Miskin, Ini Memang Sudah Nasib atau Salah Pilih Bersikap?

SERING kita diimbau harus berempati, mengasihani orang miskin yang ada di sekitar kita. Namun, pernahkah kita secara ‘nakal’ kepikiran seperti  ini:  apakah kondisi kemiskinan yang dialami oleh orang miskin itu benar-benar memang nasibnya begitu atau justru merupakan pilihan dia?

Mari sejenak kita perhatian saudara-saudara kita yang ‘miskin’ seperti kuli bangunan, buruh tani, pengamen, pekerja borongan lepas serta berbagai ‘profesi’ lain yang notabene masuk dalam kategori pekerjaan berpenghasilan rendah. Bisa jadi mereka hanya mampu menghasilkan tak lebih dari  Rp 20.000,- sampai Rp 35.000,- /hari.

Namun, saya mau berpikir sedikit ‘out of the box’.

Saya heran juga kalau mendapati mereka ini lebih banyak menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang konsumtif sifatnya: merokok tanpa henti. Taruhlah satu bungkus rokok seharga Rp8.500,00 maka itu berarti mereka sudah ‘membakar’ 24,3% sampai dengan 42,5% penghasilan mereka tiap harinya.

Jadi ilustrasi sederhana ini cukup menggambarkan, betapa mereka ini tanpa sadar telah sengaja ‘memilih’ jalan hidupnya sebagai orang miskin.

Perilaku

Saya juga ingin membagikan pengalaman saya dalam memperhatikan cara hidup dan attitude dari orang–orang yang sering kita anggap berada dalam kemiskinan. Dahulu saat perpisahan SD, kami mengadakan acara rekreasi ke Bali. Di suatu tempat rombongan wisata kami ditawari membeli kacamata hitam oleh beberapa orang pedagang keliling. Mereka menawarkan kacamata seharga Rp15.000. Ada beberapa teman saya yang membeli kacamata tersebut.

Pada saat yang sama datang sepasang turis asing juga membeli kacamata tersebut. Kepada turis itu, pedagang itu pasang harga Rp 200.000. Wow, harganya 13 kali lipat lebih mahal dari yang seharusnya. Bila mereka tidak jujur saat melakukan hal yang kecil, maka bisa dibayangkan bila mereka menjadi kaya raya dan menjalankan perusahaan super besar atau menjadi pejabat penting di pemerintahan.

Pelajaran juga saya dapatkan dari pengalaman keseharian saya dalam perjalanan bekerja. Karena setiap kali bekerja saya melalui jalan utama antarprovinsi, maka saya banyak memperhatikan attitude mayoritas sopir bus saat di jalan. Begitu ugal–ugalannya mereka dalam mengendarai bus tanpa mau memperhatikan keselamatan para penumpang dan terutama pengguna jalan lain.

Mereka banyak memberikan alasan bahwa harus mengejar setoran, sehingga mereka harus mendapatkan banyak penumpang walaupun dengan me-nomor sekian-kan keselamatan dan kepentingan orang lain. Maka bisa dibayangkan apabila mereka dipercayai menjadi seorang yang kaya dan mempunyai kekuasaan, bukankah lebih buruk dampaknya ketika mereka berambisi untuk mengejar ‘setoran’ tanpa memperhatikan kepentingan orang lain.

Ada tertulis “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Dengan kata lain, Tuhan akan mempercayakan perkara–perkara besar (beserta berkat-Nya) kepada kita apabila kita setia dan benar dalam perkara–perkara kecil yang diberikan Tuhan pada kita. Saya juga mengutip kata–kata bijak: “Layakkanlah terlebih dahulu diri anda untuk rezeki yang lebih besar, maka rezeki itu akan datang pada anda”.

Tanpa bermaksud mau menghakimi, menurut saya banyak masyarakat kalangan miskin yang ‘kurang benar’ dan tidak jujur menjalani hidupnya. Mereka  sadar sepenuhnya melakukannya. Oleh karena itu kurang tepat rasanya bila kemiskinan yang menaungi mereka dikatakan sebagai ‘nasib’.

Semua itu adalah pilihan. Bagaimana kita mengelola penghasilan yang kita dapatkan. Bagaimana attitude kita melakukan pekerjaan kita. Apabila kita telah ‘layak’ mendapatkan kehidupan yang lebih baik, maka Tuhan pasti akan mempercayakan kebaikan dan berkat-Nya kepada kita.

Semoga berkat Allah selalu menyertai kita sekalian.

Photo credit: ilustrasi (le monde)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.