Misa Vigili Paska 2016 di Sendang Sriningsih, Jali (1)


MENYINGKIR dari keramaian. Barangkali itulah keinginan saya untuk kali ini tidak mau mengikuti misa di Gereja St. Perawan Maria Bunda Kristus Paroki Wedi (Klaten) –paroki asal saya — melainkan “menyingkir” ke tlatah yang lebih “udik”. Kali ini, pilihan saya jatuh ke Gereja St. Maria Marganingsih  di  Gayamharjo atau lebih dikenal sebagai Jali, sebuah kuasi paroki yang merupakan pemekaran dari  Gereja Paroki St. Maria Diangkat ke Surga Dalem, Sawit, Gantiwarno, Klaten.


Saya memilih kapel kecil namun megah di Jali, karena siangnya saya menyempatkan diri bertemu dengan keluarga Fr. Leo Wiyadi di Gayamharjo. Oleh Frans Sunardi, paman Fr. Leo, saya dimotivasi untuk hadir di misa vigili Paska di Jali –sebuah kawasan wisata rohani yang saya akrabi sejak kecil di tahun 1975-an ketika bersama puluhan misdinar Paroki Wedi saat itu sering ziarah berjalan kaki menyusuri pematang sawah sepanjang Titang, Towangsan, Tangkisan, Gantiwarno, Mutihan, Bometen, Panggil, dan akhirnya Jali.


Jali memang sudah tidak seperti dulu lagi, ketika jalanan di sekitarnya penuh dengan lumpur di waktu hujan deras membasahi kawasan di situ. Sekarang, Jali sudah bersolek: jalanan bagus beraspal halus, rumah-rumah tembok permanen juga ada di kanan-kiri jalan menyusuri sungai kecil yang sejak dulu hingga kini tiada airnya.


Mukir –koster Pastoran Gereja Wedi tahun 1975-an yang saya kenal sejak saya masih SD— kini juga lebih bangga dengan warungnya yang lebih besar dengan barang dagangannya yang jauh lebih lengkap daripada seuplik gubug kecil di ujung pertigaan pasar tradisional di Gayamharjo. “Warung yang dulu itu sudah habis kebakar saat terjadi gempa di tahun 2006,” tuturnya.


Jali kini jauh lebih mempesona. Juga ketika Jali dengan Gereja Maria Marganingsih-nya sepakat mengadakan misa mirunggan (meriah) pada vigili (malam) Paska 2016 dan mengambil format liturgi berbahasa Jawa lengkap dengan iringan gamelan. Sebuah atmosfir misa Paska yang sudah lama tidak pernah saya alami dalam beberapa tahun terakhir ini. Karenanya, saya pun sangat bersemangat datang mengikuti misa vigili Paska di Gereja Maria Marganingsih Gayamharjo Jali.


Semilir angin dingin menembus gelapnya malam menyusuri jalan-jalan sempit melewati Bometen, Pasar Kepoh hingga akhirnya sampai di Jali tidak membuat saya merinding. Sebaliknya, super semangat karena jalur-jalur sempit inilah yang dulu saya akrabi bersama puluhan misdinar Wedi saat ziarah berjalan kaki dari Wedi ke Jali: sekitar 25 km jaraknya.


***


Dengan senyum mengembang di bibir sementara raut wajah menyunggingkan keramahan, saya mendapat sambutan hangat dari sejumlah bapak-ibu yang menjadi petugas among tamu di ujung masuk gereja. Lengkap dengan busana tradisional Jawa model kebaya untuk ibu-ibu sementara para bapak memakai surjan khas Yogya –itu karena Jali masuk wilayah Prambanan, DIY–  para among tamu itu menyambut tetamu Gusti Allah yang ingin melambungkan madah pujian di misa vigili Paska 2016 di Gereja Maria Marganingsih Jali.


Sejenak kemudian suasana gelap gulita menaungi seluruh gedung gereja, sesaat setelah semua lampu dimatikan untuk menantikan liturgi penyalaan lilin Paska di ujung depan gereja. Tidak ada tangis anak-anak seperti yang biasa terjadi ketika berhadapan dengan kegelapan. Yang ada hanyalah keheningan.

Jali oke1Misa vigili Paska 2016 di Gereja Kuasi Paroki Maria Marganingsih di Gayamharjo, Jali, Kec. Prambanan, DIY.

Dengan suara bariton yang sangat keras penuh ketegasan, ibadat pembuka awal misa vigili Paska diampu oleh Romo Bambang Sutrisno Pr, pastor sepuh yang sejak kecil menderita kelumpuhan di kaki kirinya. Meski sudah resmi menyandang sebagai pastor purna karya karena usia sepuh dan sering sakit, namun apa yang saya kenal dari Romo Bambang sejak tahun 1977-an nyaris tidak pernah berubah: ia tetap imam yang penuh percaya diri, tegas, suara mantap, dan pintar melawak.


