Nota Pastoral 2014: KWI Imbau Semua Pihak Perangi Narkoba, Pulihkan Martabat Pasien Narkoba (1)

KWI Secretary General and Semarang Archbishop Mgrs. Johannes Pujasumarta addressed the audience 2

INI adalah kerja jangka panjang yang juga mensyaratkan komitmen besar dari semua pihak –termasuk Hirarki Gereja Katolik Indonesia—untuk bersama-sama bergiat memerangi praktik penggunaan narkoba dan memulihkan martabat sosial para pasien ketagihan narkoba melalui berbagai program rehabilitasi.

Seruan ini bergema kencang, saat KWI bersama Badan Narkotika Nasional dan Yayasan Katolik Kunci Yogyakarta untuk Rehabilitasi Pasien Narkoba (RKY) merilis Nota Pastoral 2014 bertemakan “Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia: Dari Keputusasaan menuju Pengharapan” di Yayasan Katolik Kunici Yogyakarta sekaligus Pusat Rehabilitasi Pasien Narkoba (RKY) di Nandan, Yogyakarta, Jumat (27/6) kemarin.

Mewakili Konferensi Waligereja Indonesia, Sekjen KWI Mgr. Johannes Pujasumarta sekaligus Uskup Agung Semarang berkenan merilis nota pastoral penting ini bersama mitra kerjanya dari BNN yakni Inspektur Jenderal (Pol) Nicholaus Eko, Brigjen (Pol) dr. Victor Pudjiadi, dan jajaran BNN Provinsi DIY dan Kabupaten Sleman di RKY Nandan, Yogyakarta.

Menjadi tuan rumah untuk acara peluncuran Nota Pastoral 2014 bertemakan “Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia: Dari Keputusasaan menuju Pengharapan” ini adalah Yayasan Katolik Kunci Yogyakarta sekaligus Pusat Rehabilitasi Pasien Narkoba (RKY) dan Sekretariat Jenderal KWI yang diwakili oleh Direktur Kawali Romo YR Edy Purwanto Pr bersama para romo sekretaris eksekutif komisi-komisi di KWI.

Asosiasi Teolog Moral

Ikut hadir mendukung program peluncuran Nota Pastoral 2014 ini adalah Uskup Agung Keuskupan Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ dan tiga imam ahli teologi moral dari Fakultas Teologi Wedabakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta: Romo Dr. YB Kusmaryanto SCJ, Romo Dr. Al. Purwahadiwardoyo MSF, dan Romo Dr. Bernard Kieser SJ. Mereka bertiga sekaligus menjadi motor penggerak kelompok yang menyebut diri Asosiasi Teolog Moral Katolik Indonesia.

KWI Secretary General and Semarang Archbishop Mgrs. Johannes Pujasumarta addressed the audience

Nota Pastoral 2014 Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia: Sekretaris Jenderal KWI Mgr. Johannes Pujasumarta mewakili KWI merilis peluncuran nota pastoral 2014 bertemakan “Dari Keputusasaan menuju Pengharapan” di Yayasan Katolik Kunci Yogyakarta sekaligus Pusat Rehabilitasi Pasien Narkoba (RKY) di Nandan, Yogyakarta, tanggal 27 Juni 2014. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Ketiga pastor dosen teologi moral di USD Yogyakarta inilah tokoh-tokoh penting di balik gerakan Gereja Katolik Indonesia –dalam hal ini KWI—yang dalam setahun terakhir ini mencoba merumuskan komitmen iman untuk memerangi ‘penyakit sosial’ yang begitu ganas dengan efek daya rusak sosial yang dahsyat: narkoba. Setelah Sidang Tahunan KWI tahun 2013 mencungulkan gerakan komitmen bersama di antara para Uskup di seluruh Indonesia untuk memerangi narkoba bersama instansi lainnya, maka di tahun 2014 menjelang Sidang Tahunan KWI November 2014 mendatang lahirlah Nota Pastoral bertemakan “Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia: Dari Keputusasaan menuju Pengharapan”.

Tentu saja ini merupakan satu langkah maju sangat progresif, kata Sekjen KWI Mgr. Johannes Pujasumarta, dalam kata sambutannya mengantar peresmian rilis nota pastoral ini. Boleh dikata dari yang tidak ‘berbuat apa-apa’ menuju satu gerakan hati dalam satu langkah bersama berupa  komitmen bersama dari para Uskup seluruh Indonesia untuk ‘bertindak esuatu’ melawan penyakit sosial masyarakat ini.

Irjen Pol Nicholaus Eko BNN

Dukungan kuat dari BNN: Gerakan KWI untuk memerangi narkoba dan mencoba berkarya untuk pemulihan kesehatan dan martabat sosial para pasien penderita narkoba mendapat dukungan moral dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Sekretaris Utama BNN Irjenpol Nicholaus Eko datang bersama staf BNN Pusat Jakarta dan lokal dari Provinsi DIY dan Kabupaten Sleman mendukung pencanangan nota pastoral KWI ini. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Lebih lanjut, kata Uskup Agung Keuskupan Semarang ini, para Uskup pun secara bersama juga ingin mencari langkah-langkah nyata untuk ‘menyelamatkan’ para korban adiktif narkoba dari jurang keputusasaan menuju pemulihan diri merebut kembali martabat sosialnya dan kemudian boleh berharap meniti babak baru dalam hidup sosialnya.

Ternyata gayung pun bersambut hangat.

