Panggilan Tuhan: Menjadi Terang dan Garam

Ayat bacaan: Matius 5:13-14
=========================
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.”

terang dan garam

Bagaikan sayur tanpa garam, itu sebuah ungkapan yang sering kita pakai untuk menggambarkan sesuatu yang hambar atau kurang greget. Bayangkan jika tidak ada garam di dunia ini. Makanan yang kita makan pun akan terasa hambar, tidak berasa. Bukan cuma itu fungsi garam. Garam juga bisa dipakai untuk mengawetkan bahkan bisa pula berfungsi sebagai obat. Garam hanya akan bermanfaat apabila garam itu keluar dari botol penyimpanannya. Jika hanya disimpan, apa yang bisa diperoleh dari fungsi garam? Tidak ada. Garam itu malah akan menjadi rusak, mengeras dan tidak lagi berguna sama sekali. Apalagi jika garam menjadi tawar. Jika itu terjadi, artinya garam itu tinggal dibuang saja. Sekarang mari kita lihat terang. Terang hanya akan terlihat bercahaya apabila berada di tempat terbuka yang gelap. Jika anda meletakkan senter di dalam sebuah kotak kemudian menguncinya, maka terang itu tidak akan berarti apa-apa. Coba letakkan sebuah lentera di bawah kolong tempat tidur, kemudian bandingkan terangnya ketika anda menggantungnya di atas. Mana yang akan lebih bermanfaat untuk menerangi kegelapan? Kedua hal ini dipakai Yesus sebagai contoh bagaimana kita harus berlaku di dunia ini. Menjadi terang dan garam, itu panggilan Tuhan buat kita.

Setelah kemarin kita melihat panggilan Tuhan bagi kita untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, hari ini kita melihat sebuah panggilan yang merupakan keharusan untuk dimiliki dan dilakukan oleh anak-anakNya. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyimpan berkat Tuhan untuk diri sendiri, dan tidak ada alasan pula bagi kita untuk tidak menjaga sikap, tingkah laku, perbuatan dan perkataan kita seperti apa yang digariskan Tuhan. Kenyataannya ada banyak orang Kristen yang berpikir bahwa beribadah setiap hari Minggu itu sudah cukup, lalu dari Senin sampai Sabtu hidupnya sama sekali tidak mencerminkan terang dan garam bagi orang-orang disekitarnya. Mereka lupa bahwa kita dituntut untuk menjadi saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan Surga di muka bumi ini. Yesus menggambarkan panggilan ini dengan terang dan garam. “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Matius 5:13-14). Garam hanya akan berguna ketika keluar dari botol, sedangkan terang hanya akan bercahaya jika diletakkan pada tempat yang tepat. “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (ay 15). Dan inilah seruan Yesus yang harus kita amalkan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (ay 16).

Mengapa kita harus menjadi terang? Sebab segala tentang Allah adalah terang. Kedatangan Kristus sendiri adalah sebagai Terang yang memberikan cahaya keselamatan dan pengharapan kepada kita, manusia yang sudah terlalu lama berselubung kegelapan. “Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yohanes 8:12) Kita sebagai orang-orang percaya tentunya harus pula menghidupi Terang ini. Bukan demi nama baik, pamor, popularitas kita, tetapi untuk memuliakan Bapa di surga seperti yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:16 di atas. Panggilan menjadi terang ini secara jelas juga bisa kita baca dalam Yesaya. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” (Yesaya 60:1-2). Ketika Terang Kristus, terang dunia ada di dalam diri kita, bagian kita selanjutnya adalah untuk menyinari dunia yang gelap. Ini tidak bisa kita lakukan apabila kita terus menerus berperilaku kurang terpuji, terus terpengaruh atau ikut-ikutan dalam arus kesesatan dunia, membiarkan diri kita untuk jatuh berulang-ulang dalam dosa atau terus hidup dalam kecemaran. Dalam 1 Tesalonika 4:7 kita baca “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” Dan ini adalah seruan yang sangat penting. Tanpa memastikan hidup kita kudus, taat dan patuh seturut kehendak Allah kita tidak akan mampu menjadi terang dan garam bagi dunia. Bukannya menjadi teladan dimana Tuhan bisa dipermuliakan, tapi kita malah menjadi batu sandungan dan contoh buruk. Ini harus kita hindari, karena salah satu panggilan Tuhan menghendaki kita agar mampu menjadi terang dan garam, yang mampu menerangi dan memberi banyak manfaat bagi banyak orang yang hidup kesulitan di dunia yang kejam ini.

Kita harus menjaga setiap aspek kehidupan kita untuk bisa menjadi bukti nyata bagaimana sebentuk kehidupan yang dipimpin oleh Kristus. Yesus mengingatkan: “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.” (Yohanes 12:36). Yesus telah mengangkat kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang Tuhan. Di dalam Dia kita telah menjadi ciptaan baru. Oleh karena itu kita harus benar-benar menyikapi hidup sebagai anak-anak terang. Paulus berkata “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran.” (Efesus 5:8-9). Dan lihatlah apa yang kita peroleh. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7). Hidup dalam terang bukan berarti menyimpannya untuk diri sendiri. Ingatlah bahwa terang tidak akan berarti apa-apa jika tidak ditempatkan pada posisi yang tepat.

Menjadi terang dan garam bagi dunia merupakan sebuah panggilan Tuhan untuk kita lakukan. Kita tidak akan bisa melakukannya apabila pola kehidupan yang kita pertontonkan kepada orang sama sekali tidak mencerminkan kasih Kristus sama sekali. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi terang dan garam apabila kita hidup jahat, kerap berkelahi, berlaku curang dan sebagainya? Kehidupan kita dalam keluarga akan dilihat oleh banyak orang. Kehidupan di tempat kerja, ketika belajar, bermasyarakat dan sebagainya akan selalu diperhatikan orang. Sudahkah kita menjadi contoh yang baik? Kita harus mulai memakai kehidupan kita sendiri sebagai terang dan garam untuk memuliakan Tuhan, dan itulah salah satu panggilan Tuhan yang penting buat kita. Jadilah terang yang bercahaya dan garam yang bermanfaat dan menyempurnakan bagi banyak orang.

Menjadi terang dan garam merupakan panggilan Tuhan bagi kita

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: