Pahlawan Pemanah (1)

Ayat bacaan: Mazmur 127:4
===================
“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.”

Jika anda sudah menonton film The Avengers, anda tentu mengenal salah satu tokoh disana yang bernama Hawkeye. Tokoh ini bukanlah seorang dengan kekuatan superhero seperti halnya Hulk, tetapi ia piawai dalam menggunakan panah dan disebut sebagai pemanah terbaik dalam dunia komik Marvel. Di dalam film memanah itu sepertinya terlihat mudah, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Menurut seorang teman saya yang menggeluti dunia panah, untuk bisa menjadi pemanah ulung haruslah melalui banyak latihan dan butuh persiapan yang tidak ringan. Untuk menjaga agar tidak sampai cedera kita harus tahu betul prosedur dan cara yang benar dalam melakukannya, demikian juga agar panah bisa diarahkan tepat ke sasaran. Posisi tangan yang membidik dengan yang memegang busur harus sejajar, bagaimana menarik busur dengan tiga jari dan cara melepaskannya, berbagai peralatan pengaman seperti pelindung tangan, dada (jika diperlukan, terutama bagi wanita) dan sebagainya, itupun perlu mendapat perhatian khusus. “Menjadi pemanah butuh persiapan dan latihan matang, karena salah-salah bukan hanya bisa meleset dari sasaran tapi juga bisa mencelakakan diri sendiri.” kata teman saya.

Hawkeye adalah salah satu pahlawan dalam film The Avengers yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ia hanyalah tokoh fiktif hasil imajinasi pencipta tokohnya. Kita bukan Hawkeye dan hidup di dunia nyata, itu benar. Tapi tahukah anda bahwa di mata Tuhan anda pun sama dianggap para pahlawan apabila bisa mengarahkan anak-anak anda menuju sasaran yang benar? Tuhan menggambarkan peran anda para orang tua dan calon orang tua seperti Hawkeye, yaitu pahlawan yang bisa membuat anak-anak ‘panah’nya untuk bisa tepat sasaran, membawa dampak positif dimanapun mereka ditempatkan.

Kata pahlawan sebagai sebutan bagi orang tua yang bisa mengarahkan anak benar-benar disebutkan di dalam Alkitab, yaitu di dalam kitab Mazmur 127:4. “As arrows are in the hand of a warrior, so are the children of one’s youth.” Dalam bahasa Indonesianya dikatakan “Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” Dikatakan anak-anak pada masa muda, karena kita harus mulai mengarahkan mereka sejak di usia dini. Biasanya anak-anak sudah sulit diatur apabila sudah mulai beranjak dewasa atau memasuki masa puber, oleh karena itu yang terbaik adalah mengenalkan mereka kepada Tuhan dan kebenaran-kebenaran FirmanNya, mengajarkan tata krama, kesopanan dalam berbicara dan bertingkah laku dan sebagainya sejak mereka masih kecil. Kita bisa melihat bahwa sesungguhnya peran orang tua terhadap masa depan anaknya sangatlah krusial. Benar, jika kita melihat ayat sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan bahwa anak adalah milik pusaka, pemberian atau anugerah dari Tuhan (ay 3), tetapi ingatlah bahwa kita yang dititipkan punya tanggungjawab besar untuk mengarahkan mereka menghadapi arus dunia yang penuh dengan kesesatan. Siapa anak-anak kita kelak akan sangat tergantung dari bagaimana kita mengarahkannya, apakah kita sudah menjadi sosok pahlawan (warrior) seperti yang diinginkan Tuhan atau membiarkan mereka terseret arus dan menjadi orang-orang yang tidak berdampak atau malah mengganggu lingkungan.

Buat saya, peran orang tua yang disimbolkan bagai pahlawan yang berjuang dengan panah ini sangatlah menarik karena bisa mengilustrasikan koneksi orang tua dan anak beserta peran didalamnya secara tepat. Agar anda bisa menjadi pemanah ulung yang bisa membawa harum nama bangsa, anda butuh persiapan dan latihan yang matang. Mari kita lihat satu persatu dan kaitannya dengan peran orang tua ini.

1. Persiapkan tali busur, busur dan anak panah yang kuat
Seorang pemanah harus memperhatikan peralatan yang mereka pergunakan, demikian juga dengan anak panahnya. Jika hanya terbuat dari bahan yang mudah lapuk, tipis atau patah, tentu itu akan menggagalkan anda dalam mengenai sasaran. Seperti itulah persiapan orang tua agar dapat mengarahkan anaknya. Tidak ada anak yang akan bisa diarahkan jika orang tuanya masih lemah dalam memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah. Jadi orang tua perlu terlebih dahulu mengerti nilai dan prinsip dan tidak hanya berhenti disana tapi juga menjadi teladan langsung lewat contoh perbuatan dalam hidup sehari-hari agar bisa mempersiapkan anak-anak muda yang kuat dalam menghadapi masalah.

2. Tali busur harus fleksibel dan elastis
Anda tidak akan bisa memanah jika tali busurnya tidak elastis. Tanpa adanya gaya pegas dari keelastisan tali, panah tidak akan bisa melesat jauh menuju sasaran. Sebagai orang tua, kita harus bisa bersikap fleksibel dan elastis terhadap anak-anak yang notabene berada dalam generasi yang berbeda dengan orang tuanya. Maksud elastis atau fleksibel disini bukanlah bersikap lunak membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang mereka perbuat, tetapi mengacu kepada pemahaman/mengerti tentang generasi seperti apa yang tengah dialami oleh anak-anak kita.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.