“Non-Stop”, Begini Jadinya kalau AS Gagal Berikan Jaminan Keamanan

< ![endif]-->

MENJAGA keamanan dunia adalah sesumbar Pres. George W. Bush kala itu, hingga kemudian gencar mengirim pasukan multinasional pimpinan AS ke Irak dan kemudian ke Afghanistan sekarang. Dalihnya, memperkuat demokrasi dan menjungkirbalikan pemerintahan tiran di Irak (baca: Saddham Hussein) dan kaum Taliban di Afghanistan. Namun, kita semua tahu justru keamanan dalam negerinya sendiri kacau balau. Penembakan brutal dengan korban masyarakat sipil dengan pelaku remaja dan ‘orang sakit jiwa’ sering terjadi di tlatah AS.

Keamanan itu penting

Sebuah film olok-olok tentang tragedi 9/11 yang meluluhlantakan Menara Kembar World Trace Center di Manhattan, NY, jelas memperlihatkan bahwa presiden AS yang mantan Gubernur Texas tampak sedikit ‘linglung’ ketika secret service tiba-tiba membisiki telinganya bahwa ‘ada insiden ekstra luar biasa’ di Manhataan. Itu karena Menara Kembar yang menjadi simbol kedigdayaan pasar ekonomi dan perdagangan bursa di New York itu hancur berantakan, terbakar hingga akhirnya luluh lantah setelah ditabrak pesawat yang dibajak teroris. Padahal, saat itu Pres. Bush baru di tengah acara informal bersama anak-anak sekolah.

Kurang lebih ada 3.000-an nyawa melayang tewas dan ribuan lainnya luka parah dalam Insiden 9/11 di tahun 2001 silam. Dan peristiwa ini menyisakan trauma mendalam bagi masyarakat AS dan komunitas internasional. Karenanya sejak itu, diam-diam badan penerbangan sipil AS selalu ‘menyelundupkan’ air marshal di setiap penerbangannya guna mencegah tangkal potensi teroris membahayakan penerbangan.

Bill Marks (Liam Neeson) punya badge dan tanggungjawab sebagai air marshal agent. Sementara, dua penumpang dengan latar belakang ‘sakit jiwa’ bernama Tom Bowen punya ‘dendam’ dengan pemerintah AS yang terbukti gagal menyediakan keamanan dalam negeri lantaran bobolnya pertahanan udara dan clearance bandara mencegah tangkal penyusupan teroris masuk pesawat. Lalu ada lagi Zack White –pemuda kulit hitam pensiunan tentara—yang ternyata diam-diam punya sejarah dendam kurang lebih sama.

Lalu ada juga Jack Hammond –agen federal—yang tamak dan ambisius ingin kaya mendadak. Ia menyalahi aturan moral sebagai petugas keamanan karena justru menyimpan kokain dan bom di kopernya. Ia keburu mati ditekuk lehernya di kamar mandi pesawat oleh sang jagoan: Bill Marks.

Seru di tengah konflik

Ini bukan film besutan AS, namun film Eropa dengan sedikit sentuhan gaya film Amrik. One-Stop dibesut oleh sutradara Perancis yakni Jaume Collet- Serra. Tentu saja, mengikuti genre film-film Perancis, Non-Stop juga tidak perlu heboh-heboh amat untuk mengobral ketegangan.

Non-Stop-2014-movie-Wallpaper-1280x800

Aktor Inggris keturunan Irlandia Liam Neeson yang berperan sebagai air marshal agent Bill Marks beraksi dalam kabin pesawat penerbangan British Aquantic untuk melumpuhkan ‘orang sakit jiwa’ yang menjadi teroris. (Ilustrasi/Ist)

Namun, ruang kokpit dan kabin pesawat sudah bisa menghadirkan ketegangan yang maksimal. Terutama, upaya air marshal Bill Marks menemukan siapa teroris ‘penyusup’ yang diam-diam mengirimkan teks SMS yang berisi ancaman pembunuhan di dalam penerbangan British Aquatic menempuh rute NY-London ini.

Ketegangan kian memuncak, setelah kapten pesawat ditemukan tewas terkena imbas racun. Tapi siapa yang menebar racun juga tidak ketahuan. Dan itulah hebatnya Non-Stop ujung sampai akhir hingga di ujung cerita ternyata dua orang ‘sakit jiwa’ menjadi teroris di dalam penerbangan jalur internasional ini.

Jen Summers (Julianne Moore) –perempuan paruh baya yang menjadi penumpang di kelas eksekutif—didapuk sutradara menjadi pemanis dan pelengkap Non-Stop.

Photo credit: Ilustrasi/Ist

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.