Panggil Saya, Django…Jangan baca D-nya

SYAHDAN ada putri dewa dari segala dewa melakukan kesalahan yang membuat marah ayahandanya, Brünnhilde namanya. Sang putri itu dihukum kurungan di suatu gunung, dikelilingi api abadi dan dijaga oleh seekor naga sakti. Kisah epos yang katanya populer di Jerman itu berakhir manis karena sang putri diselamatkan oleh seorang pahlawan berani yang menerobos api dan membunuh sang naga. Si pahlawan bernama Siegfried.

Kisah itu diceritakan kembali oleh seorang pemburu hadiah kawakan (bounty hunter) bernama Dr. King Schultz (diperankan Christoph Waltz yang baru-baru ini menyabet piala Oscar 2013 untuk kategori pemeran pendukung pria terbaik dalam film berjudul Django Unchained ini). Dr. Schultz yang berdarah Jerman menceritakan kisah pembebasan sang putri oleh Siegfried kepada Django (Jamie Foxx), seorang bekas budak kulit hitam yang cerdas dan berbakat.

Kisah Epos ala Django

Kisah epos itu mengena bagi Django karena istrinya, yang secara tidak kebetulan bernama Broomhilda (Kerry Washington) karena dibesarkan dalam lingkungan keluarga Jerman, direnggut darinya oleh jahatnya dan kejinya perbudakan akibat dominasi kulit putih di Amerika Serikat pada masa sebelum perang saudara. Dibakar oleh dendam kesumat kepada orang kulit putih dan kegetirannya terpisah dari belahan jiwanya, Django menerima tawaran Dr. Schultz untuk magang menjadi teman seperjalanan dalam perburuan kepala para penjahat.  Dr. Schultz yang jago menembak dan bernegosiasi, menyiapkan Django untuk misi kepahlawanannya, mulai dari latihan menembak cepat dan tepat  sasaran mati hingga menembak sasaran orang. Dr. Schultz juga melatih Django dalam negosiasi dan strategi lewat perburuan para pelanggar hukum untuk mendapat uang ganti kepala.

Kisah epos Sigfried ditanamkan dalam dalam di benak Django dalam-dalam, “Kamu mendaki gunung karena tidak takut gunung. Kamu membantai naga karena tidak takut kepada naga, dan kamu melewati kobaran api karena itu berharga untuk dijalani.”

Dan dimulailah kisah epos di dalam epos. Seluruh film berkisah pada upaya Django untuk menemukan Broomhilda, menuntut balas pada orang-orang kulit putih yang telah menyengsarakan mereka dan membebaskan Broomhilda dari perbudakan. Puncak perjuangan Django adalah ketika harus menghadapi pemilik perkebunan di Candieland di Mississippi, Calvin Candie (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) lengkap  dengan kebengisan dan sakit jiwanya.  Lewat bantuan Dr.Schultz-lah, Django harus berjibaku membebaskan istrinya dari cengkraman Calvin yang mengerikan.

Apakah Django berhasil seperti dalam epos Siegfried membebaskan sang putri? Apa saja yang harus dikorbankan oleh Django untuk membeli kembali jiwa istrinya?

Signature Tarantino

Penonton yang tidak diberitahu siapa sutradara film ini tentu akan menemukan ‘signature’ dari cara penyajian musik pengiring dan transisi adegan yang sering keluar dari pakem. Belum lagi eksploitasi habis-habisan pada darah dan tubuh yang terkoyak-koyak peluru. Ya, film ini mengingatkan pada film Kill Bill yang tak bisa dilepaskan dari sutradara Quentin Tarantino. Tarantino memang ahli dalam mengaduk-aduk perasaan karena antara jijik, ngeri, jeri, kadang-kadang ia sisipkan kejenakaan, humor dan sentuhan manusia yang terkadang kehilangan harkat kemanusiaannya, entah karena dipaksa atas nama perbudakan atau sengaja atas nama rasisme yang sadis dan keji.

Jika Anda tidak tahan melihat darah, sebaiknya Anda menonton film lain. Namun jika Anda ingin belajar tentang kemanusiaan dan perbudakan dalam aspeknya yang paling ekstrim, film ini pas untuk teman menghabiskan akhir pekan.

 

Credit photo: guardian.co.uk

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.