Ora et Labora (2)

(sambungan)

Adalah menarik jika kita melihat sebuah ayat dalam Yoel yang menyinggung atau menyiratkan mengenai keseimbangan ini ketika Yoel memberikan seruan untuk bertobat. Ayat itu berbunyi: “baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?” (Yoel 2:17). Mengapa para imam dan hamba Tuhan harus menangis di antara balai depan dan mezbah? Tuhan secara spesifik mewahyukan hal ini. Dari ayat tersebut kita bisa melihat perlunya keseimbangan antara mezbah dan balai depan. Bukan hanya di mezbah, dan bukan hanya di balai depan. Bukan hanya berdoa, dan bukan juga hanya bekerja saja. Keduanya haruslah dilakukan secara seimbang.

Dari ayat ini kita bisa menangkap sebuah pesan penting, bahwa apapun yang kita lakukan perlu disertai dengan doa. Keduanya harus berjalan beriringan, bersama-sama. kita harus bekerja, itu benar. Tuhan mengharuskan kita bekerja, dan Tuhan memberkati pekerjaan kita. Tapi bagaimana Tuhan mau memberkati pekerjaan kita jika kita tidak melibatkanNya dalam pekerjaan kita? Atau lebih luas lagi, bagaimana Tuhan mau memberkati hidup kita jika kita tidak melibatkanNya dalam kehidupan kita? Oleh sebab itu seruan pertobatan yang disampaikan Yoel menyiratkan bahwa antara berdoa dan bekerja, ora et labora, keduanya haruslah dilakukan secara seimbang, beriringan dan berkesinambungan.

Dalam Efesus 6:18 kita bisa melihat sebuah ayat yang mengingatkan kita agar tidak melupakan atau meniadakan doa dalam langkah kita. Bukan hanya sekedar berdoa sekali-kali, tetapi disana kita diingatkan untuk berdoa setiap waktu. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “Pray at all times (on every occasion, in every season) in the Spirit, with all [manner of] prayer and entreaty.” Pray at all times, on every occasion, in every season. Berdoalah dalam setiap waktu, dalam hal apapun, dalam situasi apapun. Doakan apapun yang kita kerjakan agar Tuhan memberkati usaha kita secara penuh, pada saat yang sama lakukanlah pekerjaan “dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Keseimbangan seperti inilah yang akan mendatangkan keberhasilan dalam segala sesuatu yang kita lakukan.

Kita perlu melatih dan mendisplinkan diri agar bisa menyeimbangkan keduanya dan terbiasa untuk mengkombinasikan keduanya dalam hubungan yang harmonis. Itu jelas perlu proses dan butuh waktu. Bukan saja dalam pekerjaan atau profesi kita, tetapi pelayanan dan peran kita dalam keluarga pun butuh terus didukung doa agar bisa berhasil dengan maksimal. Jika kita terus melatih diri, kita akan menemukan sebuah kesimpulan bahwa apa yang penting bukanlah maunya kita tetapi maunya Tuhan. Disanalah kita bisa melatih ketaatan kita kepada Tuhan meski kita sudah sedemikian sibuknya, dan disanalah kita bisa melihat bagaimana luar biasanya hasil luar biasa dari usaha kita yang terus didukung dalam doa. Jangan korbankan jam-jam doa karena kesibukan pekerjaan, sebaliknya jangan pula memakai waktu doa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan tidak bekerja. Keduanya harus dilakukan secara seimbang dan saling terkait satu dengan lainnya. Sudahkah anda melibatkan Tuhan dalam pekerjaan anda? Atau sudahkah anda berusaha serius seperti apa yang anda minta dalam doa anda?

Jadilah pengikut Kristus yang rajin bekerja dan tekun dalam doa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.