Itulah sebabnya, kotbah teramat panjang oleh Romo Bambang di malam yang dingin di lembah deretan kawasan perbukitan Gunung Kidul itu tiada terkesan membosankan. Itu karena banyak ditingkahi obrolan ringan nan lucu penuh gelak ketawa –khas celotehan Romo Bambang Sutrisno Pr. Namun di balik semua celotehan ringan tersebut, imam yang menderita difabel ini memberi wawasan pengetahuan rohani yang sangat mendalam.


Pertama, apa yang di mata umum sering tidak dianggap penting namun justru di malam Paska Tuhan malah memperhitungkan mereka sebagai pihak yang penting. Kaum perempuan yang sering tidak mendapat tempat layak di alam pikir budaya Timur Tengah, kata Romo Bambang, justru menjadi pihak pertama yang menerima kabar gembira bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dari kematian.


Kedua, proses kematian menuju kehidupan –kata Romo Bambang— mengibaratkan ritme hidup manusia pada umumnya. Orang menjadi ‘sakit’ karena post power syndrome sehingga menjadi nelangsa dan merasa tidak berguna. Terhadap hal ini, pengalaman Paska mengajarkan sesuatu yang berharga. Kata Romo Bambang, jangan takut dan percayalah saja kepada Tuhan karena Dia pasti akan menunjukkan jalan. Itulah pengalaman rohani kaum perempuan yang mengalami kabar gembira tentang kebangkitan Tuhan dan  kemudian mewartakannya kepada para Rasul: Tuhan Yesus sudah mengalahkan maut yakni kematian, bangkit dari alam kubur dan memberi tugas pengutusan kepada para Murid.


***


Misa vigili Paska tidak jauh dari kisah sejarah penyelamatan umat manusia oleh karena “campur tangan” Tuhan. Sama seperti liturgi Paska di seluruh dunia, usai liturgi penyalaan lilin Paska maka bersoraklah umat katolik Jali melambungkan madah kegembiraan Paska melalui nyanyian Exultet.


Kali ini, di Gereja Maria Marganingsih Gayamharjo Jali, Exultet bermetamorfosa menjadi Sorak-sorako, para manungsa  sadaya … yang oleh iringan gending gamelan Jawa dinyanyikan dengan mengambil format cengkok tembang Jawa.  Di mulut Romo Bambang Sutrisno yang sangat fasih melantunkan tembang Jawa ini, madah Exultet yang sangat gagah itu tetap menunjukkan  kegarangannya meski terasa lebih alusan karena dilagukan menurut irama tembang Jawa.


Sejarah penyelamatan umat manusia “terekam” dengan amat indah melalui bacaan-bacaan yang tersaji dalam Kitab Kejadian, berikutnya Kitab Keluaran, dan akhirnya Surat Rasul St. Paulus dan pembacaan Injil. Di situ jelas, Tuhan berkarya dan hidup merasuk masuk dalam “sejarah” umat manusia.

Mengikuti misa vigili Paska di Gereja Maria Marganiningsih Gayamharjo, Jali dimulai dengan liturgi penyalaan Lilin Paska oleh Romo Bambang Sutrisno Pr dari Domus Pacis di Puren, Yogyakarta

Paska tidak lengkap tanpa ritual peneguhan kembali pokok-pokok iman kristiani dalam liturgi pembaharuan Janji Baptis. Oleh Romo Bambang Sutrisno Pr, umat katolik yang menyesaki setiap sudut-sudut Gereja Maria Marganingsih ditanting akan beberapa hal: nyingkur ‘setan’ dan segala manifestasinya, tetap percaya akan Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus, Roh Ilahi, persekutuan para kudus dan Gereja. Janji Baptis menjadi lebih sempurna dengan recikan air suci oleh pro-diakon, sementara Romo Bambang karena keterbatasan fisiknya yang cacat hanya duduk di panti imam.


***


Mengikuti misa viligi Paskah di Jali terasa syahdu dan indah. Pertama-tama karena lokasinya boleh dibilang ‘udik’, jauh dari keramaian, meski di jalur ketinggian lain masih ada Kapel Dawung di Serut. Kedua, atmosfir kekompakan umat kuasi Paroki Dalem ini sungguh menggigit situasi dimana semua petugas sepakat berbusana khas tradisional Jawa model Yogya, alunan musik dengan gendhing gamelan dan koor pun menyanyikan lagu-lagu rohani cengkok tembang Jawa.


