Pak Polisi Mardjo, “Kembaran” Dekat Romo Prof. Dr. N. Drijarkara SJ (3)

PERSAHABATAN di antara  orang tua akhirnya “mengalir sampai jauh” hingga tetap tinggal di generasi berikutnya yakni di kalangan anak-cucu.

Pada waktu masih duduk di bangku SD  tahun 1984-86, saya sudah bersahabat dengan dengan putra-putri Pak Mardjo. Saya pribadi sangat  mengenal keempat anak kandung Pak Polisi Mardjo yakni  Mbak Anjar (yang kemnudian tinggal di Surabaya), Mbak Nining (Madiun), Mas Agus dan Mbak Watik.

Saya mengenal sangat dekat dengan Agus dan Watik, karena mereka berdua adalah kakak kelas saya sewaktu duduk di bangku SD.

Keluarga bersahaja

Saya juga sangat  mengenal almarhum Pak Mardjo –cucu langsung Romo N. Drijarkara SJ—sebagai sosok pribadi yang  low profile. Meskipun seorang pensiunan perwira menengah polisi, beliau tetap  tampil sederhana. Saya ingat bila beliau bepergian: selalu hanya mau jalan kaki atau naik sepeda. Beliau suka menenteng tas kain warna hitam dan sepatu sandal kuno. Sebagai anak-anak, saya ingat betul bagaimana almarhum Pak Polisi Mardjo ini suka sekali membagi-bagi permen pada anak-anak yang dijumpainya di jalan.

 Rumah Pak Mardjo ini kebetulan dekat SD tempat saya sekolah  dulu.

Persahabatan saya dengan Agus dan Watik –putra-putri Pak Mardjo namun  terutama dengan Agus—itu karena waktu itu dia suka pelihara  banyak marmut dan anjing yang bagus-bagus. Saya pun pernah diberinya beberapa marmot dan itu  saya rawat dengan baik.

Hampir setiap pekan , saya suka main ke rumah Pak Mardjo ini. Selain punya banyak  hewan piaraan, keluarga pensiunan perwira menengah Polri ini  juga punya kebun yang luas di pekarangan rumahnya. Di situ berbagai macam buah tersedia.

Embah Maria Nganten

Seingat saya, Pak Mardjo juga pernah bercerita tentang pak lik-nya yakni Romo Driyarkara. Kepada anak-anak –termasuk saya yang waktu itu masih sangat bocah—beliau suka menunjukkan bekas “baturan” rumah dimana Romo Driyarkara lahir. Saya juga masih ingat, waktu kecil pernah mendengar cerita bahwa ibu Pak Mardjo sering disebut Embah Maria Nganten.

Belakangan saya jadi tahu, kalau Embah Maria Nganten itu adalah kakak perempuan Romo N. Driyarkara. Meski sudah amat renta, Embah Maria Nganten  amat rajin ikut misa stasi. Beliau selalu berjalan kaki dengan memegang tongkat sebagai alat bantu jalan.

Perjumpaan dengan keluarga Pak Mardjo dari dulu hingga hari ini segera akan sebuah kenangan indah. Yakni bagaimana saya akhirnya menemukan sosok pribadi  sederhana, jujur dan berani membela kebenaran.

Secara lahiriah, seorang polisi pada waktu itu secara finansial pastilah dengan akan gampang bisa membangun rumah tembok mewah atau membeli sepeda motor Honda CG atau CB 100 yang sangat populer pada zaman itu.  Tetapi rumah Pak Mardjo tetap berdiri dengan anyaman bambu. Sepeda onthel tetap menjadi kendaraan utamanya.

Bagi Pak Mardjo, hal itu bukan keterpaksaan, tetapi soal pilihan.

Menggertak Pak Camat

Masih tentang sosok Pak Mardjo, bapak saya pernah bercerita, suatu ketika ada pertemuan perangkat desa dengan Pak Camat di mana bapak saya dan Pak Mardjo juga ikut hadir. Di tengah pidatonya, entah dalam konteks apa dan dalam tujuan apa, Pak Camat tiba-tiba menyebut bahwa Dewi Mariyah –Ibunya Isa-Almasih– itu pelacur.

Dengan berani dan tanpa tedeng aling-aling Pak Mardjo lalu berdiri dan meminta Pak Camat segera turun dari mimbar dan langsung  menghentikan pidatonya. Sontak saja ‘gertakan’ itu sampai membuat kaget semua yang ada di balai desa itu, termasuk pejabat kecamatan dan kepala desa.

Seketika Pak Camat juga merasa gelagapan. Semula Pak Camat sempat mengira audiens-nya tidak ada yang katolik dan orang ndeso semua. Meski tak segera turun dari mimbar, tetapi kemudian minta maaf dan mempercepat pidatonya. Akhirnya, Pak Mardjo mengajak bapak saya segera meninggalkan pertemuan sepenting itu sebagai tanda protes bahwa pidato itu tak sepantasnya di ucapkan seorang camat atau pejabat negara lainnya.

 Menurut cerita bapak saya dan itu juga pernah saya konfirmasi pada  Watik dan Agus –putra-putri Pak Mardjo di kemudian hari– kesederhanaan, kelugasan dan keberaniannya tak lain karena kedekatan beliau dengan pak lik-nya yakni Romo N. Driyarkara SJ. Maklumlah, Pak Mardjo boleh dibilang keponakan kesayangan sang Romo. 

Kedekatan itulah yang kemudian mewariskan cara hidup, cara pandang, sikap dan kejujurannya terhadap segala sesuatu. Kemiripan wajahnya juga membawa kemiripan pada hidup kesehariannya. (Bersambung)

Artikel terkait:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.