Palma Lambang Kemenangan

PalmSunday2014

Suasana Minggu (29/3/2015) pagi itu ramai sekali. Umat katolik Paroki Sta. Maria Immaculata Atambua dan sekitarnya telah memadati halaman depan gereja. Mereka bahkan berdesak-desakan di ruas jalan raya dan trotoar.

Padahal misa meriah Minggu Palma baru dimulai pukul 08.00 WITA yang akan dipimpin langsung oleh Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr. Saat itu, jam baru menunjukkan pukul 06.00 wita. Kepadatan umat ini terasa lagi sekali saat umat hendak pulang usai misa pertama.

Ribuan umat yang hendak merayakan misa berikutnya dan yang mau pulang saling berhadapan seolah hendak ‘berperang’. Yang mau misa, berhamburan masuk ke gedung gereja ingin segera mendapat tempat duduk, membuat pintu gerbang semakin sulit dilewati. Pemandangan sama juga di 2 pintu alternatif lainnya.

Dalam kotbahnya, Uskup Domi mengatakan, perayaan daum palma ini mengingatkan tentang Yesus Raja Penderita yang menang atas maut. “Penderitaan yang paling berat adalah penderitaan batin. Yesus mengalami pergolakan dalam batinNya. Yesus juga mengalami penderitaan: diludahi, dipukul, dimahkotai dengan duri, diolok-olok dan akhirnya dipaku di atas kayu salib. Kini kita diundang untuk memandang kepada Kristus Sang Raja kita,” kata sang uskup.

Sambil menyuruh umat mengangkat inggi-tinggi daun palma masing-masing, Uskup Domi mengatakan, daum palma adalah lambang kemenangan; Lambang hormat bakhti kita kepada Yesus Raja Pemenang. Maka dengan memegang palma di tangan, hendaknya umat sekalian mencampakkan kejahatan dalam hidup, yang bermula dengan kejahatan dalam hati masing-masing.

Kali ini yang bertugas mendampingi Uskup Atambua adalah pastor rekan, Rm. Anton Kapitan, Pr. Misa diiringi koor dari 800-an siswa-siswi SMA Kristen Atambua yang dipimpin sekaligus diiringi oleh organis yang juga sang guru sekolah Paulus Seran Tameu, S.Pd.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.