Orang Asing dan Pendatang

3 Juli - RmT

“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” (Ef 2, 19)

SORE ini saya mendapatkan tamu dari Bandung satu keluarga besar. Setelah omong-omong, seorang bapak mengatakan bahwa dirinya bukan asli Bandung, tetapi dari Tegal. Kelahiran Tegal dan pindah ke Bandung sejak masuk SD. Beliau ini tentu merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang tinggal di Bandung sebagai pendatang.

Tentu masih banyak lagi orang dari berbagai tempat atau daerah lain yang tinggal dan menetap di Bandung. Kota Bandung dan kota-kota besar lain banyak menerima pendatang dari berbagai penjuru dan pelosok Nusantara. Banyak pendatang pada mulanya merasa asing dengan lingkungan hidup yang baru. Mereka merasa asing terhadap tetangga di sekitarnya; asing dengan bahasa dan pergaulan masyarakat; asing dengan sikap dan perilaku orang-orang yang dijumpainya.

Perasaan asing akan hilang setelah mereka berproses selama bertahun-tahun untuk menyesuaikan diri, bergaul dan bermasyarakat. Banyak pendatang yang akhirnya menetap seumur hidup di tempat yang baru. Namun banyak pula para pendatang yang akhirnya pulang ke kampung halamannya, setelah menyelesaikan tugasnya, pekerjaannya atau sudah memasuki usia pensiun.

Sekalipun sudah menetap seumur hidup, seorang asing dan pendatang tetaplah sering dibedakan dengan penduduk asli. Dalam beberapa kasus, orang asing dan pendatang sering mendapat prioritas kemudian dibandingkan dengan penduduk asli atau ‘putra daerah.’ Sementara orang sering protes dan memboikot, ketika tampuk kepemimpinan atau kekuasaan jatuh kepada orang asing atau pendatang dan bukan kepada putra daerah.

Beberapa pemimpin gerejani pun pernah mengalami penolakan oleh masyarakat asli, saat mereka akan dilantik atau ditahbiskan. Dalam situasi seperti ini, apa yang dikatakan Santo Paulus sungguh relevan bahwa para murid Kristus itu bukanlah orang asing dan pendatang. Semuanya adalah kawan sewarga dan sama-sama anggota keluarga Allah. Sebuah keluarga yang dibangun atas dasar para rasul dan para nabi dan Yesus Kristus sebagai batu penjurunya.

Bagaimana situasi komunitasku: masih adakah anggota yang merasa diri asing dan belum merasa satu keluarga?

Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.