Sudah barang tentu, hadirnya Romo Bambang ikut memberi aksentuasi tersendiri. Meski resmi sudah pensiun dan kini menghuni Domus Pacis – rumah residensial untuk para imam praja KAS yang sudah pensiun, sepuh di kawasan Puren ini—namun nyatanya imam diosesan (praja) KAS ini masih sangat trengginas mengolah kata dan ulasan. Meski sudah purna karya, kata Romo Bambang, kini bukannya malah pensiun ‘nganggur’ beneran tapi masih tetap berkarya menjadi pendamping dan pembimbing rohani untuk anggota masyarakat lansia di Yogyakarta.


Setiap kali misa untuk kaum lansia di Domus Pacis di Puren, katanya, jumlah umat yang harus ‘digembalakannya” bisa mencapai angka 400-an orang. “Ini sesuatu yang tidak pernah saya sangka. Dikiranya pensiun ya pensiun, ternyata masih ada job yang bisa dikerjakan sebagai imam pensiunan,” terang Romo Bambang.


Itu juga, kata Romo Bambang, merupakan pengalaman rohani menyimak misi di balik perayaan Malam Paska. Apa yang dulu terpikirkan sudah tidak ada gunanya karena usia tua, sakit, dan pensiun, tapi di kemudian hari Tuhan menunjukkan ‘lahan karya pastoral’ baru yakni menggarap iman kaum lansia.


Saya pikir, itu sungguh benar adanya. Kalau di dunia medik dikenal dokter ahli gerontologi (penyakit berhubungan dengan faktor usia tua), di panggung reksa pastoral gerejani rasa-rasanya apa yang dilakoni Romo Bambang itu menjadi sebuah pionir karya pastoral yang mesti diperhatikan oleh Gereja.


***


Misa Malam Paska di Gereja Maria Maria Marganingsih di Jali sungguh meninggalkan buah-buah rohani yang segar. Tidak terasa juga, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih dan itu pun saya harus mampir ke Pastoran Paroki Dalem untuk mengambil dokumen dari Romo Cahyo “Kokok” Handoko Pr.


Malam menjelang pergatian hari di kawasan Panggil sungguh dingin. Ketika harus menembus kegelapan malam menyusuri jalanan teramat sepi di kawasan persawahan yang amat luas, hati saya sedikit gamang. Bukan karena takut dibegal atau mendapat penampakan hantu atau apa lagi. Tapi, ini malam sudah sangat larut menjelang pergantian hari dan kantuk saya mulai menguasai diri.


Karena konsentrasi sudah merosot karena kantuk, saya pun tak sadar ketika sepeda motorku mengambil rute yang salah. Mestinya belok ke kanan menuju Mutihan, Gantiwarno, Ngering dan Wedi, namun saya malah tanpa sadar membelokkan roda motor ke kiri sesuai refleks.


Alhasil di sepanjang jalur sepi sejauh hampir 10 km ini saya tidak bertemu siapa-siapa. Ketika saya melihat sebuah plang jalan, ternyata rute ini menuju Prambanan melalui Jogonalan. Sejenak saya berhenti di jalan menunggu orang lewat. Beberapa pemotor dan mobil memang lewat, namun tak berani menghentikan kendaraan motornya. Bisa jadi takut, karena mungkin saja mereka mengira saya bukan orang baik-baik.


Akhirnya ada pasangan orangtua naik motor bersedia memperlambat laju motornya dan saya sapa dengan bahasa Jawa super halus. Karenanya dia mau berhenti total dan kemudian memberitahukan bahwa saya salah jalan dan sudah melaju 10 km dari pertigaan di Mutihan.


Saya pun balik arah menyusuri jalanan super sepi dan memang sendirian. Rasa kantuk makin bergelora ditambah semilir angin dingin hingga jaket rompi kulit yang membukus dada saya nyaris tiada menyuguhkan rasa hangat sedikit pun. Karena kantuk, di sebuah jalan menyusuri pematang sawah, mata saya tidak sigap kalau di depan mata ada ular besar tengah “menyeberang” jalan.


Ini adalah pengalaman saya kesekian, setiap kali bermotor ira pada malam hari menyusuri jalanan di kawasan persawahan dan kemudian bertemu ular yang tengah “menyeberang” jalan.  Saya sedikit kaget dan berusaha menghindar agar roda depan motor jangan sampai menabrak ular tersebut. Dan berhasil, saya mampu menghindarkan diri agar si ular jangan kaget dan bereaksi menyerang.


Hari sudah berganti waktu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 24.45 menit ketika saya masuk rumah. Tiba-tiba kantuk saya malah hilang. Untuk menulis, saya sudah kehilangan konsentrasi. Saya mencoba tidur saja.


Di hari baru yang masih pagi ini, kami mengucapkan Selamat Paska untuk para pembaca sekalian.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: