Nuh dan Imannya (2)

(sambungan)

Karena belum pernah ada kapal sebelumnya, tentu sulit rasanya bagi siapapun untuk bisa membuat bahtera apalagi yang berukuran besar. Dibuat dari kayu yang berat, tapi harus bisa mengapung. Itu mungkin butuh ahli fisika. Luar biasanya, Nuh pada saat itu mendapat hikmat Allah, dimana Allah sendirilah yang secara langsung memberitahukan detail-detail untuk membangun sebuah kapal. Dan itu tertulis dalam kitab Kejadian. “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya.Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas.” (Kejadian 6:15-17).

Ukurannya tidak main-main. Kalau dalam satuan ukuran yang umum buat kita, bahtera itu berukuran sekitar 133 meter panjangnya, 22 meter lebarnya dan 13 meter tingginya. Saat itu rasanya belum pernah ada yang namanya hujan lebat yang begitu lama yang akan membuat seluruh bumi tenggelam. Nuh belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya, sehingga saya yakin logikanya tidak akan mampu menggambarkan hal tersebut. Tapi sekali lagi, Nuh taat dan mengerjakan seluruhnya sesuai perintah Tuhan. Nuh percaya bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi bukan berarti tidak akan terjadi. Dia memilih untuk patuh. “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.” (ay 22). Setelah selesai, Tuhan pun berkata: “Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.” (7:1). Dan terjadilah malapetaka besar. Hujan pun turun selama 40 hari dan 40 malam menenggelamkan segalanya. Singkat cerita, kita tahu seperti apa kemudian akhir ceritanya. Nuh selamat, keluarganya pun diselamatkan. Apakah karena Nuh orang yang selalu baik? Bukan demikian yang dicatat Alkitab. Allah menyelamatkan Nuh bukan karena Nuh orang baik, melainkan karena Nuh adalah orang benar.

Karena iman, Nuh melakukan segala sesuatu yang belum pernah atau bisa dia lihat dengan ketaatan penuh. Iman yang dimiliki Nuh membuat ia dinyatakan benar di hadapan Tuhan, dan karenanya diselamatkan. Kembali kepada kitab Ibrani yang menjadi sumber renungan dalam beberapa hari terakhir, inilah yang dijelaskan Penulisnya mengenai Nuh. Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (Ibrani 11:7). Dengan kata lain, Ketaatan Nuh berasal dari imannya, dan karena imannya itulah ia diperhitungkan Tuhan sebagai orang yang benar.

Sudahkah, atau mampukah kita memiliki iman seperti Nuh? Sanggupkah kita terus memegang teguh janji Tuhan, meski mungkin saat ini kita belum melihat jawaban apapun atas permasalahan kita? Masihkah kita tetap percaya dan terus bersyukur meski gelombang kesulitan masih terus bergejolak? Masihkah kita tetap taat walaupun tantangannya tidak mudah? Apakah kita akan tetap memegang teguh iman saat berada dalam lingkungan yang mungkin bukan saja sulit tapi mungkin kejam? Nuh membuktikan bisa, dan lihatlah hasilnya. Miliki iman yang teguh, tetaplah percaya bahkan ketika anda belum melihat apa-apa. Iman akan membuat anda bisa melihat sesuatu yang belum terjadi dan membuat anda mempunyai dasar dari semua yang diharapkan. Bukankah itu kita perlukan terlebih saat kehidupan terus berlanjut menjadi semakin tidak mudah saat ini?

Dengan iman Nuh dibenarkan dan diselamatkan beserta keluarganya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.