Paradoks Minggu Sengsara

Minggu, 20 Maret 2016
Minggu Palma
Yes 50:4-7; Mzm 22:8-9.17-18a;19-20.23-24; Flp 2:6-1; Luk 22:14- 23:56

“Diberkatilah yang datang sebagai raja dalam nama Tuhan.”

HARI ini adalah hari Minggu Palma. Kita menyebutnya pula sebagai Minggu Sengsara. Kita mengawali Pekan Suci pada hari ini. Kita mengenangkan Yesus yang masuk kota Yerusalem dan orang-orang banyak mengelu-elukan Dia sambil berkata, “Diberkatilah yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan. Damai sejahtera di surga dan kemuliaan di tempat yang Mahatinggi!” Namun sayangnya, beberapa orang Farisi berkata kepada-Nya, “Guru, tegurlah murid-murid-Mu itu.” Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu-batu ini akan berteriak.”

Itulah yang Yesus ajarkan, dan yang Ia kerjakan dalam penderitaan-Nya, untuk membuktikan semua keraguan bahwa cinta-Nya bagi kita tanpa batas. Ketika Yesus lahir di Betlehem, para malaikat bernyanyi, “Kemuliaan bagi Allah di tempat Mahatinggi.” Kini saat Yesus masuk kota Yerusalem, rakyat bernyanyi, “Hosana bagi yang berada di tempat Mahatinggi.”

Minggu Sengsara penuh dengan paradoks. Inilah paradoks pertama, Penyelamat yang dijanjikan telah datang. Mesias ada di sini! Sang Juruselamat sudah dekat! Orang banyak percaya kepada-Nya namun orang-orang Farisi menolak Dia. Mereka tidak mau percaya kepada-Nya.

Kedua, Yesus datang sebagai Raja. Namun Sang Raja masuk kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai. Ya, keledai adalah tanda damai. Maka, Yesus masuk kota Yerusalem dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati, sebagai Raja Mesias yang menawarkan kemenangan dan perdamaian kepada umat-Nya. Dan kemenangan serta perdamaian itu terjadi melalui kematian-Nya pada kayu salib dan kebangkitan-Nya.

Paradoks ketiga adalah, di satu pihak kita dipenuhi dengan sukacita menyambut Yesus Kristus Sang Penebus. Namun di pihak lain, kita harus merenungkan kisah sengsara Yesus, penolakan, penderitaan dan kematian-Nya.

Bagaimana mungkin dalam satu hari kemenangan dipenuhi dengan sukacita dan dukacita? Inilah misteri iman kita dalam Kristus. Hal-hal yang tampaknya merupakan kekalahan-Nya sesungguhnya merupakan kemenangan-Nya, kemenangan kasih dan kerahiman kekal.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi kita menyembah Yesus Kristus yang telah bersabda bahwa tak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawa-Nya bagi sahabat-sahabatnya (Yoh 15:13). Dalam Adorasi kita menyambut Dia sebagai Raja Kerahiman kita.

Tuhan Yesus Kristus, kami menyadari bahwa sumber kedukaan kami adalah dosa-dosa kami, dan menjadi penyebab penderitaan-Mu. Namun kami percaya bahwa sumber sukacita kami adalah kasih-Mu, alasan Engkau sendiri berkenan menderita, dan kekuatan yang melaluinya pengorbanan-Mu di salib, menaklukkan dosa kami kini dan selamanya. Amin.

Sumber: Sesawi.net

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.