tanah; menara lonceng di bagian depan (kanan, kiri bawah)

Projek pembangunan Balai Mandala

Bangunan baru Balai Mandala di bagian atas nantinya dipakai sebagai tempat pelayanan pastoral. Dalam konteks inilah,Redaksi Sesawi.Net menerima kiriman proposal Projek Pembangunan Balai Mandala yang baru dari Romo Andrianus Maradiyo, pastor kepala Paroki SPM Bunda Kristus Wedi.

Menurut Romo Maradiyo, projek pembangunan Balai Mandala yang baru ini bertujuan untuk menampung semua kegiatan pastoral yang diampu oleh setidaknya 27 kelompok paguyuban kategorial di Paroki Wedi, selain juga untuk mengakomodasi kebutuhan pelayanan umat.

Projek pembangunan Balai Mandala Paroki Wedi sudah mulai digelar  sejak tanggal 13 Juli 2016 dan peletakan batu pertama juga sudah dilakukan pada hari Sabtu tanggal 6 Agustus 2016.

balai mandala paroki wedi 1Banner besar yang kini sudah terpasang di halaman depan gereja berisi pengumuman permohonan donasi amal untuk membiayai projek pembangunan gedung baru Balai Mandala Paroki Wedi. (Mathias Hariyadi)

Berikut ini adalah rencana kerja projek berdasarkan urutan waktu:

13 -20 Juli 2016: Pembongkaran bangunan lawas Balai Mandala dan pembersihan lokasi.21 Juli – 5 Agustus 2016: Penyiapan material dan lokasi.6 Agustus 2016: Peletakan batu pertama.7 Agustus 2016 – selesai: Proses pembangunan berjalan

Pembangunan diharapkan akan bisa selesai dalam kurun waktu tiga bulan sejak peletakan batu pertama.

Kebutuhan dana pembangunan

Dalam proposal projek pembangunan Balai Mandala Paroki Wedi, Romo Kepala Paroki Romo Andrianus Maradiyo Pr menyebutkan tiga kategori sumber dana untuk membiayai projek pembangunan ini. Ketiga sumber dana itu adalah Dana Pembangunan Gereja, donatur dari kalangan internal Umat Paroki Wedi, dan donatur eksternal dari luar Umat Paroki Wedi.

Melalui rilis di Sesawi.Net ini, Panitia Projek Pembangunan Balai Mandala Paroki Wedi mengharapkan adanya donasi amal untuk keperluan pembiayaan pembangunan gedung baru Balai Mandala.

Partisipasi aktif para pembaca Sesawi.Net dan terlebih segenap umat katolik dimana pun berada yang aslinya berasal dari Paroki Wedi  bisa menyalurkan donasi amalnya melalui transfer ke dua rekening yang berbeda guna mengakomodasi kemudahan proses donasi.

BCA Norek 0306 566 444 a.n. Andrianus Maradiyo Pr dan Mardinius Jarot Eko Saputro Andrianus Maradiyo adalah pastor kepala Paroki SPM Bunda Kristus Wedi. Sedangkan, Mardinius Jarot Eko Saputra adalah bendahara Paroki Wedi.Bank Mandiri Norek 138 000 557 5571 a.n. Pengurus Gereja dan Papa Miskin Paroki Wedi Klaten.Subjek berita: Balai MandalaNotifikasi: kirimkan bukti transfer donasi amal melalui email kepada nara hubung yakni fxsupriyono.wedi@gmail.com, mathias.hariyadi@gmail.com Kerangan: Cantumkan keterangan  di notifikasi email tentang apakah nama donatur ingin dipublikasikan atau cukup NN saja.

Rencana anggaran

Dalam proposal tersebut juga disampaikan rencana anggaran pembiayaan pembangunan sebagai berikut:

Rencana Pengeluaran: Rp 1.096.831.500,00Perkiraan Pemasukan: Rp    270.000.000,00Kekurangan               : Rp    826.831.500,00

Dilampirkan pula susunan kepanitian projek pembangunan Balai Mandala Paroki Wedi sebagai berikut:

Penasehat: Andrianus Maradiyo Pr bersama pastor rekan Rm. Christophorus Sutrasno Purwanto Pr dan Agustinus Suparjo (anggota Dewan Paroki Wedi).Ketua Panitia: FX Supriyono, Yohana Fransica Handayani.Sekretaris: Laurentius Sukamto, Anastasia Novita Dewi Puji Astuti, Yohanes Eko Mardiyono.Bendahara: Robertus Slamet Mulyana, Mardinius Jarot Eko Saputro.Tim Kerja Bidang Usaha: Agustinus Sukirmo, Agustinus Frankosa, Thomas Tamtama, Theresia Budi Wahyuni, Bernadheta Sukaryanti, A. Teddy Sugara, Francisca Shinta Aprilia Yanida.Pengadaan Logistik: AL Hartono, Mateus Nanang Ari Purnomo.Penerimaan Logistik: Yohanes Maryatno, Yustinus Suhardi Akadius Joko SumantoPenggerak Tenaga Non Teknis: De Paula Futwembun.Konsumsi: Yuliana Tri Harjanti, Patricia Atik Pramono, Cirilia Lidiawati

Nara hubung

Para donatur yang ingin mendapatkan gambaran lebih jelas dan lengkap mengenai Projek Pembangunan Balai Mandala Paroki Wedi, Klaten, bisa menghubungi para nara hubung berikut di bawah ini:

Sekretariat Pastoran Gereja Katolik SPM Bunda Kristus Wedi: (0272) 322 797Ketua Panitia Pembangunan: FX Supriyono (fxsupriyono.wedi@gmail.com)Redaksi Sesawi.Net: Mathias Hariyadi (mathias.hariyadi@gmail.com), Ketua Misdinar Paroki Wedi tahun 1975-1977.avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.