Paroki St Hieronimus Tj. Hulu Pontianak: Rekoleksi Prapaskah, Menyepi untuk Memperbaharui Iman

PONTIANAK – Masa Prapaska dimaknai sebagai momen untuk “menyepi”, karena umat diharapkan berbenah diri dengan melakukan pengelolaan rohani. Seperti nuansa dalam lagu-lagu masa masa Pra-paska, suasana berkabung cukup terasa dengan nyanyian yang syahdu.

Demikian disampaikan Pastor Paroki St Hieronimus Tanjung Hulu, Pontianak, Kalimantan Barat, P. Gregorius Sabinus CP, Minggu (21/2/16). Ia berbicara dalam rekoleksi Masa Prapaska dengan tema “Makna Paska bagi Hidupku”, dan sub tema “Masa Prapaska sebagai Masa Tobat”.

“Masa Pra-paskahmerupakan masa bertobat dan kesempatan bagi umat untuk mempersiapkan diri untuk merayakan Misteri Paska,” kata Pastor Greg, sapaan akrab Pastor Gregorius Sabinus, dalam rekoleksi yang diikuti 58 umat.

Pastor Greg mengatakan, iman umat perlu kembali disegarkan, melalui pembinaan rohani, sharing dalam doa-doa lingkungan, pendalaman iman, serta melakukan rekoleksi.

 Asal kata

Rekoleksi berasal dari kata dalam bahasa Latin, yaitu re yang berarti kembali dan collectio yang berarti mengumpulkan. Karena itu, rekoleksi dimaksudkan sebagai kesempatan untuk menghimpun kembali kesempatan rohani yang mungkin sempat hilang dan menguatkan lagi doa-doa yang kendor.

Pastor Greg berbicara dalam rekoleksi Masa Prapaska, mendorong umat untuk terus menerus mempererat relasi dengan Tuhan.

“Rekoleksi juga diharapkan mampu menghidupkan kembali iman yang mulai memudar. Mempererat kembali relasi dengan Tuhan yang terputus karena kesibukan rutinitas sehari-hari,” kata pastor kelahiran Sanggau, Kalimantan Barat, tahun 1962 ini.

Sebagai Masa Tobat, umat pasti merasakan, Masa Prapaska diwarnai dengan musik dan lagu misa yang lebih mengalun, bernuansa kesunyian dan menyiratkan rasa sesal atas segala dosa dan kesalahan manusia.

“Tekanan pada Masa Prapaska lebih pada sikap pertobatan dan pengudusan pribadi dalam Tuhan. Lebih mampu berusaha menahan diri, menjaga tutur kata, berdamai dengan sesama, dan membatasi kesenangan,” lanjut Pastor Greg.

Umat Katolik menjalani masa 40 hari yang disebut “retret agung” yang dimulai pada Rabu Abu dan berakhir pada Jumat Agung nanti. Untuk mengisi Masa Prapaska ini, Pastor Greg mengatakan, umat harus lebih tekun mendengar dan merenungkan Sabda Tuhan melalui Kitab Suci. Lebih rajin berdoa, tertib menjalankan pantang dan puasa, meningkatkan karya-karya amal dan cinta kasih.

Seorang peserta rekoleksi sedang membaca materi yang disediakan pastor paroki.

“Mungkin ada saudara-saudari kita yang mengalami beban hidup yang berat, bahkan hampir down (jatuh), mari pada masa ini semangatnya diperbaharui lagi, bangkit kembali,” harap Pastor Greg, yang pada 1997-1998 menjalani studi pastoral di East Asian Pastoral Institute (EAPI) Ateneo de Manila, University, Quezon City, Filipina kemudian mengikuti Kursus Spiritualitas di Universitas Gregoriana, Roma,  (2001–2002)

Ia menjelaskan, segala beban hidup itu tetap harus dimaknai sebagai ambil bagian atau partisipasi dalam merasakan penderitaan Kristus. Ada disebut dalam istilah kenosis, yaitu merendahkan diri sebagai tanda pertobatan.

Perayaan Paska itu  sendiri bermakna perayaan kenangan akan kebangkitan Yesus Kristus dari alam maut. Ini sebaiknya dimaknai pula oleh sesama manusia untuk bersikap saling tolong menolong.

“Kebangkitan Kristus juga dimaknai dengan kebangkitan kita dari kuasa dosa. Selama ini kita berkubang dalam dosa dan rohani kita mati. Tetapi setelah kita bertobat, kita diberi semangat baru untuk memulai hidup baru dan bangkit kembali,” papar Pastor Greg.

Untuk mengenali dosa-dosa manusia, Pastor Greg merincikan empat kriteria, yakni: dosa pikiran, dosa perkataan, dosa perbuatan, dan dosa kelalaian.

Ia juga mengingatkan agar umat senantiasa menghayati tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) Regio Kalimantan tahun 2016: “Berjuang dan Bergeraklah, Berani Membangun Kalimantan Baru”. (SE)

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.