Misteri Kasih Allah

Hari Raya Tritunggal Maha Kudus, A; 15 Juni 2014

Kel. 34:4-6.8-9; 2Kor. 13:11-13; Yoh. 3:16-18

AJARAN Gereja tentang Tritunggal sangat sederhana. Allah bukannya 3, juga bukan cuma satu dengan 3 cara menampakkan diri. Allah berhakekat satu dengan 3 pribadi. Tetapi apa itu? Semua usaha untuk memahami hakekat Tritunggal sebagai usaha untuk memahami Allah pada diriNya sendiri, pasti tidak akan sampai pada pemahaman sempurna, karena Allah adalah misteri.

Karena itu kita hanya dapat memahami Allah sejauh yang diperkenalkan oleh Kitab Suci, khususnya oleh Yesus Kristus, Pribadi II Allah yang menjadi manusia, yang memperkenalkan Allah kepada kita dan sejauh kita alami dalam hidup kita.

Umat Israel melihat Allah Bapa, Pribadi Pertama sebagai Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa. (Kel. 3:6-7). Allah adalah Bapa yang berkehendak mengasihi dan mengampuni manusia.

Yohanes mengenal Yesus Kristus, Pribadi Allah II: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16).

Yesus adalah pelaksana kasih Allah, bukan hanya mencintai, tetapi mengampuni dan menyelamatkan manusia, dengan mengurbankan diriNya sendiri. Paulus melihat Roh Kudus, Pribadi Allah III: Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian (2Kor. 3:18). Roh Kudus adalah yang mempersekutukan kasih karunia Putera dan kasih Bapa dan diberikan untuk menyertai kita.

Jadi kalau kita perhatikan, ketiga Pribadi Ilahi itu dilukiskan dalam hubungannya dengan manusia. Allah Bapa yang berkehendak mengasihi dan mengampuni manusia. Allah Putera yang setuju dan melaksanakan kasih Bapa, mengasihi dan menyelamatkan manusia dengan mengurbankan diriNya. Allah Roh Kudus yang menyatukan semua rencana dan pelaksanaan kasih Allah menjadi kasih karunia, suka cita dan damai bagi manusia.

Jadi Tritunggal Mahakudus pertama-tama adalah pengalaman manusia yang membutuhkan kasih, mengalami kasih dan tergerak untuk mewujudkan kasih karena dorongan kasih Allah dalam hidupnya.
Ada seorang gadis bernama Cindy. Ayah Cindy pekerja keras, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman.

Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya. Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ke tempat tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua. “Ibu sayang padamu,” kata ibu Debbie. “Aku juga sayang Ibu,” gumam Debbie. Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman apapun padanya. Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu.

Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya. “Kamu senang di rumah Debbie?” tanya ibunya. “Rumah ini sepi sekali tanpa kamu,” kata ayahnya. Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya. Kenapa mereka tak pernah menciumnya? Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya? Apa mereka tidak menyayanginya?. Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie. Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungya. Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.

Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtuanya. “Selamat malam,” katanya. Ayahnya yang sedang membaca koran, menoleh. “Selamat malam”, sahut ayahnya. Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum. “Selamat malam, Cindy.” Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi. “Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?” tanyanya. Ibunya tampak bingung. “Yah,” katanya terbata-bata, “sebab… Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih kecil. Itu saja.” Cindy menangis sampai tertidur.

Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal bersama orangtua Debbie. Maka ia membatalkan rencananya dan pergi.

Segalanya terasa kosong dan tidak menyenangkan. Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang di dunia ini. Cindy tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku. Ia duduk lama, sambil berpikir, hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat gagasan. Rencananya pasti berhasil. Ia akan membuatnya berhasil.

Ketika ia masuk kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. sang ayah langsung menutup telepon. ibunya sedang duduk dengan ekspresi cemas. “Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!”. Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata, “Aku sayang padamu, Bu.” Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara. Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluk dan menciumnya sambil berkata, “Selamat malam, Yah. Aku sayang padamu,” Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah. Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya. “Bu, Aku sayang padamu.” Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dar bulan ke bulan.

Kadang-kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy tidak putus asa. Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan ibunya masuk. “Mana ciuman untukku?” tanya ibunya, pura-pura marah. Cindy duduk tegak. “Oh, aku lupa,” sahutnya. Lalu ia mencium ibunya. “Aku sayang yang ibu.” Kemudian ia berbaring lagi. “Selamat malam”, katanya, lalu memejamkan mata. Tapi ibunya tidak segera keluar. Akhirnya ibunya berkata. “Aku juga sayang padamu.” Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy. “Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,” katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy tertawa. “Baiklah,” katanya. Dan ia memang tak pernah lupa lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil bayinya menjadi merah. Dan setiap kali ia pulang ke rumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah “Mana ciuman untukku?” Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, “Aku sayang padamu. Kau tahu itu, bukan?” “Ya,Bu,” kata Cindy. “Sejak dulu aku sudah tahu.”
Cindy mengalami perubahan dalam dirinya. Dari menginginkan ciuman sebagai tanda kasih; ia memutuskan untuk menjadi pemberi ciuman tanda kasih kepada orang tuanya. Ia berjuang melakukan tanda kasih, memberi ciuman kepada orang tuanya meski tidak pernah mendapat balasan. Dan akhirnya, ia menyatukan orang tuanya dan anaknya sendiri dalam budaya kasih, saling menunjukkan kasih dalam ciuman satu kepada yang lain.

Bukan kah itu kuasa Tritunggal Kudus dalam hidup Cindy? Bukankah itu juga yang dapat kita alami dalam hidup kita; dalam relasi kita dengan Allah dan sesama? Allah mengubah keinginan dan kebutuhan kita untuk mencari kebutuhan diri sendiri menjadi kehendak, usaha dan perjuangan untuk mewujudkan kasih kepada sesama dan menemukan sukacita dan menyatukan dalam perjalanan hidup kita. Itu kehadiran Allah Tritunggal dalam hidup kita. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.