Museum Pribadi Penguat Iman (1)

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:37
====================
“TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.”

Indonesia itu punya lebih dari 300 museum, tapi kebanyakan sepi pengunjung. Kenyataannya adalah orang Indonesia lebih suka ke pusat perbelanjaan, cafe dan sebagainya ketimbang ke museum. Padahal museum memberikan banyak informasi atau memorabilia tentang sejarah, seni dan budaya dari masa lalu. Dari obrolan saya dengan pengurus salah satu museum beberapa waktu lalu, permasalahannya bagaikan lingkaran setan. Museum kurang inovatif, tidak menarik dan tidak dirawat baik, kekurangan guide yang representatif seperti museum-museum di luar sana, Itu di satu sisi. Di sisi lain kurangnya pengunjung dan kurangnya perhatian dari pemerintah membuat museum kekurangan dana untuk bisa menata diri secara layak. Gaya hidup anak muda saat ini adalah nongkrong di mall, cafe dan sejenisnya. Museum dianggap kuno dan tidak gaul. Sayang sekali memang, padahal ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari museum.

Pelajaran berharga bisa kita dapati dari museum karena setiap jaman punya masanya masing-masing. Selalu ada hal-hal yang bisa kita pelajari bahkan kita jadikan pelajaran jika kita mengacu kepada sejarah-sejarah atau peninggalan dari masa lalu. Pernahkah anda berpikir bahwa setiap orang termasuk anda sendiri sebenarnya punya museum-museum pribadi pula? Pasti ada saat-saat dalam hidup kita yang masih kita ingat dengan baik hingga hari ini, yang mungkin pernah menjadi tonggak perubahan kita ke arah yang lebih baik, sesuatu yang kita jadikan pengalaman atau pelajaran berharga dan sebagainya. Ini termasuk pula berbagai pengalaman ketika kita mengalami sesuatu yang luar biasa dalam hubungan kita bersama Tuhan. Ada begitu banyak kejadian-kejadian luar biasa yang akan selalu berguna untuk diingat, terutama ketika kita sedang mengalami pergumulan-pergumulan dalam hidup. Saya percaya semua orang pasti pernah mengalami saat-saat indah ketika Tuhan mengulurkan tanganNya untuk melakukan keajaiban dalam hidup kita, melepaskan kita dari masalah, menyembuhkan kita atau berbagai mukjizat-mukjizat  lainnya. Sayangnya kebanyakan orang seringkali melupakan itu semua ketika saat ini kita kembali dilanda masalah. Hari ini percaya, besok bimbang. Hari ini mengalami kebesaran kuasa Tuhan, besok sudah galau lagi. Itu kan yang sering terjadi pada kebanyakan orang, termasuk mungkin kita sendiri? Untuk menghadapi hari-hari yang berat dan sulit, kita sesungguhnya memerlukan sebuah museum pribadi seperti ini, yang penuh berisikan kenangan akan pertolongan Tuhan. Sebuah museum pribadi yang setiap saat bisa kita lihat untuk kembali menguatkan kita di kala lemah atau berbeban berat.

Ada contoh menarik akan hal ini dari Daud. Daud pernah mengungkapkan museum pribadinya sebelum dia berhadapan dengan Goliat. Pada waktu itu tentara Israel pimpinan Saul tengah merasa ketakutan menghadapi provokasi dari Goliat dan rekan-rekannya. Secara postur dan tinggi badan, perlengkapan persenjataan dan sebagainya mereka memang kalah jauh dibanding pasukan Goliat. Itu membuat tentara-tentara israel pimpinan Saul sudah kalah sebelum bertanding.

Siapa Daud waktu itu? Dia belum jadi raja Israel. Daud pada masa itu masih belia. Ia pun bukan seorang tentara, melainkan hanyalah sebagai penggembala sejumlah kecil domba milik ayahnya, sebuah pekerjaan yang sangat rendah di waktu itu. Dibandingkan tentara, tentu pekerjaan Daud tidak ada apa-apanya, apalagi usianya pun masih sangat muda. Tapi lihatlah bagaimana keberanian gembala ternak ini. Ia ternyata jauh lebih siap dibanding tentara yang seharusnya sudah berpengalaman dalam menghadapi peperangan. Tidak kurang dari 40 hari lamanya Goliat menantang Israel, dan selama itu pula tidak satupun dari mereka yang berani menghadapinya. Lalu Daud pun datang, dan sempat disepelekan oleh para tentara termasuk dari abangnya sendiri.

Apa sebenarnya yang membuat Daud merasa yakin mampu mengatasi Goliat? Lihatlah apa kata Daud ini: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” (1 Samuel 17:34-36). Saat berhadapan dengan masalah yang besarnya bagai raksasa Goliat, Daud membuka museum pribadinya mengenai betapa hebatnya kuasa penyertaan Tuhan di waktu lalu.

Bekerja sebagai gembala kambing domba sepertinya terlihat sepele dan gampang. Tetapi sesungguhnya tidak demikian, karena itu membuatnya harus berhadapan dengan binatang-binatang buas seperti beruang dan singa. Dengan fisik dan tenaganya sendiri, apa yang bisa ia lakukan untuk melawan binatang-binatang buas seperti itu? Tapi Daud mengatakan mampu mengatasi itu berkali-kali. Dan Daud mengetahui dengan jelas bahwa itu bukanlah karena kehebatannya melainkan karena campur tangan Tuhan. Kekuatan Tuhan lah  yang memampukannya untuk bisa menaklukkan hewan-hewan pemangsa yang berukuran jauh lebih besar dari dia. Jika Tuhan sanggup membuatnya menang menghadapi binatang-binatang buas, mengapa tidak untuk menghadapi Goliat? Bagi Daud, Goliat tidak lebih dari singa atau beruang yang sudah pernah ia tundukkan. Singkatnya, Daud belajar dari museum pribadinya bersama Tuhan, dan itu membuatnya yakin dalam menghadapi apapun. “Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (ay 37).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.