Motivasi Mengikuti Yesus (2)

Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
“Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.”

Seandainya pasangan anda ditanya alasan ia memilih anda, lantas jawabannya bukan karena cinta tetapi karena kaya, banyak harta, warisan yang besar, karena jabatan yang tinggi, status atau popularitas anda, apa yang anda rasakan? Anda akan merasa sedih atau sakit hati bukan? Anda tentu menginginkan jawaban bahwa pasangan anda memilih anda karena ia mencintai anda, bukan karena motivasi-motivasi lainnya. Tidak satupun dari kita yang menginginkan alasan lain dari orang yang kita cintai dalam menjalin hubungan dengan kita selain karena cinta. Pada kenyataannya, tidak jarang orang memilih pasangan bukan karena cinta tapi justru didasari oleh motivasi-motivasi lain. Ada yang karena harta, status atau popularitas sepeti contoh di atas, ada juga yang karena kasihan. Kita bisa bayangkan seperti apa hubungan apabila didasari oleh motivasi-motivasi seperti itu. Sebuah dasar motivasi yang lemah tidak akan kuat bertahan untuk waktu lama, sebuah motivasi yang salah akan menghasilkan outcome yang salah pula.

Jika dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia saja kita perlu memeriksa betul apakah motivasi kita sudah baik dan benar atau belum/tidak, apalagi dalam menjalin hubungan dengan Tuhan, yang menciptakan kita secara istimewa seperti rupa dan gambarNya sendiri. Apabila anda ditanya, mengapa anda mengikuti Yesus, pertanyaan ini mungkin terdengar mudah tetapi pada kenyataannya tidaklah gampang untuk dijawab. Belum tentu orang tahu mengapa ia mengikuti Yesus. Bisa jadi, karena memang sudah turun temurun, bisa jadi karena dilahirkan di lingkungan kristen, bisa pula karena mengharapkan banyak kemudahan, ingin kaya, makmur, mengharapkan pertolongan dan lain-lain yang sifatnya hanya sementara untuk dunia  yang fana ini. Mengikuti Yesus hanya didasari pada faktor untung rugi, hanya ingin mengeruk keuntungan dan bukan karena kasih, Yang memiliki motivasi seperti ini hanya ingin meminta dan mendapat tanpa mau memberi dengan membangun hubungan satu arah saja. Mereka mencari Yesus karena berharap berkat-berkat duniawi dan mengira bahwa mereka tidak lagi perlu melakukan apa-apa. Jika mereka tidak menerima apa-apa, mereka pun akan kecewa, menjelek-jelekkan Tuhan dan pergi mencari alternatif-alternatif lain. Seorang teman saya mengatakan bahwa ia mengikuti Yesus karena ia mengasihi Yesus. Ia menyadari betul bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihinya dan menganugerahkan begitu banyak karunia termasuk keselamatan yang sebenarnya tidaklah layak ia terima, dan karenanya ia mengikuti Yesus, Tuhan yang menurutnya sangat menyayanginya dan selalu menjaganya. “Meski saya belum atau tidak memperoleh apa yang saya minta, saya akan tetap ikut Yesus. Sederhana saja, karena iman saya percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamnya ada keselamatan, di dalamnya ada harapan, di dalamnya ada kuasa dan kekuatan. Dan tentu saja karena saya mengasihiNya seperti halnya Dia mengasihi saya.” Ini jawaban yang luar biasa indah yang akan sangat menyukakan hati Tuhan, tetapi tidak banyak orang yang bisa memberi jawaban seperti itu.

Bagaimana reaksi Tuhan terhadap orang-orang yang mencari keuntungan dariNya, orang-orang yang meletakkan motivasinya pada hal-hal untuk mencari kemakmuran menurut ukuran duniawi? Kita bisa melihat itu dari kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar di Bait Allah pada sebuah Hari Paskah Yahudi. Pada hari itu Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Apa yang Yesus lihat pada waktu itu sungguh buruk. “Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.” (Yohanes 2:14). Gereja berubah fungsi menjadi pasar. Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, bukan berisi orang-orang yang rindu untuk bertemu dan mendengar Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang, yang dijaman sekarang dikenal dengan money changer, melakukan bisnisnya disana. Kita bisa membayangkan hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu, selayaknya pasar. Pemandangan seperti itu sangatlah menyakiti hati Yesus. Yesus marah besar. Inilah yang selanjutnya Yesus lakukan: “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (ay 15-16).

Mari kita kaji lebih jauh. Ketika Yesus dihina, ditinggalkan, difitnah, disiksa dan disalib hingga mati, Yesus tidak menunjukkan kemarahan seperti itu. Ia mendoakan dan mengampuni orang-orang yang menyiksa diriNya sedemikian rupa dengan sangat sadis sampai mati. Secara logika sederhana, itu lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah dan akan memancing kemarahan lebih besar bukan? Tapi ternyata itu tidak memancing kemarahan Yesus. Yesus tetap tenang menjalani semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus timbul. Ini adalah satu-satunya hal yang membuat Yesus marah. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang sangat serius. Apa yang membuat Yesus marah sedemikian rupa saat itu?

Kemarahan Yesus timbul karena melihat banyaknya orang yang mencari untung dengan memanfaatkan Tuhan. Kita mungkin bisa berkata bahwa kita tidak berdagang sapi atau burung di gereja, tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 kita membaca: “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” Ini bicara mengenai motivasi dalam mengikuti Yesus. Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan sebagainya. Tentu saja Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu tidak perlu diragukan. Namun semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama. Seandainya kita diberitahu bahwa mengikut Yesus berarti harus siap sangkal diri, pikul salib, harus mengalami penderitaan, maka akan ada banyak orang yang mengundurkan diri. Mereka inilah yang meletakkan motivasi yang salah dalam mengikut Yesus.Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat sebagai motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan. Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah alam semesta yang begitu luas. Dia rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita semua dari kebinasaan kekal. Ini sebuah misi penyelamatan yang mencengangkan, sebuah bentuk kasih terbesar yang pernah ada, the greatest love of all.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).  Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Itulah motivasi Tuhan. Sebuah kasih ternyata bisa menggerakkan Tuhan untuk menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Jika Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Kita sudah diingatkan Yesus bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24). Dengan demikian prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar. Ingatlah bahwa “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Korintus 5:15). Semua itu didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya atas dasar kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Karena kita tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru selamat, didalamNya ada pengharapan, ada kepastian dan jaminan keselamatan. Semua Dia berikan atas dasar kasihNya yang begitu besar pada kita, dan oleh karenanya sudah seharusnya kita pun mengasihiNya tanpa memandang untung rugi tentang hal-hal yang sifatnya fana. Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita masih berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Mari periksa diri kita hari ini. Jika kita masih menemukan motivasi-motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang sebelum Yesus harus marah kepada kita dan menjungkirbalikkan semuanya.

Dasarkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan atas dasar kasih dan bukan untuk mencari keuntungan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.