Mukjizat Penggandaan Roti, Mukjizat Perubahan Hati

loaves_and_fishes1-jpg

Minggu Biasa 17 B 2 Agustus 2015:

2Raj. 4:42-44; Ef. 4:1-6; Yoh. 6:1-15

DI antara para akhli Kitab Suci ada pertanyaan kritis tentang mukjizat-mukjizat Yesus: apakah itu benar seperti yang diceritakan atau bagaimana? Tentang mukjizat penyembuhan, kebanyakan akhli tidak memasalahkan kebenaran ceritanya, karena apa yang dibuat Yesus, juga dapat dibuat oleh banyak orang yang mendapat kurnia seperti itu sampai sekarang. Tentang mukjizat yang bukan penyembuhan, tentu ada berbagai kemungkinan. Tuhan Mahakuasa, tentu mampu berbuat apa saja. Tetapi ada yang mengatakan itu cuma cerita untuk mengajar, tetapi ada juga yang mengatakan ada suatu peristiwa yang terjadi dan diceritakan kembali sebagai suatu kisah mukjizat. Salah satunya ialah peristiwa mukjizat perbanyakan roti ini.

Orang banyak mengikuti Yesus karena melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan yang dilakukanNYa. Sesudah mengikuti Dia sepanjang hari, pasti mereka lapar. Para murid Yesus mulai gelisah tentang bagaimana mendapat makanan untuk semua orang itu. 5000 laki-laki dan entah berapa perempuan dan anak-anak. 200 dinar setara dengan upah kerja 200 orang yang cukup untuk memberi akan keluarga masing-masing untuk sehari. Jika 1 keluarga =5 orang, maka yang dapat diberi makan baru seribu orang. Jatah 1 orang harus dibagikan kepada 5 orang, tiap orang anya dapat sepotong kecil yang tidak cukup untuk masing-masing.

Dan Yesus bersama murid-muridNya pasti tidak mempunyai uang sebanyak itu. Ada seorang anak yang melalui Andreas menawarkan bekalnya, 5 roti dan 2 ikan. Pengajaran Yesus dan ketulusan hati anak itu menyentuh semua orang yang hadir dan mereka juga mulai mengeluarkan bekal mereka dan berbagai dengan orang disekitarnya. Dan… bekal sedikit yang rasanya tidak cukup untuk diri sendiri, ternyata cukup, bahkan berlebih sampai 12 bakul.

Jadi ini adalah salah satu tafsiran atas kisah Mukjizat Perbanyakan Roti. Tafsiran ini dapat benar, dapat juga salah. Dalam tafsiran ini yang diubah Yesus bukan roti dan ikan, tetapi hati manusia. Yesus mengadakan mukjizat mengubah hati semua orang itu sehingga hidup dalam kasih dan rela berbagi dengan sesamanya.

Itulah yang sebenarnya juga diharapkan terjadi lagi setiap kali Yesus membagikan roti hidup kepada kita. Yohanes memakai kata-kata: Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan membagikanNya kepada mereka…. Kita hampir dapat meneruskannya dengan Ambillah dan makanlah…! Kisah ini memang merupakan gambaran Ekaristi sebagai lambang Perjamuan surgawi dimana Yesus memberikan roti hidup, hidupNya sendiri bagi keselamatan kita.

Dalam Ekaristi kita dapat berjumpa dengan Tuhan untuk membawa dan menyampaikan kecemasan, kekhawatiran dan beban-beban hidup kita. Dalam Ekaristi kita dapat menimba kekuatan untuk menjalani hidup kita dan dalam Ekaristi kita dapat mengalami kasihNya yang mengalir melimpah kepada kita. Dari kasihNya itu, kita dapat belajar dan mencoba berbagi kasih dengan sesama, tanpa meperhatikan kesusahan dan kegelisahan kita sendiri.

Pada hari Minggu, seorang bapak dengan rasa enggan, pergi ke Gereja. Ia datang, tepat sebelum misa mulai. Ia duduk di bangku belakang, memejamkan mata untuk berdoa. Ia merasa ada sentuhan di kakinya. Ia membuka mata, meilhat ada sepatu kotor, kusam dan berdebu bersentuhan dengan sepatunya. Ia menutup mata lagi. Dia merasa terganggu. Kenapa juga orang ini duduk mepet-mepet. Tetapi orang di sebelahnya nampaknya tidak merasa mengganggu. Misa mulai, sampai Doa Pembukaan.

Bapak itu melihat, sepatu di sebelahnya, sudah tua, lusuh dan ada lubang di pinggirnya. Apa orang ini tidak punya rasa malu, pakai sepatu seperti itu ke Gereja? Doa selesai. Orang di sebelahnya dengan berbisik menjawab Amin. Waktu Kemuliaan dinyanyikan, orang itu menyanyi dengan semangat dan lantang. Suaranya menembus langit, pasti kedengaran sampai surga. Waktu kolekte diedarkan, nampak dia memasukkan lembaran uang kecil ke dalam kantong kolekte.

Kotbah pastor kali ini panjang dan membosankan. Bapak itu menguap sampai keluar air mata. Dia melirik ke sebelah orang itu juga meneteskan air mata. tapi pasti bukan karena mengantuk. Sesudah berkat, pastor mengajak umat untuk menyalami orang-orang yang tidak dikenal yang duduk di sebelah kiri-kanan kita. Bapak itu hendak menyalami orang disebelahnya itu. Ternyata dia orang yang sudah tua, berkulit hitam dan rambutnya berantakan. Bapak itu menyalaminya dan berterimakasih bahwa dia sudah datang ke Gereja mereka.

Orang itu memperkenalkan diri. “Nama saya Charlie. Terima kasih sudah menyapa saya.”

Ada air mata di matanya, tetapi senyumnya lebar. “Saya sudah ikut misa disini beberapa bulan. Tetapi baru anda yang sekarang menyapa saya. Saya tahu, saya tidak seperti umat yang lain. Tapi saya selalu mencoba tampil yang terbaik. Sepatu ini sudah saya semir sebelum saya berangkat. Tapi saya jalan kaki dari jauh. Jadi sampai di Gereja, sepatu ini sudah kotor lagi.”

Bapak itu merasa ulu hatinya sesak, seperti dipukul orang. “Saya minta maaf karena duduk mepet tadi. Saya pikir, kalau kaki kita bersentuhan, jiwa kita juga dapat bertemu.”

Bapak itu bingung mau mejawab apa. dia tidak mau menjawab basa-basi saja. Tetapi ia hanya bisa mengatakan sejujurnya: “Anda sudah menyentuh hati saya. Dan anda sudah mengajar saya. Karena bagian paling baik dari seseorang ialah hatinya.” Bapak itu berpikir dalam hatinya. Orang itu tidak tahu, betapa saya bersyukur bahwa dia telah menyentuh hatinya. (Leanne Freiberg: The Shoes)

Bukankah iitu mukjizat Ekaristi yang seharusnya terjadi tiap kali kita merayakan Ekaristi? Tuhan Yesus membuka hati kita, sehingga hati kita bersentuhan dengan hati sesama saudara kita dalam Perayaan Ekaristi ini. Mari, kita buka hati. Kita lihat kiri-kanan kita. Kalau ada yang belum kita kenal, kita mulai berkenalan singkat, sebelum kita lanjutkan Ekaristi ini. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.