Mona Menertawakan Kematian dan Seks di Berriedale, Tasmania (27A)

< ![endif]-->

KEMATIAN dan lebih-lebih seks sedari dulu selalu menjadi dua tema besar dan sangat menarik dalam banyak studi tentang manusia dan kemanusiaannya, termasuk tentu saja filsafat dan psikologi. Sigmund Freud –pencetus teori psikonalisis yang mempesona orang—senang sekali setiap kali berbicara tentang eros dan thanatos. Sementara Michel Foucault –seorang pemikir filsafat Perancis dalam bukunya yang heboh Histoire de la Sexualité: la Volonté de Savoir (Sejarah Seksualitas: Nafsu untuk Mengetahui)– juga teramat senang membicarakan bagaimana seksualitas itu membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia, khususnya budaya.

Kedua tema menarik yakni seksualitas dan kematian itu juga menjadi isu besar dalam studi teologi, yakni ketika orang beriman mencoba mencari rasionalitas imannya kepada Tuhan. Termasuk tentu saja membicarakan dua ciri eksistensial yang selalu menyertai kehidupan manusia: seksualitas dan kematian.

Seks dan kematian

Mona di Hobart, Pulau Tasmania, Australia juga tak lekang oleh nafsu besar untuk memperbicangkan kedua hal menarik di atas: seks dan kematian. Namun kali ini, Mona melihat dua hal itu  dengan perspektif sangat berbeda. Bukan lagi dengan diskursus-diskursus intelektual. Melainkan lebih mempertontonkan seks dan kematian secara masif, eksplosif, terang-terangan, dan publik.

Mona bukanlah nama seorang perempuan cantik dari Hobart, Ibukota Negara Bagian Tasmania di ujung selatan Benua Australia.

Mona adalah singkatan keren dari Museum of Old and New Arts.

Mona of Hobart Tasmania ok

Terletak di sebuah kawasan super indah di Semenanjung Berriedale di Hobart, pesona Mona bukan hanya soal seks dan kematian. Mona juga menawarkan pemandangan indah, karena di pekarangan jalan masuk menuju museum bersemangatkan jiwa postmodernis ini terhampar kawasan perkebunan anggur yang indah yang diberi label Moorilla.

Adalah pria eksentrik bernama David Walsh yang menggebrak Mona dengan pameran eksklusif tentang rona-rona keindahan seks dan kematian dalam performa seni instalasi yang menakjubkan.  Dengan gagahnya, David Walsh memasang nama Mona sebagai museum yang dengan terus-terang mengaku berani mempertontonkan seks secara vulgar alias apa adanya. Kata dia, Mona is definitely a subversive  adult “Disneyland”.

Subversif memang. Tapi justru inilah indahnya Mona yang menawarkan empat dimensi keindahan: arsitektur lanskap yang indah, koleksi berbagai seni instalasi yang eksplosif dan menarik, serta panorama Semenanjung Berriedale di ujung peraian Hobart of Tasmania yang eksotik. Pesona keempat tentu saja indahnya lanskap kombinasi antara layanan resto/café, ekspose benda-benda seni, aroma hawa nan segar dan bersih, serta wahana perkebunan anggur Moorilla yang begitu scenic.

Pesona Hobart of Tasmania

David Walsh jelas seorang seniman. Meski semua barang-barang pameran yang ada di Mona bukan asli karya dia melainkan sekedar ‘koleksi pribadi’, namun bagi pecinta seni dan budaya kehadiranMona toh menjadi pesona nomor satu di Hobart.

Mona Lelaki dan perempuan okBahkan ada anekdot di antara masyarakat Tasmania –khususnya di Hobart—yang dengan bangga mengatakan, justru karena ada Mona ribuan turis asing dan lokal dari daratan Australia sudi mampir ke Tasmania. Memanglah, Mona benar-benar indah di mata sekaligus memuaskan dahaga orang untuk mengenali kedua cirikhas eksistensialnya yang paling manusiawi  yakni seks dan sisi yang paling menakutkan yakni kematian.

Sigmund Freud membicarakannya dalam terminologi eros (nafsu birahi) dan thanatos (kematian). Calon Santo Paus Y0hannes Paulus II membahasnya dalam diskursus spiritual mengenai theology of the body. Sementara, teologi sering membahasnya tema ini dengan terminologi after life.

Lelaki berkelamin perempuan

Tapi, Mona hasil besutan seniman eksentrik David Walsh justru menertawakan seks dan kematian dengan perspektif seni. Mempertontonkan seks lengkap dengan tekstur alat kelamin perempuan di atas tubuh ragawi lelaki adalah salah satu sudut  eksplosif Mona. Sayang juga, saya tak mungkin memasang fotonya di sini. David memajang gagah sebuah karya seni instalasi berwujud seorang lelaki telanjang bulat, namun dua benda eksotis yang menandakan ciri seksualnya justru berupa payudara dan vagina.

Mona menertawakan seks. Museum David Walsh ini sengaja mengobrak-abrik payudara lelaki dengan ukuran jumbo, sekilas mengingatkan kita pada bintang porno Italia berdarah Hungaria  yang kini sudah almarhum yakni La Cicciolina alias Ilona Staler. Namun, pria berkelamin wanita koleksi Mona ini punya payudara dengan  banyak gelambir di sana-sini.

Norak sekaligus masif.Mona lanskap ok

Sementara, vagina lelaki berkelamin perempuan ini sengaja dipertontonkan secara vulgar karena ‘bagian dalam’ alat vital perempuan ini juga  diekspose secara eksplosif.

Maka dari itu, di sudut lantai bawah ini dipasang board berisi anjuran ‘discretion is needed’ alias jangan bawa anak kecil ke sini.

Photo credit: MONA (Museum of Old and Modern Arts) di Hobart, Pulau Tasmania, Australia (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.