Mona of Tasmania Meledek Budaya Postmodernis yang Posesif (27B)

< ![endif]-->

MUSEUM of Old and New Arts –yang akrab disingkat Mona di Semenanjung Berriedae, Hobart of Tasmania, Australia–  tidak hanya menertawakan seks dan kematian. Mona juga meledek budaya postmodernisme yang ditandai antara lain dengan semangat skeptisisme dalam memandang segala sesuatu.

Sebuah panorama airmancur menarik perhatian pengunjung Mona. Tak terkecuali saya, Ping dan teman kami Kevin dari Dover of Tasmania.

Air mancur ini tidak biasa. Airnya tetap ‘mancur’ mengalir dari atas ke bawah mengikuti daya gravitasi bumi. Yang menarik di Mona ini justru karena mancurnya air ini mampu mempertontonkan proses jatuhnya air dari sebuah ketinggian ke bawah dan sepersekian detik seakan ‘berhenti’ lalu kemudian jaruh mengikuti hukum gravitasi.

Ini bukan pancuran air biasa. Yang tidak biasa adalah pemandangan air yang muncrat dari ketinggian menuju bawah mengikuti hukum gravitasi itu  sepersekian detik berhasil menorehkan berbagai tulisan. Nah, tulisan-tulisan ini berbau eksplosif, sinis, dan tentu saja semangat postmodernis berdiri di belakang aneka tulisan yang merangkai kata-kata menjadi ‘Obama’, ‘Confidence’, ‘Hospitals’, ‘Editorials’, ‘Totem’, ‘Gun’, ‘Conflict’, dan seterusnya.

Mona airmancur editorials

Di lantai dua, semangat postmodernis yang mencoba mendekonstruksi benda-benda juga menimpa sebuah mobil super mewah Ferari.

Mobil berdaya pacu kencang dengan logo kuda jingkrak yang eksotik  ini tetap mengusung warna merah dominan –khasnya Ferrari—sesuai nafas aslinya para insinyur otomotif kelas wahid di Italia yang mendesain tunggangan besi ini.

Namun, Ferrari hasil besutan Mona dipermak menjadi gembleb alias gendut lengkap dengan gelambir-gelambir di sudut-sudut mobil.  Alhasil, semangat postmodernis Mona lalu membesutnya dengan nama olok-olok The Fat Ferrari.

Semangat dekonstruktif Mona juga mengobrak-abrik maket sebuah candi, termasuk Sang Buddha. Artefak seni budaya sangat tinggi ini dibesut menjadi tidak ‘sempurna’ karena sengaja dibuat bolong di sana-sini. Juga Sang Buddha dibuat tidak ‘sempurna’ karena beberapa bagian tubuhnya dibuang. Mona mengoleksi patung Sang Buddha tanpa kepala.

Berbagai benda seni instalasi koleksi Mona memang eksplosif dalam penggambarannya; juga dalam tampilan fisiknya. Di lantai paling bawah –misalnya—orang dibuat terkesima menyaksikan kolong-kolong kematian. Tapi bukannya ‘kengerian’ yang tersaji di panel-panel berupa lempengan kaca bening, melainkan justru sapaan hangat nan mesra bergaung “I Love You” terdengar dari lempengan kaca bening yang bisa ditarik keluar-masuk layaknya laci-laci meja.

Mendekonstruksi kemapanan juga diperlihatkan melalui lobang-lobang ‘pengintaian’.

Beberapa benda seni berupa ceruk berbahan baku tanah liat dan keramik ditaruh dalam sebuah wahana khusus di balik kaca. Untuk bisa menikmati koleksi benda-benda seni ini, para pemirsa dipersilahkan melongok melalui sebuah lobang kecil. Persis mirip-mirip moncong keker untuk membidik target tembakan.

Di salah satu ruangan cukup besar, puluhan pesawat televisi dibiarkan menyala. Di layar kaca terpampang semua pidato atau wawancara para korban kekerasan, lengkap dengan pemandangan kepala mereka yang bocel oleh lemparan batu atau wajah lebam karena kena tonjok polisi anti huru-hara.

Mona kotak kaca I Love You

Perpustaakan di Mona terkesan lengkap. Tapi tunggu dulu, karena rak-rak buku itu hanyalah jejeran lapisan kayu dimana format buku semua dikemas dalam wujud kertas tebal putih. Yang namanya perpustakaan –sumber pengetahuan—diobrak-abrik menjadi hanya kumpulan kertas tabularasa dimana para pembaca dipersilahkan mengisi ‘tabung tabularas’ itu dengan knowledge sendiri.Mona the Fat Ferrari 2

Bangunan gedung bertingkat dibiarkan ambruk, lengkap dengan serpihan beling (kaca pecah) di sana-sini. Deburan debu semen dibiarkan ‘membasahi’ lantai. Lalu, di ujung yang lain dipertontonkan bagaimana proses kematian manusia berlangsung. Malaikat pencabut nyawa berdiri di ujung kegelapan; persis mirip-mirip penonton TV di Indonesia diajak menyimak program acara tayangan dunia lain.

Sarang laba-laba lengkap dengan aneka binatang dibiarkan ‘melata’ di awang-awang. Yang kotor dan norak dalam kehidupan nyata diobrak-abrik dan disulap menjadi indah di Mona. Tatanan lampu menggawangi pameran seni instalasi dengan semangat postmodernisme ini.

Di luaran ada semacam mobil pelontar rudal dari darat-ke-udara. Namun berbeda dengan yang biasa, mobil pelontar missile antarbenua ini berangka kawat-kawat baja. Kesannya begitu macho yang mematikan. Rudal antarbenua itu diarahkan menuju Berriedale Peninsula di perairan Hobart yang menakjubkan.Mona mobil kawat baja 2

Warna-warni koleksi benda-benda seni lama dan baru memang menjadi jualan paling top di Mona (Museum of Old and New Arts). Saking ngetopnya Mona ini di kalangan para turis lokal dan asing, maka tak heran kalau setiap harinya Mona selalu kebanjiran dengan ribuan pendatang/penonton.

Bahkan untuk bisa mendapatkan lahan parkir di ujung jalan dekat vineyard Moorilla yang luas ini pun, orang rela antre lama, sekedar untuk bisa memojokkan mobilnya di parking lot untuk berwisata mengeksplorasi Mona.

Mona patung Buddha tanpa kepala

Mona the Fat Ferrari 1

Mona Airmancur Obama

Photo credit: Museum of Old and News Arts/MONA di Semenanjung Berriedale, Hobart, Pulau Tasmania, Australia (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.