Badan Narkotika Nasional (BNN) –lembaga non pemerintah yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI—menyambut hangat gerakan KWI ini. Maka tak heran, acara peresmian Nota Pastoral 2014 bertemakan “Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia: Dari Keputusasaan menuju Pengharapan” dengan amat antusias pula mendapat dukungan meriah dari jajaran BNN tingkat nasional, provinsi, dan daerah tingkat kabupaten.

Sekretaris Utama BNN Inspektur Jenderal (Pol) Nicholaus Eko –putra asli Paroki Hati Kudus Yesus Tegal—berkenan datang mewakili Kepala BNN Komjen (Pol) Anang Iskandar. Pun pula Brigjen (Pol) dr. Victor Pudjiadi –juga dari BNN—ikut datang memberikan penjelasan seputar kejahatan narkoba dan semua dampak negatifnya.

Bertindak sebagai tuan rumah adalah Yayasan Katolik Kunci untuk Rehabilitasi Pasien Narkoba  (RKY) di Nandan, Yogyakarta dan Kantor Sekretariat Jenderal KWI Jakarta.

Romo Edy Purwanto Nandan

Tuan rumah: Direktur Kantor KWI (Kawali) sekaligus Sekretaris Eksekutif KWI RD Edy Purwanto menyambut para hadirin dalam kapasitasnya sebagai tuan rumah hajatan peluncuran nota pastoral 2014 KWI di Yayasan Katolik Kunci Yogyakarta (RKY) di samping Bruderan Karitas FC di Nandan, Yogyakarta. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Narco-terrorism
Dalam paparannya kepada audiens yang hadir menyemarakkan peluncuran nota pastoral ini, Sekjen BNN Inspektur Jenderal (Pol) Nicholaus Eko dengan gamblang membeberkan potensi narkoba sebagai daya penghancur dahsyat yang bisa memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Ibarat peluru kendali untuk menghancurkan baterei pertahanan darat musuh di ujung kejauhan sana, maka narkoba juga punya potensi daya penghancur dan perusak yang maha dahsyat karena yang diserang adalah inti utama komponen masyarakat.

“Itu tak lain adalah keluarga. Kalau tak bisa diserang dan dilumpuhkan melalui peluru kendali, maka yang disasar adalah komponen masyarakatnya yakni keluarga. Anggota keluarga ‘ditembak’ melalui konsumsi narkoba; mulai dari anak-anaknya hingga kemudian sendi-sendi kehidupan ekonomi keluarga mulai goyah karena anak-anak mulai nyandu dengan narkoba,” kata jenderal polisi bintang dua  lulusan pendidikan khusus di Inggris ini.

Jadi, teror sosial yang paling menakutkan sekarang ini tidak hanya infiltrasi ideologi ekstrim dan serangan bersenjata, melainkan juga serbuan narkoba dengan sasaran anak-anak kita. Tidak hanya yang remaja, dewasa, melainkan anak-anak pun sudah disasar menjadi konsumen narkoba melalui berbagai jenis zat narkoba dengan kemasan permen atau bentuk lainnya.

Data terakhir, kata Irjen Pol Nicholaus Eko ini, jumlah pemakai narkoba di seluruh Indonesia sekitar 4,8 juta jiwa. Namun, terjadi kecenderungan data yang terus merangkak naik. “Tahun depan diprediksi jumlah pemakai narkoba tidak kurang dari 5,2 juta jiwa,” terangnya.

Apakah angka 5,2 juta jiwa itu merupakan akumulasi dari angka 4,8 juta jiwa sebelumnya? Belum tentu juga, karena bisa jadi dari jumlah 4,8 juta itu sudah ada yang meninggal karena overdosis. Kesimpulannya, jumlah pemakai narkoba selalu berkecenderungan naik sepanjang tahun.

Musuh bersama

Paparan Brigjen (Pol) Victor Pudjiadi semakin menjadikan ‘narkoba’ layak disebut sebagai ‘musuh bersama’ masyarakat. Itu karena semua jalur selalu bisa dimanfaatkan oleh para pengedar dan pemakai untuk bisa mendapatkan barang laknat ini. Makin banyak dikonsumsi, maka bandarnya makin senang dan makin kaya. Sebaliknya, makin goyahlah daya ekonomi keluarga hingga akhirnya rusak pula sendi-sendi kehidupan keluarga.

Brigjen Pol Victor Pudjiadi dan Romo Dwi Harsanto

Kerjasama KWI-BNN-Yayasan Katolik Kunci Yogyakarta: Brigjen Pol dr. Victor Pudjiadi ikut memberi paparan tentang bahaya narkoba dan jalur-jalur peredaran narkoba di Indonesia saat berlangsung peluncuran nota pastoral KWI. Bersamanya adalah Ketua Pokja KWI untuk nota pastoral 2014 yakni Sekretaris Komisi Kepemudaan KWI RD Yohanes Dwi Harsanto. (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi)

Masyarakat dibuat sakit karena narkoba. Tatanan masyarakat jadi hancur karena banyaknya keluarga hancur secara ekonomi dan martabat sosialnya berantakan. Itulah dahsyatnya terorisme melalui serbuan narkoba. “Dan jangan lupa, banyak pula orang katolik ikut menjadi pemain sebagai produsen, kurir, dan pemakai,” kata Brigjen Pol Victor mengingatkan Gereja Katolik Indonesia jangan sampai ‘lengah diri’ menyikapi gejala penyakit sosial yang sangat serius ini.

Photo credit: Suasana peluncuran Nota Pastoral 2014: “Menyikapi Kejahatan Sosial Narkoba di Indonesia. Dari Keputusasaan menuju Pengharapan” (Sesawi.Net/Mathias Hariyadi & Yayasan Kunci Yogyakarta (RKY)/Br. Yoannes FC)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.